
Malam Minggu adalah malam yang paling di nanti oleh sepasang kekasih, tak terkecuali aku. Aku pun menantikannya, karena setiap malam Minggu Indra selalu mengajakku jalan-jalan.
Malam ini Indra hendak mengajakku main ke taman kota. Di sana banyak sekali pasangan muda yang sedang berduaan. Sudah jadi rahasia umum kalau tempat itu selalu di jadikan tempat pacaran.
Kami pun berjalan-jalan di taman itu. Bunga-bunga lavender terlihat rapi mengelilingi kursi-kursi taman yang terbuat dari batu dengan bentuk unik. Di tambah lampu-lampu taman yang berkelap-kelip dengan indahnya menambah pesona taman itu.
Di sebrang sana ada cilok rebus kesukaanku. Aku pun pergi ke sana untuk membeli cilok itu.
Di karenakan silau akibat lampu mobil di malam hari, aku kesulitan untuk menyebrang. Sedangkan Indra dia sedang ke toilet. Aku tidak menunggu Indra, karena dia sudah terlalu lama. Jadi aku pergi sendiri aja.
Saat aku hendak menyebrang tiba-tiba sebuah motor melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi.
CEKIIT....
.
.
.
.
AWASSSSSS!! Teriak orang-orang di sekitarku. Aku melihat ke arah motor itu, tidak sempat menghindar tiba-tiba..
.
.
.
__ADS_1
.
BRUK...
Aw..
Kepalaku membentur batu, dan ku lihat Indra...
INDRAAAAAAAA...
Dia tergeletak dengan bersimbah darah, sedangkan motor itu sudah kabur entah kemana.. Aku histeris melihat Indra terkapar di jalan.. Orang-orang menolong kami dan menelpon ambulans untuk datang ke TKP.
Aku tak henti-hentinya menangis sampai aku lupa tidak mengabari mamah, ayah dan ibu karena sama sekali tidak kepikiran. Hatiku hancur melihat kondisi Indra.
Di dalam ambulans, aku terus menggenggam tangan Indra yang masih menutup matanya. Aku sedih, aku takut benar-benar takut kehilangannya. 'Ya Allah selamatkan Indra,' begitu doaku dalam hati sepanjang perjalanan ke rumah sakit.
Ku lihat wajahnya yang tampan penuh dengan darah. Ku usap pipinya, air mataku semakin deras mengalir di pipiku yang sudah tidak bisa di bendung lagi.
Setelah sampai di rumah sakit aku meminta tolong kepada suster untuk membawa Indra ke UGD. Aku lupa bahwa aku belum mengabari mamah, ayah dan ibu. Aku pun menelpon mereka..
Semua terkejut mendengar kabar itu dan segera pergi ke rumah sakit.
Mamah dan orang tua Indra sudah sampai di rumah sakit. Aku memeluk mamah dan mataku sudah bengkak karena terus menerus menangis.
Begitu pun dengan mamah dan ibu. Ibu tidak henti-hentinya menangisi Indra anak laki-laki kesayangannya.
Aku juga melihat ayah yang sangat terpukul melihat Indra di balik kaca dengan peralatan medis di tubuhnya. Mataku sudah sangat perih, dan lebih perih lagi hatiku yang hancur. Sakit sekali hati ini.
Aku mencintaimu Indra..
__ADS_1
Aku mohon, bertahanlah.. Aku tidak mau kehilanganmu. Air mata terus mengalir deras di pipiku. Pandanganku mulai kabur, semakin kabur dan gelap..!!
....
* POV Daffa
Aku mendengar dari paman bahwa Indra mengalami kecelakaan. Aku pun segera menyusul mereka ke rumah sakit. Aku berlari untuk sampai ke ruang UGD, aku melihat paman, bibi, Maria dan ibunya berada di sana.
Saat aku berlari hendak menghampiri mereka, tiba-tiba Maria pingsan. Untung saja aku bisa menangkap tubuhnya. Aku membawanya istirahat di ruang tunggu. Matanya sembab karena terus menangis, bibi dan ibu Maria pun tiada hentinya menangis.
Ku lihat wajahnya yang imut terlihat kusam, bibirnya pucat dan matanya sembab. Aku menunggu Maria di ruang tunggu bersama ibunya, sedangkan paman dan bibi menunggu Indra di ruang UGD..
Maria belum sadarkan diri juga, sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 22.45 WIB. Karena besok hari Minggu, aku terbiasa begadang jadi tidak mengantuk saat keadaan terdesak seperti ini.
"Mar, Mar, bangun Mar." Mencoba membangunkan Maria.
Tapi dia belum sadar juga. Ibunya mencoba terus menggosokkan minyak kayu putih ke hidungnya berkali-kali. Setelah beberapa saat dia baru sadar. Matanya yang sudah merah akibat menangis melirik ke kiri dan ke kanan.
"Mah, Indra gimana Mah?" Kata pertama yang dia ucapkan.
"Indra masih di periksa dokter sayang." Jawab ibunya.
"Ini semua salah aku mah, harusnya aku nggak usah nyebrang buat beli cilok. harusnya Indra ngga usah mendorong aku dan mengorbankan dirinya, harusnya aku aja yang mati mah." Teriak Maria.
Ibunya tersentak kaget mendengar ucapan Maria, di peluknya Maria dengan penuh kasih sayang seorang ibu. "Sayang, semua sudah takdir Allah, kita tidak bisa mengubahnya jika itu sudah takdir yang di berikan untuk kita. Kamu jangan pernah ngomong seperti itu lagi. Sabar sayang."
Maria bergeming.
Terus menatap kosong ke depan, seperti tidak ada lagi semangatnya untuk hidup.
__ADS_1
* POV Daffa End
...****************...