INSECURE, Cinta Masa Lalu

INSECURE, Cinta Masa Lalu
Membuatnya merasa iri


__ADS_3

Aku mengambil minum ke dapur dan meninggalkan mereka berdua. Saat aku hendak kembali membawa minuman, aku mendengar Kak Tiara bertanya kepada Kak Ivan mengenai perasaannya kepadaku. Apa maksud Kak Tiara bertanya seperti itu?


Kenapa Kak Tiara menginterogasi Kak Ivan di saat tidak ada aku? Tapi aku tidak bisa berprasangka buruk kepada Kak Tiara. Aku pun percaya dan yakin kalau Kak Ivan tidak akan pernah menduakan aku apapun yang terjadi. Aku bisa merasakan Ketulusan cinta Kak Ivan kepadaku


Bahkan aku yakin cintanya padaku sama besar seperti cintanya Indra kepadaku. Aku pun datang menghampiri mereka dan meletakkan gelas di meja.


"Di minum dulu Kak." Aku membawa dua gelas jus jeruk untuk mereka.


Kak Tiara meminum itu begitupun dengan Kak Ivan. Tapi saat Kak Ivan akan meminum jus itu, dia malah memberikannya kepadaku.


"Sayang, kamu dulu yang minum. Kamu juga haus kan? Kenapa cuma buat dua gelas aja." Ucap Kak Ivan sambil menyerahkan gelas itu kepadaku.


"Tidak Kak. Kakak saja yang minum." Aku menolaknya tapi Kak Ivan terus memaksa.


"Aku tidak akan minum ini kalau kamu tidak minum juga." Ancamnya dengan nada yang lembut.


Haduh Kak, kenapa pasang mode manja gini sih lagi ada orang lain loh.


Akhirnya aku pun mau meminum itu.


Kak Ivan tersenyum bahagia. "Gitu dong. Sekarang aku minum ya." Lalu Kak Ivan meminum bekas minumanku.


Aku lihat Kak Tiara yang di depanku seperti kesal melihat keromantisan kami berdua. Membuatku menjadi tidak enak kepadanya.


"Kak Ivan mau pulang jam berapa?"


"Tunggu Mamah pulang aja. Aku khawatir sama kamu kalau aku pulang sekarang."


"Terus tugas kuliahnya gimana?"


"Nanti malam akan aku kerjakan sayang."


"Oh ya udah kalau gitu."


Suasana menjadi hening kembali.

__ADS_1


Krik, Krik, Krik..


"Apa Kak Tiara sudah lebih baik?" Tanyaku memecah keheningan.


"Sudah Maria. Maaf ya Kakak merepotkan mu."


"Sebenarnya apa yang terjadi Kak?" Aku mencoba untuk bertanya lagi kepada Kak Tiara.


Aku yang duduk di samping Kak Ivan, mendengarkan cerita Kak Tiara yang berada di depan kami. Kak Tiara menceritakan semua yang terjadi di dalam rumah tangganya. Sambil terisak-isak, Kak Tiara mengaku menyesal telah mempercayai pria seperti Kelvin itu.


"Itu kenapa tadi aku bertanya kepada kekasihmu Maria, apa dia benar-benar mencintaimu? Karena aku takut kamu bernasib sama sepertiku. Dulu sikap Kelvin pun begitu sama Kakak. Dia sangat lembut dan perhatian persis seperti kekasihmu ini. Tapi setelah menikah semuanya berubah."


Aku fokus mendengarkan cerita Kak Tiara, ternyata Kak Tiara peduli sama aku. Aku kira Kak Tiara punya maksud lain. Aku melirik Kak Ivan, tatapan kami bertemu dan sepertinya Kak Ivan tersinggung dengan pernyataan Kak Tiara.


"Aku tidak seperti suamimu. Tidak semua laki-laki bisa di samakan. Aku mencintai dan menyayangi Maria tulus dari dalam hatiku. Aku tidak mau kehilangannya dan aku rela menentang ayahku untuk pindah kuliah dari Kanada ke sini hanya karena aku tidak ingin jauh darinya."


"Bahkan... Aku terus menunggu jawaban Maria tiga tahun lamanya agar bisa menjadikannya kekasihku. Untuk apa aku berjuang mendapatkannya kalau hanya untuk di sakiti dan mencampakkannya. Aku tidak akan melakukan itu!!"


Kak Ivan berkata dengan perasaan yang menggebu-gebu. Dia menggenggam tanganku sangat erat. Kak Tiara menatap kami berdua tidak percaya. Ya aku juga tahu semua orang pasti tidak akan percaya kalau Kak Ivan yang tampan akan sangat mencintaiku yang jelek ini.


"Beruntung sekali kamu Maria." Ucap Kak Tiara lalu menundukkan pandangannya.


Saat aku hendak menjawab, Kak Ivan memotong pembicaraan ku.


"Bukan Maria yang beruntung mendapatkan aku, tapi aku yang beruntung mendapatkan Maria. Gadis cantik dan baik hati yang sangat mahal." Jawab Kak Ivan yang terus menggenggam tanganku dan membelai rambutku.


"Udah Kak, aku malu."


"Kenapa harus malu? Aku kan calon suami kamu. Aku akan melamar mu sebentar lagi."


Wajahku bersemu merah karena malu. Kak Ivan benar-benar tidak tahu tempat dimana harus romantis dan biasa saja.


Setiap saat ketika sedang berada di dekatku, Kak Ivan selalu menunjukkan keromantisannya. Walaupun terkadang membuatku tertawa karena tingkah konyolnya.


Dan itu bukan sifat Kak Ivan sama sekali. Tapi karena kekuatan cintanya padaku, sedikit demi sedikit Kak Ivan mau merubahnya.

__ADS_1


'Aku sangat menyayangimu Kak, semoga perasaan Kakak seperti ini selamanya. Aku sangat berharap, tidak akan pernah kehilangan pria yang aku sayang untuk kedua kalinya.' Maria.


***


"Assalamualaikum.." Sepertinya itu suara mamah.


"Waalaikumsalam.." Jawab kami bertiga.


Mamah nampak terkejut melihat Kak Tiara ada di rumah. Lalu aku menceritakan bagaimana aku bisa bertemu dengan Kak Tiara. Mamah sangat iba kepada nasib keponakannya itu. Dan mamah mengizinkan Kak Tiara untuk tinggal sementara bersama kami.


Waktu sudah hampir senja, Kak Ivan pamit pulang dan aku mengantarnya sampai ke depan rumah. Sebelum Kak Ivan naik mobilnya, dia memberikanku amplop coklat yang entah apa itu isinya aku nggak tau. Tapi Kak Ivan berbisik dan berkata,


"Itu uang jajan untukmu sebulan. Maaf aku baru bisa memberikannya sekarang."


(Terkejut) "Hah? Kak, apa-apaan ini, nggak usah. Aku masih punya uang sendiri kok. Kakak kan belum menjadi suamiku dan aku belum menjadi tanggungjawab Kakak." Aku menolaknya karena belum ada ikatan di antara kami berdua.


"Nggak apa-apa sayang. Mulai sekarang kamu jangan minta uang jajan sama mamah ya. Minta sama aku aja, aku kan calon suami kamu."


"Tapi Kak..."


Kak Ivan mencium pipiku dengan satu kecupan hangat. Dan dia tersenyum. Aku mendengus kesal.


"Kakak, kenapa sih selalu kayak gitu.. Itu dosa Kak. Kita belum halal. Kenapa Kakak suka sekali mencium aku?"


"Makanya sebentar lagi Kakak akan menghalalkan kamu. Biar ga dosa dan bisa cium tiap hari. Oke." Kak Ivan mengedipkan sebelah matanya.


Uwuu.. Tampan sekali kalau Kak Ivan tersenyum bahagia seperti itu. Makin cinta aku tuh..


Kak Ivan pamit dan langsung naik mobilnya. Aku jadi kepikiran, apa benar itu mobil temennya atau mobil Kak Ivan. Kalau dari tampang sih cocok banget Kak Ivan jadi orang kaya. Tapi kalau Kak Ivan orang kaya kenapa dia nggak jujur sama aku?


Ah besok aja lah aku tanya.


Aku pun masuk ke dalam rumah dan melihat Kak Tiara ada di depan pintu. Aku jadi malu apa dia lihat waktu Kak Ivan mencium pipiku tadi? Haduh, gimana ya.. Kak Ivan sih suka nyosor mulu nggak tau tempat. Kayaknya aku harus menyetujui masalah lamaran itu. Biar nggak terus nambah dosa.


"Mar, aku iri sama kamu. Kamu bisa mendapatkan pria tampan yang tulus sayang sama kamu. Nggak seperti aku "

__ADS_1


Ucapan Kak Tiara membuatku bingung untuk menjawab apa. Aku hanya tersenyum dan pergi meninggalkannya.


...****************...


__ADS_2