
Aku sudah bersiap-siap untuk pergi bersama Kak Ivan hari ini. Katanya hari ini Daffa, Silvi dan Kak Aldi juga akan ikut main ke Situ Patenggang. Aku senang sekali Daffa bisa ikut, aku jadi kangen sama dia.
Sekarang aku jadi sedikit menjauh dari Daffa sejak aku berpacaran dengan Kak Ivan. Begitupun sebaliknya, Daffa semakin menjauh sejak berpacaran dengan Silvi. Daffa yang selalu ada saat aku terpuruk atas kehilangan Indra, dia yang selalu menghiburku dan sekarang aku tidak memiliki sahabat sebaik Daffa lagi.
Saat aku sedang merapikan baju yang aku pakai, terdengar suara Daffa mengucapkan salam dan sepertinya mamah sudah membukakan pintu,
"Eh, ada Daffa.. Mau main ya? Maria udah cerita semalem katanya mau ke Situ." Ucap mamah yang terdengar sampai ke kamarku.
"Iya mah, aku di ajak Ivan buat ikut ke sana." Jawab Daffa
Aku pun keluar kamar dan menemui Daffa.
"Daffa, udah nyampe aja.. Oya, Silvi mana?" Tanyaku kepada Daffa.
"Daffa, masuk dulu." Ucap mamah. Daffa pun duduk di sofa, sedangkan mamah ke dapur mengambil minuman untuk Daffa.
"Daffa, kamu kenapa? Silvi mana?" Tanyaku lagi.
"Aku udah putus sama dia Mar." Jawab Daffa dengan raut wajah yang sedih.
"Hah? Kenapa? Kok bisa?" Aku terkejut dengan ucapan Daffa itu.
"Dia ninggalin aku demi laki-laki yang lebih kaya dan lebih segalanya dari aku." Ucap Daffa.
"Serius kamu? Udah berapa lama kamu putus? Pantesan aja sekarang di sekolah dia cuek banget sama aku. Udah hampir seminggu ini dia nggak nyapa aku."
Saat aku mengobrol dengan Daffa, Kak Tiara menghampiri kami.
"Maria, ini tas kamu tadi ada di tangga. Kenapa nggak di bawa?" Ucap Kak Tiara.
"Eh maaf Kak, tadi aku lupa.." Jawabku.
"Ya udah, Kakak mau ikut Tante Rani ke pasar dulu ya Mar."
"Iya Kak.. Aku juga bentar lagi berangkat, nunggu Kak Ivan dulu." Jawabku.
Tidak lama kemudian mamah datang membawa minuman untuk Daffa dan sudah bersiap pergi ke pasar dengan Kak Tiara. Sedangkan aku dan Daffa masih di ruang tamu menunggu Kak Ivan datang.
__ADS_1
Setelah mamah dan Kak Tiara pergi aku kembali bertanya kepada Daffa.
"Daffa, kamu serius Silvi selingkuh? Aku merasa itu tidak mungkin. Aku tahu Silvi gimana orangnya." Aku terkejut mendengar penjelasan Daffa.
Karena setahuku Silvi itu orangnya baik. Dia tidak mungkin menyakiti Daffa.
"Iya aku serius!! Aku liat sendiri kalau dia lagi bermesraan sama cowok itu, dia sedang berciuman di rumahnya waktu aku ke sana. Aku juga nggak nyangka dia kayak gitu Mar, wajah polosnya ternyata cuma dusta. Sudahlah Mar, aku tidak mau mengingat cewek seperti itu lagi. Aku mau punya pacar..... Kayak kamu." Ucap Daffa yang membuatku sangat terkejut setengah mati.
"Maksud kamu Daf?"
"Iya, kamu sangat setia sama Indra. Walaupun dulu Ivan udah ngejar-ngejar kamu tapi kamu nggak berniat tinggalin Indra. Kamu bahkan butuh waktu yang sangat lama untuk menerima Ivan jadi pacar kamu. Padahal Ivan itu anak pengusaha kaya raya, dia penerus perusahaan ayahnya. Jelas Indra kalah dari segi materi, tapi kamu dengan tegas menolaknya." Ucapan Daffa yang membuat hatiku menjadi berdegup kencang.
Penjelasan Daffa membuatku ternganga.
"Apa? Kak Ivan orang kaya? Kata siapa? Kenapa aku tidak tahu kehidupan Kak Ivan?" Ucapku sambil menahan rasa bersalahku.
Karena selama ini aku tidak pernah mencari tahu kehidupan Kak Ivan, aku tidak tahu siapa orang tuanya, apa Kak Ivan punya adik atau engga, tentang dirinya aku tidak tahu sama sekali.
Sedangkan Kak Ivan mengetahui semua tentang aku. Kak,, aku merasa tidak pantas menerima semua cinta dan kasih sayang Kakak yang besar untukku itu. Pantas saja Kakak begitu kecewa saat aku masih menangisi kepergian Indra. Pantas saja Kakak merasa kalau aku tidak mencintaimu, karena memang aku tidak tahu kehidupanmu Kak, aku tidak tahu semua tentang kamu.
Ya Allah, kenapa aku baru tahu sekarang Kalau Kak Ivan itu orang kaya, kenapa aku baru tahu kalau Kak Ivan penerus perusahaan ayahnya. Kenapa harus Daffa yang tahu sedangkan aku tidak tahu menahu. Padahal aku pacarnya, harusnya aku tahu tentang kehidupan Kak Ivan.
"Memang kamu nggak tahu kalau Ivan itu orang kaya?"
Tanya Daffa yang mendekatkan wajahnya ke arahku.
"Aku nggak tahu apapun tentang Kak Ivan, Daf.." Ucapku lirih..
Dan ketika aku menundukkan kepalaku, suara Kak Ivan terdengar di ambang pintu.
"Assalamualaikum." Ucap Kak Ivan dan Kak Aldi.
Seraya aku dan Daffa melihat ke arah mereka berdua.
"Kenapa? Kok kalian lihat aku kayak gitu?" Tanya Kak Ivan yang heran dengan tatapan kami berdua. Sedangkan Kak Aldi seperti bingung dan salah tingkah harus bagaimana.
"Van, duduk dulu sini." Ucap Daffa, dan sekarang Daffa menjauh dariku dan duduk di samping Kak Aldi.
__ADS_1
Sekarang Kak Ivan duduk di sampingku, melihatku yang sedang menatapnya penuh rasa bersalah.
"Kenapa sayang?" Tanya Kak Ivan lembut.
"Kenapa Kakak nggak jujur sama aku?" Ucapku sambil melihat mata Kak Ivan yang indah itu.
"Jujur apa sayang?" Tanyanya sambil menggenggam tanganku.
"Sebenernya Kakak orang kaya kan? Kakak penerus perusahaan ayah Kakak?" Ucapku, dan Kak Ivan terkejut dengan ucapan ku barusan.
Kak Ivan melirik ke arah Daffa.
"Udah saatnya Maria tau Van, siapa Lo sebenernya." Ucap Daffa.
"Maaf Maria. Aku bukannya mau membohongi kamu, aku hanya nggak mau kamu tolak aku gara-gara aku orang kaya. Aku nggak mau kamu tambah insecure dan tidak percaya diri untuk berpacaran denganku."
"Aku melakukan ini karena aku sayang sama kamu. Aku ingin memiliki kamu seutuhnya, aku mau kamu juga mencintaiku apa adanya tanpa memandang tampang dan hartaku saja." Ucap Kak Ivan.
Reflek aku memeluk Kak Ivan yang terduduk di sampingku. Aku tidak peduli dengan tatapan Daffa dan Kak Aldi yang melihatku memeluk Kak Ivan seperti itu. Kak Ivan memelukku juga, dan dia mengusap rambutku. Aku berkata,
"Maafkan aku Kak.. Maaf karena aku tidak tahu tentang Kakak, maaf karena aku terlalu egois, maaf karena aku tidak mencoba mencari tahu kehidupan Kakak, maaf karena aku yang tidak pernah mengerti perasaan Kakak.. Maafkan aku.." Ucapku sambil menangis di pelukan Kak Ivan.
"Udah, nggak usah nangis sayangku.. Aku yang harusnya minta maaf sama kamu. Aku nggak jujur sama kamu, aku udah bohongin kamu soal status ekonomi aku." Jawab Kak Ivan.
"Makasih Kakak udah selalu ngertiin perasaan aku. Aku sayang Kakak tidak liat dari harta atau wajah Kakak yang tampan, tapi aku tulus sayang sama Kakak." Ucapku sambil melepaskan pelukanku dari Kak Ivan.
"Ehem, ehem.. Kapan nih kita berangkat?" Ucap Kak Aldi mengejutkanku yang sedang mesra-mesraan dengan Kak Ivan.
Daffa yang melihat ke arahku tersenyum getir, aku paham hatimu Daffa. Aku peka kalau kamu ada rasa sama aku, tapi aku tidak bisa menerima cintamu karena aku nggak cinta sama kamu.
Aku peka saat kamu memelukku dengan lembut dan mesra saat Indra terbaring lemah di rumah sakit, aku peka saat kamu selalu ada buat aku, aku peka saat kamu mencoba untuk menggantikan posisi Indra di hatiku.
Aku sayang sama kamu Daffa, tapi sayang sebagai sahabat. Sedangkan perasaanku kepada Kak Ivan melebihi itu, walaupun tidak melebihi rasa ku kepada Indra.
Maafkan aku Daffa kalau aku tidak bisa membalas perasaanmu. Karena hati tidak akan pernah bisa untuk di paksakan. Aku hanya ingin kamu tetap menjadi sahabatku selamanya, sekarang ataupun nanti.
Semoga kelak kamu bisa mendapatkan kekasih yang tulus menyayangimu dan mencintaimu, Faisal Daffa..
__ADS_1
...****************...