INSECURE, Cinta Masa Lalu

INSECURE, Cinta Masa Lalu
Minggu yang cerah


__ADS_3

Sesampainya di rumah, aku di interogasi sama mamah. Sepertinya mamah sangat senang aku dekat dengan Indra. Tapi aku merasa tidak nyaman dengan pertanyaan mamah, karena aku tidak tahu bagaimana perasaan Indra yang sebenarnya. Apa dia sayang aku sebagai kekasih atau hanya sayang sebatas sahabat.


"Neng, tadi itu bener pacar Eneng? Ganteng, baik, sopan lagi. Mamah setuju Eneng sama si AA itu." Mamah sangat antusias sekali membicarakan Indra.


"Ih mamah... Bukan. Itu cuma temen aja bukan pacar, neng jadi malu tadi mamah ngomong gitu." Aku menepis ucapan mamah barusan.


"Tapi tadi si aa kayak yang cinta banget sama Eneng. Kirain mamah udah pacaran." Ucap mamah yang menatap mataku dengan tatapan selidik. Karena aku selalu curhat apapun kepada mamah dan tidak pernah berbohong masalah apapun.


"Nggak mah, cuma teman aja kok. Indra sahabatku, sama seperti Kia mah." Aku menjelaskan kepada mamah kalau hubungan kita hanya Sahabat.


"Ya udah kalau memang hanya sahabat, lama-lama jadi cinta loh neng." Mamah malah menggodaku, membuatku menjadi malu sendiri.


"Mamah ih.. Malu.. Eneng ke kamar dulu ya mah, banyak PR" Mamah malah tertawa melihatku.


Aku pun masuk ke kamar. Aku melihat buku latihan ku semua sudah aku isi. ahh.. gabut sekali aku, bete!! Aku merebahkan tubuh di kasur, nyaman sekali rasanya.


Aku menatap langit-langit kamar, memikirkan ucapan mamah barusan dan sikap Indra yang berbeda. Akhir-akhir ini dia terlihat sedikit agresif dan selalu menyatakan hal yang sama.


Untuk saat ini aku tidak tau perasaanku pada Indra bagaimana. Yang pasti aku mulai nyaman dekat dengannya, dia laki-laki yang sangat menghargai aku, laki-laki yang sangat baik dan pengertian.


Oh ya Indra sudah sampai belum ya. Aku mengambil ponselku dan melihat ada pesan masuk.


'Aku baru sampai Mar'


'Besok aku jemput jam 8 ya, sampai ketemu nanti.'


Aku balas SMS dari Indra.


'Iya, aku tunggu Dra.'

__ADS_1


* POV Indra


Hari yang ku tunggu-tunggu tiba juga. Hari ini aku akan menyatakan perasaanku sama Maria. Mau di terima atau di tolak aku nggak peduli yang penting aku akan selalu ada untuk dia bagaimana pun kondisinya.


Saat aku merapihkan pakaianku, ibu datang dan bertanya.


"Hati-hati ya A di sana. Jagain anak gadis orang jangan sampai kenapa-napa." Ucap ibu yang mengingatkanku untuk menjaga Maria.


"Iya bu, pasti aa jagain. Aa sayang banget sama dia Bu." Aku melihat ke arah ibu untuk meyakinkannya bahwa aku akan menjaga wanita yang aku cintai.


Aku tidak malu untuk menceritakan Maria kepada ibu. Karena ibu selalu mengerti perasaanku dan percaya padaku kalau aku tidak akan mempermainkan apalagi merusak wanita yang aku cintai, dan aku akan menjaga kepercayaan ibu padaku.


"Ajak main ke rumah dong A. Kenapa nggak pernah di ajak kesini?" Ucapan ibu yang dari dulu menyuruhku untuk membawa Maria ke rumah.


"Belum resmi pacaran Bu. Kalau udah jadi nanti di ajak main kesini. Aa berangkat sekarang ya Bu. Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Aku berpamitan kepada ibunya Maria dan kita berangkat segera naik angkot.


* POV Indra En****d


Sepanjang perjalanan aku tidak berkata apa-apa. Sama hal nya dengan Indra. Tapi kenapa hari ini Indra terlihat sangat gugup ya seperti ada beban di hatinya, apa aku tanya duluan aja ya sama dia.


"Kamu kenapa kayak gugup gitu, nggak kayak biasanya." Tanyaku yang memulai pembicaraan dengannya..


"Oh, nggak apa-apa. Emang aku keliatan kayak yang gugup ya? Masa sih?" Ucap Indra yang memalingkan wajahnya ke luar.


Tumben dia tidak menatap mataku dan malah memalingkan wajahnya, kenapa ya?

__ADS_1


"Iya dari tadi kayak yang gelisah mikirin sesuatu. Ada apa? Cerita dong sama aku." Aku memaksanya untuk bercerita kepadaku, tapi Indra hanya tersenyum saja.


Dia mengelus punggung tanganku, aku melepaskan tangan Indra yang berada di atas tanganku. Aku malu kalau ada orang yang melihatnya.


"Nanti pas udah sampai curug aku cerita deh." Indra memejamkan matanya dan menarik nafas panjang, seperti sedang mempersiapkan sesuatu untuk berbicara.


Aku terus memandanginya karena sikapnya yang terlihat aneh tidak seperti biasanya. Hari ini dia lebih pendiam dan tidak banyak drama. Biasanya dia akan terus menggodaku dan bertingkah konyol, tapi hari ini dia terlihat sangat serius. Satu hal yang tidak berubah darinya, mau serius atau konyol wajahnya tetap tampan.


Ketampanan Indra membuat para penumpang lainnya selalu melirik ke arah kami berdua. Apalagi para wanita yang terus saja memandang wajah tampan Indra. Apa Indra tidak terganggu ya dengan tatapan kagum mereka?


"Dra, itu orang-orang pada lihatin kamu." Aku berbisik kepada Indra yang berada di depanku.


"Biarin aja," Jawabnya cuek.


"Apa kamu nggak risih?" Masih berbisik kepadanya.


"Udah biasa dari dulu selalu kayak gini Mar."


Aku hanya terdiam mendengar jawaban Indra. Dan sepertinya Indra sudah terbiasa dengan hal tersebut dan tidak merasa terganggu oleh orang-orang yang selalu melihatnya dengan tatapan kekaguman.


Tak berselang lama kami pun sampai di tempat tujuan. Indra membeli karcis di loket sedangkan aku menunggunya di depan gerbang masuk.


Sebelum masuk kami mendapat peringatan dari penjaga tempat itu di antaranya, jangan buang sampah sembarangan, jangan berbicara yang kasar, jangan melakukan onar, selalu berdoa dan jika terjadi suatu hal yang tak di inginkan lapor segera ke petugas yang ada di setiap pos nya.


Pos yang di maksud adalah warung-warung yang berada di atas sana. Biasanya setiap warung selalu ada satu petugas jaga, bisa untuk singgah kalau kita capek atau lapar. Kalau tidak ada warung di sepanjang jalan ke Curug, sudah pasti tidak akan ada yang sampai ke puncaknya.


Jadi Curug ini berada di atas. Bukan yang paling atas sih, sebab kalau ke Curug yang paling atas aku nggak akan mampu. Baru ke Curug yang pertama aja sudah ngos-ngosan, apalagi sampai ke Curug paling atas.


Jadi di tempat ini Curug nya ada 5, jarak tiap Curug itu sangat jauh. Jalanan yang di tempuh pun banyak rintangan nya yang dapat memacu adrenalin. Jalanan nya terjal yang makin ke atas makin curam dan seram, katanya. Ya kata orang yang sudah pernah ke sana dan lagi memakan waktu yang cukup lama.

__ADS_1


Kami mengangguk tanda mengerti penjelasan petugas tadi. Petualangan pun di mulai di hari Minggu yang cerah ini.


...****************...


__ADS_2