
POV Ivan
Aku melihat Maria tergeletak pingsan di lantai. Aku terkejut dan panik, aku segera membawanya ke sofa dan mengusap lembut kepala dan pipinya. "Sayang, kamu kenapa. Bangun."
Aku mencari minyak kayu putih untuk membangunkannya. Tanpa sengaja aku menginjak kertas yang ada di lantai. Ketika aku mengambilnya, aku semakin panik. Karena yang ku temukan itu surat dari Kayla. Apa karena ini Maria pingsan?
Kalau memang benar Maria pasti akan sangat marah kepadaku. Apa yang harus aku lakukan? Aku sibuk mencari minyak kayu putih di lemari ku, di meja dan di kotak obat, mengesampingkan dulu masalah Maria marah atau tidak yang penting dia bangun dulu.
Aku menemukan minyak kayu putih di kotak obat. Aku segera mengusapnya ke hidung Maria. Dia terbangun dengan mata yang berlinang. Aku mengerti perasaannya bagaimana tapi aku tidak tau apa yang harus aku lakukan waktu itu.
"Kak, kenapa Kakak nggak bilang ini?" Ucapnya dengan suara yang sangat parau.
"Aku.. Maaf Maria. Aku hanya nggak mau kamu sedih lagi. Aku juga nggak nyangka Kayla bisa senekat itu untuk bisa mendapatkan Indra." Jawabku dengan wajah tertunduk karena merasa bersalah kepadanya.
"Tapi Kak, apa Kakak tau kalau ini lebih menyakitkan untukku. Bertahun-tahun aku menyalahkan diriku sendiri atas kematian Indra. Apa Kakak nggak tau betapa hancur hati aku pada saat itu. Aku tidak punya lagi semangat hidup karena kehilangannya."
"Aku ngerti sayang, aku sangat mengerti. Andai saja aku tahu rencana jahat Kayla, aku pasti akan menghentikan nya. Dan lebih baik kalau aku saja yang mati karena tidak akan ada orang yang merasa kehilanganku saat aku tiada."
Aku mencengkram dadaku yang terasa sangat sakit saat mengucapkan itu. Aku tau Indra takkan pernah terganti di hati Maria sampai kapan pun. Walaupun dia sudah mencintaiku tapi namanya tetap terukir di relung hati terdalamnya.
Aku seperti memiliki raganya saja. Tapi tidak dengan hatinya yang terbagi dua.
Indra, kau sangat beruntung pernah menjadi bagian dari hidup Maria. Dia sangat amat mencintaimu bahkan walaupun kamu telah tiada tapi tidak melunturkan rasa cintanya padamu.
"Kak, Aku benar-benar kecewa sama Kakak." Ucap Maria tiba-tiba. Terlihat bulir air mata membasahi pipinya yang halus. Aku benar-benar tidak tega melihatnya menangis seperti itu.
__ADS_1
"Sayang, aku minta maaf." Hanya itu yang bisa aku ucapkan saat ini. Aku berjongkok di samping Maria yang terbaring di sofa dan menundukkan kepalaku.
Maria bergeming. Dia tidak menatapku sama sekali, pandangannya ke atas. Lalu dia bangun dan duduk di sofa itu sambil menatap wajahku yang tertunduk.
"Kak." Panggil Maria.
Aku menengadahkan kepalaku dan menatap matanya yang indah itu telah di penuhi oleh bulir air mata yang menetes sampai di tanganku yang sedang menggenggam tangannya.
"Sayang, aku tidak bermaksud menyembunyikan ini darimu. Hanya saja aku ingin kamu mempunyai semangat hidup dan membuka lembaran baru bersama laki-laki yang sangat menyayangimu lebih dari apapun, laki-laki itu adalah aku. Kamu lihat? Aku sangat sayang sama kamu."
"Aku tidak pernah memintamu untuk melupakan Indra. Aku terima kalau kamu masih menyayanginya. Tapi bisakah kamu mengerti sedikit saja perasaanku Mar. Aku merasa saat ini aku hanya memiliki raga mu saja tapi tidak dengan hatimu." Aku melepaskan genggaman tanganku dengannya lalu beranjak untuk pergi. Aku berjalan menjauhi Maria.
Sebenarnya aku tidak bisa menerima kalau wanita yang aku cintai masih mengukir nama mantan di hatinya. Aku tidak cemburu apalagi Indra sudah tiada. Hanya saja aku ingin Maria fokus untuk kehidupannya saat ini. Bersamaku.
POV Ivan End
Aku beranjak dari sofa dan berlari mengejar Kak Ivan. Aku reflek memeluknya dari belakang lalu aku mengatakan kalau aku mencintainya.
"Aku menyayangimu Kak. Aku mencintaimu." Aku mempererat pelukanku. Kak Ivan membalikkan badannya dan mengusap air mataku. Lalu dia memelukku lagi, walaupun aku harus berjinjit untuk memeluk Kak Ivan, tapi aku tidak peduli. Aku tidak mau kehilangan orang yang aku sayang untuk kedua kalinya (LAGI).
"Aku lebih menyayangi dan mencintaimu Maria." Ucap Kak Ivan sambil mengusap rambutku dan mencium kepalaku. Aku mendongakkan kepalaku dan menatap matanya yang indah itu. Mata yang membuatku merasakan rindu yang teramat sangat.
Aku tersenyum melihatnya dan aku meminta maaf kalau selama ini aku yang terlalu egois padanya dan tidak mengerti perasaannya. Aku selalu saja menceritakan tentang Indra, iya memang itu salahku. Aku kira Kak Ivan tidak akan merasa sakit kalau aku menceritakan Indra, tapi ternyata aku salah.
Sekarang aku akan menjaga hatinya agar tidak merasakan sakit yang sama. Agar kami bisa hidup bahagia selamanya. Biarlah kenangan tentang Indra hanya ada di dalam hatiku.
__ADS_1
"Sayang, aku minta maaf tidak memberitahumu tentang ini. Apa kamu masih marah?" Tanya Kak Ivan.
Aku menggelengkan kepalaku dan Kak Ivan bahagia mendengarnya. Aku bisa merasakan cinta yang tulus dari Kak Ivan. Cinta yang teramat besar untukku dan aku tidak mau Kak Ivan berpaling kepada wanita lain yang lebih cantik dan bisa membuatnya nyaman.
Aku akan membuat Kak Ivan nyaman berada di sampingku. Agar dia tidak melepaskan aku demi wanita lain. Dan aku pastikan itu tidak akan pernah terjadi.
Kak Ivan mulai sekarang aku akan membuka lembaran baru bersamamu. Bersama pria tampan dingin dan cuek yang menjelma menjadi seorang pria tampan hangat dan penuh perhatian.
Aku sungguh merasa beruntung memiliki kalian berdua di hidupku.
Indra adalah pria yang sangat aku cintai di masa lalu. dan Kak Ivan adalah pria yang sangat aku cintai di masa kini dan masa depan.
"Semoga saja memang kamu jodohku Kak. Jangan pernah berpaling dariku demi wanita yang lebih cantik dan lebih segalanya dariku."
Kak Ivan melepaskan pelukannya dan menatap mataku sambil tersenyum manis yang membuat siapapun merasa terpikat dengan senyumannya itu.
"Tidak ada wanita lain di hati ini Maria. Sampai kapan pun seumur hidupku hanya kamu. Kamu yang bisa membuatku menunggu jawaban atas pernyataan cintaku selama 3 tahun lamanya."
"Hanya kamu yang membuatku menyatakan cinta sampai 6x dan terus memperjuangkan mu sampai saat ini. Dan sekarang aku sangat bahagia bisa bersamamu."
Satu kecupan mendarat di pipiku dari bibirnya membuatku menjadi malu. "I Love you sayang" Ucapnya kepadaku.
"I love you too sayang." Jawabku sambil tersenyum.
"Semoga kita selamanya bersama hingga akhir waktu. Aku dan kamu menjadi kita." Doa Kak Ivan.
__ADS_1
...****************...