
Seminggu kemudian...
Aku sudah mengetahui kondisiku dari mamah, aku tidak menyesalinya sama sekali. Aku rela menjadi seperti ini asalkan aku tidak kehilangan Kak Ivan seperti aku kehilangan Indra dulu. Aku bahkan merasakan cinta kak Ivan yang semakin kuat kepadaku meskipun kondisiku yang tidak normal.
Lidahku terasa sangat Kelu saat berusaha untuk berbicara, tapi setiap hari aku berlatih sendiri mengucapkan satu persatu kata dan di bantu juga oleh mamah. Terkadang aku merasa menyesal tidak bisa menyelamatkan Indra waktu itu. Hatiku masih saja mengingat Indra. Walaupun aku sudah sepenuhnya mencintai Kak Ivan, tapi aku merasa sangat sulit untuk move on dan melupakan Indra.
Saat aku melamun, suara Kak Ivan terdengar di ambang pintu. Aku menoleh dan tersenyum melihat kedatangan Kak Ivan yang semakin membaik kondisinya di bandingkan saat pertama aku tersadar dari koma. Kak Ivan sudah kembali menjadi Kak Ivan yang ceria dan bersemangat lagi dan aku semakin mencintainya.
"Assalamualaikum sayang.. Gimana keadaanmu hari ini yank?" Kak Ivan menghampiriku yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
Aku mengedipkan mataku dan tersenyum kepada Kak Ivan, pertanda kalo aku baik-baik saja.
"Yank.. Aku udah bilang sama ayah dan ibu, kalo aku akan menikahi kamu bulan depan. Mereka setuju, aku tinggal bilang ke mamah sekarang ya." Ucapan Kak Ivan benar-benar membuatku terkejut.
Aku segera menulis di buku untuk menyampaikan pendapatku tentang ini.
"Tapi Kak, kondisiku belum 100% pulih.. Aku masih belum normal seperti dulu lagi. Apa kakak gak malu punya istri kayak aku yang ga bisa ngomong gini?" Aku memberikan tulisan itu kepada Kak Ivan.
Kak Ivan yang duduk di sampingku hanya tersenyum dan mengelus rambutku.
"Aku gak akan malu sayang.. Aku terima kamu apa adanya, mau kamu gimana pun aku akan selalu mencintai dan menyayangi kamu sampai kapan pun karena.. Bahagiaku adalah kamu!!" Kak Ivan mencium rambutku.
Hatiku berdebar-debar saat Kak Ivan berkata seperti itu.. Mungkin menurut orang lain itu lebay, tapi menurutku tidak sama sekali.. Aku bisa merasakan perasaan Kak Ivan yang sangat tulus itu kepadaku.
Terima kasih Kak.. Terima kasih atas cinta dan kasih sayang yang sudah kakak berikan kepadaku.. Aku sudah tidak mampu lagi mengekspresikan perasaanku sekarang, aku sangat bahagia..Bahagia di cintai oleh pria sebaik dan setulus kakak..Aku juga mencintaimu kak, sangat mencintaimu..
I love you so much sayang..
***
POV Zain
Hari ini aku akan ke rumah Kia untuk memberikan kejutan kepadanya.. Aku akan memberikan cincin kepada Kia dan bertanya apakah Kia mau bertunangan denganku atau tidak? Sebenarnya aku ingin segera menikahinya, tapi ibu menyarankan kepadaku untuk bertunangan dulu.
__ADS_1
"Assalamualaikum." Aku mengucapkan salam di depan rumah Kia.
"Waalaikumsalam." Jawab seseorang sambil membuka pintu.
"Nak Zain, silahkan masuk." Aku pun salam kepada ibunya Kia dan duduk di kursi.
"Terima kasih Bu." Jawabku.
"Kia lagi masak tunggu sebentar ya ibu panggilkan dulu." Ibu Kia pergi ke dapur sedangkan aku masih ruang tamu.
Tidak lama kemudian Kia datang.
"Zain.. Kesini kok gak SMS dulu sih?" Ucap Kia.
"Surprise... Aku mau ajak kamu main keluar, mau ga?"
"Kemana?
"Jalan-jalan ke taman kota aja sayang, ayo cepetan.. Nanti keburu magrib."
Kia pun masuk kamar untuk berganti baju sedangkan aku meminta izin kepada ibunya Kia. Kami pun berangkat naik motor.
Aku mengajak Kia ke taman karena suasana nya enak untuk mengobrol. Sampai di sana kami berdua duduk di kursi taman. Mendadak aku menjadi sangat gugup untuk memberikan hadiah ini kepada Kia.
"Kamu kenapa Zain?" Tanya Kia yang heran melihat tingkahku.
"Oh aku ga apa-apa kok." Jawabku.
"Gimana kabar Maria sekarang? Apa sudah lebih baik? Aku pengen nengok dia, kapan kita pergi ke rumah Maria?"
"Lusa kita ke sana ya.. Kamu ada waktu ga?"
"Iya ada.. Aku tunggu ya Zain." Kia tersenyum kepadaku.
__ADS_1
Setelah berkata itu, kami berdua hanya diam. Tidak ada kata yang terucap dari bibir kami. Aku mencoba memanggil namanya, "Kia.."
"Apa Zain?"
"Aku.. aku punya sesuatu buat kamu.. Terima ya.." Aku mengeluarkan sebuah kotak cincin yang sudah di bungkus kado dan memberikannya kepada Kia.
"Buka yank." Kia terheran-heran melihat kotak itu, dia membukanya dan dia sangat terkejut melihat isinya.
"Apa maksudnya ini Zain?" Tanya Kia.
"Aku mau serius sama kamu Kia.. Aku mau kita tunangan, apa kamu mau tunangan sama aku?" Pertanyaan ku membuat Kia semakin bingung.
"Aku malu Zain, aku merasa kalau aku gak pantes buat kamu yang nyaris sempurna tanpa cela. Sedangkan aku cuma gadis miskin yang ga ada kelebihannya sedikitpun. Banyak sekali kekuranganku, bahkan aku selalu minder setiap kali kita jalan dan orang-orang melihatku dengan tatapan anehnya."
Kia berdiri dan hendak meninggalkan aku di taman, tapi aku menahan lengannya. Kia menangis dan menundukkan kepalanya, dia tidak mengucapkan apapun lagi. Aku pun bangkit dan menatap matanya..
"Sayang, kenapa kamu ngomong kayak gitu? Aku gak peduli apa kata orang, Aku sayang sama kamu tulus, aku masih bertahan sama kamu sampai sekarang karena aku merasa nyaman. Jangan pernah kamu berfikir kayak gitu Kia, karena dalam suatu hubungan itu kenyamanan yang terpenting. Kalau aku sudah nyaman sama kamu, buat apa aku cari yang lain? Menurutku itu cuma buang-buang waktu. Jadi sekarang aku minta kamu ga usah khawatirkan apapun, karena aku akan pertahankan semua ini sampai kapanpun."
"Maksud kamu? Pertahankan sampai kapanpun gimana?" Aku menghapus air matanya yang mengalir di pipinya.
"Iya sampai kamu jadi milikku selamanya." Aku masih menatap matanya dan gak ada keraguan sama sekali saat aku mengatakan itu kepadanya.
Kia langsung memelukku dengan sangat erat dan aku membalas pelukannya. Sekarang aku sungguh-sungguh mencintai Kia, aku tidak mau kehilangannya. Walaupun masih ada sedikit rasa yang tertinggal untuk Maria, tapi aku tidak akan memupuk rasa itu untuk seseorang yang tidak mencintaiku juga.
"Kamu serius dengan apa yang kamu ucapkan Zain?" Kia melepaskan pelukannya dan menatapku dengan sangat intens.
"Serius Kia sayang,, Rasa sayang aku ke kamu sudah seperti rasa sayang sama diri aku sendiri, aku ingin kamu jadi istri aku. Aku sayang banget sama kamu Kia, I love you."
"I love you too sayang." Jawab Kia sambil tersenyum kepadaku.
Aku pun menggenggam tangannya dan berjanji akan selalu berusaha untuk membahagiakan Kia. Dan apapun yang terjadi, aku akan berjuang untuk hubungan ini. Berjuang mempertahankan rasa yang ada untuk Kia.
Terima kasih Kia sudah hadir dalam hidupku, memberi warna yang indah dalam hatiku.
__ADS_1
POV Zain End.
...****************...