
Aku sudah naik ke kelas X1 sekarang, tepatnya X1 IPS 2. Karena aku tidak sekelas dengan Daffa lagi, aku harus beradaptasi lagi dengan teman-teman baru. Di kelas ini tidak ada yang dekat denganku. Aku susah dekat dengan orang baru, ada perasaan tidak nyaman saat bersama orang-orang baru.
Ini hari pertama aku masuk kelas baru setelah 2 Minggu libur semester. Selama liburan aku tidak pergi kemana pun. Bete banget! Daffa selalu ngajak main, tapi sama teman-teman cowoknya juga, ah malu.. Lebih baik di rumah aja.
Aku duduk di bangku paling depan. Hari pertama belum efektif untuk belajar, masih pengenalan sesama murid.
Bel berbunyi...
Teman-teman berlarian masuk kelas. Tidak lama kemudian Ibu guru cantik datang dan mengenalkan dirinya, bahwa dia akan menjadi wali kelas kita.
"Selamat pagi anak-anak."
"Selamat pagi juga bu."
"Ibu wali kelas kalian nama ibu, Bu Siska. Hari ini pemilihan untuk ketua kelas. Jadi hari ini kita belum mulai belajar. Dan satu lagi, ada murid pindahan dari luar kota."
"Siapa Bu? Cewek atau cowok?"
"Cowok." Ucap Bu Siska sambil tersenyum. Senyumannya manis sekali. "Sebentar ya ibu akan panggilkan teman baru kalian. Zain masuk." Bu Siska memanggil murid itu, dan keluar lah seorang laki-laki di balik pintu.
Semua mata melihatnya berjalan dengan sangat percaya diri. Semua yang ada di situ ternganga melihat Zain masuk. Kecuali aku.
Aku sama sekali tidak tertarik dengannya. Aku hanya melihatnya sekilas. Dia berperawakan tinggi, hampir sama seperti Indra dan Kak Ivan.
Matanya berwarna biru, hidungnya mancung, kulitnya putih bersih dan bibirnya berwarna pink. Sekilas hampir mirip ketampanan nya sama Indra, sebelas dua belas lah kalau di bandingkan. Tapi tetap Indra yang paling tampan menurutku.
Sepertinya dia terus melihat ke arahku. Aku duduk di bangku paling depan, dan aku tidak memperhatikan laki-laki itu. Dia pun memperkenalkan dirinya kepada kami semua.
"Hai, semua. Nama saya Zain al-Fatih. panggil saja Zen. Saya pindahan dari kota xxxx. Salam kenal semuanya." Dia membungkukkan badannya lalu tersenyum.
"Sudah?" Tanya Bu Siska. Dia menganggukkan kepalanya, lalu seorang perempuan berwajah cantik mengangkat tangannya, "Bu boleh nanya-nanya nggak?"
"Boleh, silahkan"
"Zen apa kau sudah punya pacar?"
Dia terkejut mendapatkan pertanyaan dari cewek itu, tapi dia menjawabnya. "Belum." Jawabnya singkat.
"Mau nggak kamu jadi TTS aku?"
__ADS_1
"Hah?" Aku, dia, dan semua orang melirik ke arah cewek cantik itu.
"Jadi Teman Tapi Sayang gitu.." Huuuuuu... Sorak teman-teman semua.
"Atau jadi SJC aja ya."
"Apalagi itu Put?" Tanya teman di sampingnya.
"Sahabat Jadi Cinta." Huuuuuu....
"Si Putri ganjen banget kalau sama cowok ganteng mah."
"Sudah ya anak-anak." Bu Siska tersenyum mendengar celotehan cewek yang bernama Putri itu.
"Zen, silahkan duduk. Hari ini pemilihan ketua kelas, sekarang kita mulai ya."
Zen duduk tepat di belakangku. Karena itu satu-satunya bangku yang masih kosong. Kami pun mulai memilih ketua kelas dengan sistem angket. Bu guru meminta maju yang ingin mengajukan menjadi ketua kelas.
Zen menepuk pundak ku dan meminjam pulpen. "Hei, aku pinjem pulpen boleh?". Aku tidak menjawabnya. Dan langsung mengambil satu pulpen lagi di tempat pensil ku. "Makasih ya." Ucapnya sambil tersenyum. Lagi-lagi aku tidak menjawabnya. Males sekali, sepertinya dia cuma cari perhatian. Aku cuekin ajalah.
Sampai bel pulang berbunyi pulpen itu tidak di kembalikan olehnya. Aku juga lupa tapi tak apalah pulpen 1000 doang. Aku pun pulang bersama Daffa naik motor.
"Aku ikut kamu aja deh, di sini aku takut kalau sendirian."
"Ya sudah ayo." Ajak Daffa.
Baru beberapa langkah aku sudah kecapekan. Karena teriknya matahari siang membuatku merasa pusing. Daffa melihatku yang berkeringat dan kecapekan, lalu dia menyuruhku untuk tunggu di situ saja karena bengkel masih jauh.
Saat aku berdiskusi dengan Daffa bagaimana baiknya, sebuah mobil melintas di depan kami berdua. Keluarlah kepala laki-laki yang tampan itu. "Hei, kamu yang tadi ngasih pinjem aku pulpen kan? Motornya mogok ya?".
Daffa menjawabnya. "Iya nih nggak biasanya mogok gini."
"Kalian naik mobilku saja, nanti aku antar kalian sampai rumah."
"Tidak usah Zen, aku dan Daffa mau ke bengkel aja."
Entah mengapa setelah bicara seperti itu aku merasa sangat pusing. Ku pejamkan mata, dan menekan kedua sisi dahi ku dengan tangan kanan.
Tiba-tiba aku merasa pandanganku kabur, sampai aku tidak kuat lagi untuk berdiri dan akhirnya.. Aku jatuh tak sadarkan diri.
__ADS_1
***
"Mar, bangun."
"Mar."
"Mar."
Aku masih tidak bisa membuka mata, berat sekali. Aku merasa tangan kananku sakit seperti tertusuk jarum.
Setelah membuka mata, pandanganku belum jelas. Aku ingin mengucek mata yang perih ini, tapi tanganku sakit. Ku lihat ada selang infus yang sudah menancap di tanganku, pantas saja terasa sakit dan perih.
"Aku dimana?"
"Di rumah sakit, tadi kamu pingsan. Aku udah telepon Tante." Kata Daffa.
"Kok aku di infus? Memang kenapa?"
"Kamu kena maag kronis. Kenapa kamu nggak pernah sarapan Mar beberapa hari ini? Kalau kamu belum sarapan, tadi aku ajak kamu makan dulu." Daffa bicara panjang lebar tanpa ada celah untuk menyahutnya.
Pintu kamar terbuka, Zen datang membawa dua bungkus makanan.
"Daffa, ni kamu juga makan dulu." Ucap Zen memberikan bungkusan makanan itu kepada Daffa. "Makasih Zen."
Lalu Zen menghampiriku. "Kamu juga makan ya bubur ini. Jangan sampai nggak makan, bahaya buat kamu."
Aku menganggukkan kepalaku dan mengambil makanan itu hendak memakannya, tapi infusan nya tertarik membuatku meringis kesakitan karena darah mengalir deras di selangnya..
Daffa dan Zen segera menghampiriku. "Mar, biar aku yang menyuapi kamu." Ucap Daffa yang masih mengunyah makanan di mulutnya.
Tapi Zen melarangnya. "Kamu makan aja sana, biar aku yang menyuapinya." Daffa pun kembali ke kursi tadi.
Lalu Zen duduk di samping ranjangku dan membuka makanan itu. Lalu dia menyuapiku dengan sangat hati-hati.
"Habiskan ya, biar cepat sembuh". Tatapannya sangat lembut seperti tatapan Indra kepadaku. Dan dia tersenyum saat aku mengucapkan terima kasih kepadanya.
Sisa sedikit lagi tapi aku sudah sangat kenyang. Aku tidak mau makan lagi. Zen menyimpan sisa bubur itu di meja. Datanglah mamah dan Zen memperkenalkan dirinya kepada mamah.
...****************...
__ADS_1