
POV Ivan
"Van, lu kenapa senyum-senyum sendiri. Kayak orang gila aja." Aldi mengejutkan aku yang sedang melamun.
"Oh, nggak apa-apa. Gimana ibu, udah sembuh belum?"
"Udah, thanks ya bro. Lu udah mau nolongin gue.!! Tapi masih harus di rawat. Hari ini pulang ke rumah."
"Ya, santai aja. Lu kan sahabat gue."
"Gue pengen ketemu pacar lu dong Van. Penasaran banget, cewek kayak apa sih yang bikin lu jadi nggak waras."
"Enak aja lu, gue masih waras kali. Pulang kuliah lu ikut gue ya. Kita jemput Maria. Tapi ingat ya, jangan bilang kalau gue itu orang kaya."
"Sipp.. Gue nggak akan bilang apapun kok. Gue ke kantin dulu lah, laper. Mau ikut nggak?"
"Ga, sana lu aja sendiri."
Ya begitulah Aldi, dia sahabatku satu-satunya di kampus. Entah itu waktu di Kanada atau pun di sini. Dia tetap sahabatku, orangnya kocak dan supel.
Ibunya harus masuk rumah sakit beberapa hari setelah kami pindah kuliah di sini. Sedangkan uang buat biaya rumah sakit sudah di bayarkan kuliah Aldi masuk ITB. Jadilah dia kalang kabut untuk membayar rumah sakit.
Dan waktu itu tabunganku lumayan banyak dan cukup untuk membayar tagihan rumah sakit. Bahkan masih Tersisa banyak, sehingga aku tidak perlu meminta bantuan ayah atau ibu. Dan lagi kuliah ku sudah di tanggung beasiswa berprestasi.
Sewaktu di Kanada pun aku bekerja part time sebagai asisten dosen. Karena otakku yang lumayan cerdas di atas rata-rata, aku di pilih dosen untuk menjadi asistennya.
Dan setiap aku mendapat bayaran, aku selalu menyimpannya di ATM. Begitupun uang bulanan dari ayah, aku simpan juga. Aku hanya menggunakan seperlunya saja.
Aku jadi teringat dengan Maria. Sedang apa ya dia sekarang?
Aku memberikannya uang agar dia tau bahwa aku serius ingin menikahinya. Aku bukan ingin merendahkannya atau menukar uang itu dengan tubuhnya. Walaupun aku sudah mencium bibirnya, tapi aku tidak berani sampai melakukan hal tersebut. Aku tidak ingin merusak wanita yang aku cintai sepenuh hatiku itu.
__ADS_1
Aku sudah tidak sabar ingin segera melamarnya. Maria memang bukan pacar pertamaku, tapi dia adalah cinta pertama dan terakhirku. Baru kali ini aku merasakan cinta yang teramat besar kepada seorang wanita.
Pulang kuliah nanti aku akan menjemputnya dengan mobil bersama Aldi. Aku akan mengajaknya ke danau legendaris yang romantis, Situ Patenggang. Dimana itu adalah sebuah danau yang memiliki sejarah melegenda.
Kata Aldi, siapa yang singgah di batu cinta itu akan memiliki cinta yang abadi. Aku percaya tidak percaya dengan mitos yang beredar di masyarakat itu. Tapi, aku hanya ingin mengajak Maria ke tempat yang indah. Dan sepertinya tempat itu cocok untuk kami berdua, walaupun ada pengganggu nantinya. Tapi membawa Aldi sangat berguna saat ini.
Nantinya aku akan pergi membeli makanan dan aku akan menyuruh Aldi untuk mengobrol dengan Maria. Aku ingin mengorek informasi darinya. Bagaimana perasaannya padaku, dan apakah dia masih mengingat mantannya?
Aku merasa sedikit meragukan Maria, karena dia selalu saja membandingkan aku dengan Indra. Apa Maria belum mencintaiku sepenuh hatinya? Apa aku hanya di jadikan pelarian cintanya saja?
Aku juga akan meminta Aldi untuk bertanya kepada Maria, bagaimana kalau aku ini miskin atau orang nggak punya. Aku ingin tahu reaksi Maria kalau aku sedang terpuruk, apakah dia akan setia atau malah meninggalkan aku?
Aku takut dia terpaksa mencintai aku, berbeda denganku yang dengan tulus mencintainya sepenuh hatiku. Aku cinta mati kepadanya, sedangkan aku belum mengetahui seberapa besar cintanya padaku.
Walaupun Maria berkata bahwa dia mencintaiku, tapi apakah itu benar-benar dalam hatinya? Mungkin di depanku dia mengatakan itu. Tapi bagaimana kalau di depan Aldi? Ku rasa Maria akan berkata jujur kepada Aldi mengenai perasaannya kepadaku. Aku sudah tidak sabar untuk mengetahui semuanya.
Tapi aku rasa pulang kuliah bukan waktu yang tepat untuk mengajaknya ke sana. Pasti keburu sore kalau aku mengajaknya sekarang. Nanti saja deh hari minggu aku akan mengajaknya main. Sekalian juga aku akan mengajak Daffa dan pacarnya itu. Karena secara tidak langsung, Daffa sudah membantuku untuk mendapatkan Maria.
Aku menelpon Aldi yang belum juga kembali dari kantin. Aku akan mengatakan bahwa kita tidak jadi menjemput Maria dan mengajaknya main hari ini, karena tidak akan keburu waktunya. Nanti saja hari Minggu kita main bersama-sama.
Dan Aldi juga setuju dengan ide ku. Lagipula sekarang Aldi harus menjenguk ibunya di rumah sakit. Karena hari ini ibunya harus pulang ke rumah.
Tapi aku berubah pikiran. Aku mengatakan pada Aldi bahwa kita jadi untuk menjemput Maria karena aku akan mengajaknya untuk ikut menjenguk ibunya Aldi. Dan Aldi sangat senang saat mendengar ide ku.
Pulang kuliah, aku dan Aldi pergi ke rumahnya naik motor. Dan aku memarkirkan motorku di rumahnya, lalu Aku dan Aldi segera naik mobilku yang terparkir di garasi. Aku menyuruh Aldi untuk mengemudikan mobilku.
"Sialan lu Van. Emang gue supir lu apa?" Aldi mendengus kesal.
"Lah, gue kan bos lu. Haha." Aku sengaja mengejeknya.
"Kampret!! Yoi lah Nggak apa-apa demi sahabat gue apapun gue lakukan." Ekspresi Aldi sungguh konyol, sampai aku mau muntah melihatnya.
__ADS_1
"Lebay lu. Gue kan mau berduaan di belakang sama Maria."
"Terus gue jadi lalat gitu? Ngeliat lu mesra-mesraan sama pacar lu? Enek banget gue!! Tau gitu gue ajak pacar gue. Biar double date sekalian."
"Double date ke rumah sakit maksudnya?? Nggak modal lu." Aku mentertawakan Aldi yang terus saja mengoceh tidak jelas.
Tapi akhirnya dia mau untuk mengemudikan mobilku.
Di jalan aku menyuruhnya untuk menyalakan lagu agar tidak terlalu bete karena jalanan yang macet.
Satu lagu yang membuatku selalu merindukan Maria dan seperti perasaanku padanya saat ini. Aku tersenyum mendengarkan lagu itu, lagu yang selalu menjadi laguku untuk Maria selamanya, seumur hidupku.
Takkan pernah ada yang lain di sisi
Segenap jiwa hanya untukmu
Dan takkan mungkin ada yang lain di sisi
Ku ingin kau di sini tepiskan sepiku bersamamuu
Hingga akhir waktu..
Sampai kapanpun, apapun kondisinya dan bagaimanapun keadaannya, aku akan selalu berada di dekatnya. Aku akan selalu di sisinya untuk mengusir kesepian yang selalu menemaninya di setiap malam.
Dan aku akan menghilangkan kesedihannya karena kehilangan orang yang sangat berarti untuknya. Aku akan menggantikan posisi Indra di hatinya. Itu tekad ku.
Hingga akhir waktu aku akan selalu mencintai dan menyayangimu Maria Maharani.
POV Ivan End.
...****************...
__ADS_1