
"Sayang, sini sebentar.." Panggil Kak Ivan yang dari tadi hanya diam mendengarkan cerita Tika.
Kak Tiara dan Tika saling pandang saat Kak Ivan memanggilku dengan sebutan 'sayang'.
Aku menghampiri Kak Ivan, "Ada apa Kak?"
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, keluar yuk?" Ajak Kak Ivan. Kami berdua pun keluar kamarku dan diam di ruang tamu.
Aku duduk di samping Kak Ivan.
"Ada apa Kakak panggil aku?"
"Apa kamu bakal bilang sama Sandra masalah ini?" Tanya Kak Ivan.
"Menurut kakak gimana?"
"Aku sih terserah kamu aja sayang, kalau kamu mau bantu masalah sepupu kamu itu, aku siap bantu juga. Kalau kamu nggak mau bantu pun nggak masalah." Jawab Kak Ivan.
"Aku pasti bantuin Tika, aku nggak mungkin tega biarin sepupu aku kayak gini." Jawabku.
"Udah aku kira kamu pasti bakalan bantuin dia, makanya aku bawa kamu kesini buat ngebahas itu sayang."
"Terus kita harus gimana Kak?"
"Nanti kita pikirin masalah itu, sekarang kita pikirin masalah pertemuan dengan ibunya Kayla. Apa kamu udah siap?" Kak Ivan malah mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Aku, aku, aku siap Kak." Jawabku sambil menundukkan wajah karena tatapan lembut Kak Ivan yang sangat dekat membuat hatiku berdebar-debar.
"Aku nggak mau kamu sedih, dan aku nggak mau lihat kamu menangis lagi. Aku sayang banget sama kamu, calon istriku." Kak Ivan mengusap lembut rambutku.
"Iya kak.. insyaallah aku nggak akan sedih lagi, aku nggak akan nangis lagi karena udah ada kakak yang ada di samping aku sekarang." Aku tersenyum kepadanya.
"Kak," Aku memanggil Kak Ivan yang dari tadi masih saja menatapku.
"Apa sayang?" Tanya Kak Ivan.
__ADS_1
"Kakak serius masalah lamaran itu?" Aku menatap matanya.
"Iya aku serius. Aku akan melamar kamu bulan depan, nanti aku ngomong sama mamah."
"Tapi kak.. Aku merasa belum siap nikah, aku takut nggak bisa jadi istri yang baik buat kakak. Kakak lihat kan aku ini masih ababil gini."
"Kamu nggak usah khawatir, aku nggak akan menuntut kamu buat ini dan itu. Kamu bebas mau ngapain aja pas nanti kita udah nikah, aku nggak akan ngelarang." Ucap Kak Ivan yang sepertinya nggak jadi masalah mau aku gimana pun juga.
Kak Ivan tersenyum sambil terus mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku terpaku menatap matanya yang indah itu, tatapannya yang sangat lembut dan senyumannya yang membuat siapapun akan terpesona melihatnya.
"Aku akan menjaga kehormatan mu sampai waktunya tiba sayang." Bisik Kak Ivan di telingaku, aku hanya terdiam mendengar kata-kata itu dari mulutnya.
Kak Ivan menggenggam tanganku dan berkata lagi, "Aku nggak akan merusak wanita yang paling aku cintai di dunia ini. Aku akan melamar kamu bulan depan dan kita menikah 3 bulan kemudian setelah kamu lulus."
Aku tidak menjawab ucapan Kak Ivan.
Aku bingung mau jawab apa, karena aku juga belum membahas masalah ini sama mamah. Tapi kenapa aku deg-degan banget waktu Kak Ivan bilang akan ngelamar aku?
Hatiku tidak bisa di kondisikan, sampai-sampai aku tidak bisa menjawab ucapannya Kak Ivan.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.25, mamah pulang dari pengajian dan melihat ke arah Kak Ivan. Kak Ivan tersenyum dan memanggil mamah.
"Ada apa Kak?" Tanya mamah yang sekarang sudah duduk di depan kami.
"Gini mah, bulan depan saya mau melamar Maria. Saya mau menikahi Maria karena saya sangat mencintai dan menyayanginya. Apa mamah setuju kalau bulan depan saya melamar ke sini dan membawa kedua orang tua saya?" Ucap Kak Ivan.
"Kalau mamah mah gimana neng Maria aja, kalau setuju mamah juga setuju. Gimana neng setuju nggak?" Tanya mamah kepadaku yang dari tadi sedang mikir harus jawab apa.
"Neng bingung mah, bingung apa Eneng bisa jadi istri yang baik buat Kak Ivan." Jawabku.
"Sayang, aku udah bilang kamu nggak usah takut. Aku nggak akan nyuruh kamu untuk ini itu, kamu yakin kan sama aku?" Tanya Kak Ivan, tapi aku tidak menjawabnya.
Mamah melihat ke arah kami berdua,
"Neng, saran mamah mah Eneng pikirin dulu baik-baik, eneng yang bisa menentukan pilihan mau enggaknya. Mamah mah cuma bisa mendoakan Eneng sama Kak Ivan mudah-mudahan jodoh, aaminn." Doa mamah.
__ADS_1
"Amiin mah.. Semoga saya dan Maria jodoh dunia akhirat." Harap Kak Ivan.
"Ya udah, mamah lihat kondisi Tika dulu ya. Nanti kita bicarakan ini lagi ya kak." Mamah pun berlalu menuju kamarku untuk melihat keadaan Tika.
"Bentar lagi magrib sayang, aku shalat di sini aja ya. Abis magrib nanti aku pulang, aku mau telpon ayah sama ibu membahas rencana lamaran ini." Ucap Kak Ivan.
"Kak.. Aku deg-degan.. Aku nggak tau harus gimana nanti." jawabku yang belum apa-apa keringat dingin sudah membasahi tubuh dan tanganku ini.
Kak Ivan malah tersenyum dan menggodaku,
"Sayang, belum apa-apa kamu udah keringet dingin gini apalagi pas malam pertama ya?" Ucap Kak Ivan yang terus menatapku dan tersenyum.
"Kakak ih... Jangan mulai omes lagi, aku nggak suka!" Jawabku ketus karena aku nggak suka membahas gituan, malu sendiri jadinya.
"Iya sayang, aku nggak akan omes. Omes nya entar aja kalau kita udah nikah, hehe.." Ucap Kak Ivan yang sekarang mencubit pipiku gemas.
"Kakak... Pipiku sakit di cubitin terus, nanti jadi merah deh." Aku mengelus-elus pipiku.
"Maaf sayang, abisnya calon istriku ini gemes banget sih... Bikin aku kesemsem terus." Kak Ivan mencolek pinggangku 2x.
"Ah, Ah.."
"KAKAK.... Ngapain colek-colek pinggang aku? Geli tau nggak?" Aku ngambek sama Kak Ivan yang sengaja mencolek pinggangku. Udah tahu aku gelian malah di colek-colek.
"Aku sayang kamu." Satu kecupan lembut dari Kak Ivan mendarat di pipiku.
Aku mencubit lengan Kak Ivan yang selalu sukses bikin jantungku berdegup kencang.
"Maaf lagi sayang, maaf.." Kak Ivan memohon padaku agar memaafkannya.
"Iya aku maafin, tapi jangan gitu lagi ya.. Janji? Terus Kakak jangan mesum terus pikirannya, jangan suka nyosor ya. Oke.." Aku mengedipkan sebelah mataku ke Kak Ivan.
"Oke sayang, maafin aku.. Aku nggak akan kayak gitu lagi, aku janji." Kami melingkarkan jari kelingking kami berdua dan tersenyum.
Adzan Maghrib berkumandang, kami berdua langsung ke kamar mandi untuk berwudhu dan menunaikan shalat. Berharap dan berdoa semoga semuanya baik-baik saja dan tidak ada kendala apapun saat nanti waktunya tiba Kak Ivan melamar aku.
__ADS_1
Aamiin ya Allah..
...***************...