
POV Ivan
Brengsek!!
Hanya satu kata itu yang aku katakan sekarang untuk si Dendi. Berani sekali dia mencoba melukai Maria, orang yang aku sayangi seumur hidupku. Aku harus bertindak cepat menemukan bukti bahwa dia memakai dan mengedarkan obat terlarang agar aku bisa melaporkannya ke polisi. Aku tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi apalagi Maria dalam bahaya.
Maria benar-benar dalam bahaya jika aku menunda-nunda menyelidiki Dendi. Aku harus segera bertemu Aldi, Daffa dan Zain untuk merencanakan siasat apa yang hendak kita lakukan untuk menjebaknya. Dan ku rasa ini bukan hal mudah untuk kita menyelidiki dengan detail. Lawan kami bukan Dendi seorang, tapi orang-orang yang berada di belakangnya sangat berbahaya, mereka mempunyai akses yang luas.
Setelah Maria menceritakan semua kepadaku dan mamah, aku segera pamit kepadanya untuk pulang karena aku harus menemui mereka.
"Kakak mau pulang sekarang?" Tanya Maria kepadaku.
"Iya sayang.. kakak ada kerjaan. Gak apa-apa kan?" Aku mengusap rambutnya.
"Iya kak... hati-hati di jalan ya.." Pesannya.
"Iya sayang.."
Aku pun pamit kepada mamah dan juga Maria.
Aku melajukan mobil dengan perasaan tidak karuan. Ingin sekali aku menghajar wajahnya, aku ingin memberinya pelajaran karena sudah berani mengganggu Maria. Padahal Maria belum mencampuri urusannya dengan Cantika.
Aku bergegas menuju kediaman Zain, sedangkan Aldi dan Daffa akan menyusul setelah aku menelponnya tadi. Daffa menyusul setelah pulang sekolah, sedangkan Aldi menyusul setelah selesai mata kuliah terakhirnya.
Aku sudah sampai di kediaman Zain, Kepala terasa sedikit pening karena kurang tidur semalam. Aku menjaga Maria di rumah sakit dan tidak bisa memejamkan mata lebih lama. Aku keluar mobil dan meminta satpam untuk membuka gerbang, lalu aku menghubungi Zain untuk keluar rumah.
Zain sudah menungguku di teras.
"Van, gimana keadaan Maria sekarang? Maafin gue Van, gue ga nyangka Dendi bakalan senekat itu. Supir gue udah cerita semuanya dan gue bener-bener harus bertindak sekarang. Dendi benar-benar keterlaluan!!" Ucap Zain menahan amarahnya.
__ADS_1
"Justru itu gue kesini dan lebih baik kita tunggu Daffa dan Aldi dulu." Jawabku.
"Yuk masuk ke kamar gue." Ajak Zain.
Aku pun mengikuti Zain untuk ke kamarnya. Di ruang tamu, tampak ibunya Zain sedang melihat sinetron ikan terbang. Matanya sembab seperti habis menangis mungkin baper liat sinetron itu. Dan ibunya bertanya ketika melihat ke arah kami,
"Zain, itu temanmu?" Ibunya berdiri dan menghampiri kami.
"Iya Bu, ini Ivan.. pacar Maria, yang kemarin nolongin aku." Jelas Zain.
"Oh, pacarnya gadis mungil dan baik itu ya? Beruntung banget loh kamu nak dapetin dia. Dia bisa bikin ibu kayak punya anak perempuan, sopan dan ibu sangat menyukainya. Andai ibu punya menantu seperti Maria, ibu seneng banget pasti." Ucapan ibu Zain membuatku terkejut. Hatiku seakan tak rela ibunya berkata seperti itu, seolah-olah ingin Maria menjadi pacarnya Zain.
"Ibu.. Jangan bicara kayak gitu..." Tegur Zain
"Iya Zain, ibu cuma pengen kamu punya pacar yang sifatnya baik kayak Maria.. gitu aja. Sudahlah, lebih baik ibu liat ku menangis lagi aja.." Ibunya kembali duduk di depan tv lagi, sedangkan aku dan Zain bergegas ke kamarnya menunggu daffa dan Aldi.
Saat kami sampai di kamar Zain, ponselku berdering.. Dan ku lihat panggilan dari Aldi.
"Pake aja Al.. terus lu langsung ke rumah Zain ya, gue tunggu di sini."
"Oh oke siap Bosque.."
"Ya.." Aku pun mematikan sambungan telpon dengan Aldi.
Aku bertanya kepada Zain, kenapa sampai Dendi mau mencelakakan Maria.
"Zain, apa alasan Dendi ingin mencelakakan Maria? Padahal Maria sama sekali belum membantu Cantika untuk mengambil flashdisk itu?" Aku bertanya serius kepada Zain.
"Dia ga terima Maria nolongin gue pas kemarin dia pukulin gue Van, terus dia bilang kalo kita macem-macem sama dia atau nekat laporin ke polisi, teman-teman dekat kita dalam bahaya, termasuk Maria." Jawaban Zain membuatku terkejut.
__ADS_1
"Apa? Dia bilang gitu? Zain, apa kita harus kasih tau Sandra semua ini? Aku ingin sekali mengatakan bahwa adiknya yang dulu penurut sudah berubah drastis. Sangat berubah 180 derajat." Aku mencoba untuk memberikan solusi yang terbaik untuk masalah ini.
"Tapi Van, itu tambah bahaya. Gue ga tau apa yang bakalan Dendi lakuin kalau dia sampai tahu kita mengatakan fakta ini ke kak Sandra." Jawab Zain, dan itu memang benar adanya.
Sepertinya otak ku tidak bisa berpikir dengan jernih. Aku terlalu capek memikirkan semua ini. Lelah sekali hati dan pikiranku, sampai-sampai aku tidak memikirkan dampak yang terjadi akibat tindakan ku ini. Padahal aku selalu berpikir sebelum bertindak segala konsekuensi dan dampak yang di timbulkan dari tindakan ku. Tapi kali ini otak ku tidak bisa berpikir sama sekali.
"Oke Zain, Kita dengar pendapat Daffa dan Aldi nanti." Hanya ucapan itu yang keluar dari mulutku.
"Iya Van, mungkin mereka bisa kasih solusi terbaik buat masalah ini." Ucap Zain.
"Van, sepertinya anak yang ada dalam perut Cantika itu bukan anak Dendi, karena yang gue tau bukan cuma Dendi yang melakukannya, tapi teman-teman preman nya pun melakukan itu kepada Cantika yang tidak sadarkan diri." Ucap Zain lagi.
Aku syok mendengar pernyataan Zain kepadaku.
"Hah? Gilak!! Si Dendi benar-benar Gilak.. Apa gue harus bilang ke Maria masalah ini?" Aku tidak menyangka Dendi akan bertindak di luar batas seperti itu kepada pacarnya sendiri.
"Iya Van, gue tau karena waktu gue ke basecamp itu, mereka ngobrolin tentang Cantika yang mereka juluki 'MIRA' Milik Rame-rame." Zain menghela nafas panjangnya setelah mengatakan itu padaku.
Entah ada berapa fakta lagi yang akan mengejutkan kami semua. Anak yang dulu sangat baik dan penurut, bisa menjadi berandalan kelas kakap dan terjerumus ke lembah hitam seperti itu.
Cukup lama kami menunggu kedatangan Daffa dan Aldi. Mereka belum muncul juga, telpon pun tidak mereka angkat. Aku jadi khawatir kepada mereka berdua karena pikiranku yang sekarang selalu negatif, takut mereka di celaka kan oleh Dendi dan preman-preman itu.
Tapi kekhawatiran ku terpatahkan setelah suara klakson motor gede ku terdengar, itu tandanya Aldi sudah datang dan beberapa menit kemudian suara motor klakson Daffa pun terdengar. Kami berdua turun ke bawah untuk melihat Daffa dan Aldi yang sudah memarkirkan motornya di garasi.
Kami berdua segera menghampiri Daffa dan Aldi. Kami berempat langsung menuju ke kamar Zain, sedangkan Zain memilih untuk ke dapur dulu memberikan perintah kepada asisten rumah tangganya untuk membawakan minuman dan makanan ringan untuk kami semua.
Setelah kami berempat berkumpul, konferensi meja bundar pun di mulai. Kami berembug dan bermusyawarah saling memberi solusi yang terbaik untuk masalah yang akan kami hadapi. Apalagi ini menyangkut nyawa seseorang yang sangat aku sayangi, Maria Maharani.
POV Ivan End
__ADS_1
...****************...