
6 bulan kemudian..
Sejak saat itu, aku semakin dekat dengan Kak Ivan. Walaupun kami hanya sahabat, aku sudah senang. Karena aku tidak terlalu bersedih lagi.
Beberapa bulan lagi kenaikan kelas. Tepatnya 4 bulan lagi. Dan aku memilih jurusan IPS, karena aku suka sekali akuntansi. Para guru dan wali kelas menyarankan aku agar masuk ke IPA, tapi aku tidak berminat.
Sedangkan Kak Ivan, sedang menyiapkan agenda untuk perpisahan kelas, dan sibuk mengurusi PMDK dan SNMPTN..
Panitia OSIS sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing.
Tapi ada yang berbeda dari Kak Ivan. Kenapa dia tidak menyapaku pagi ini. Seperti sedang gelisah, dan menghindari aku.
Aku tidak terlalu memikirkannya karena sudah ada teman-teman yang menemaniku, termasuk Daffa. Tapi aku juga kepo sih, kenapa Kak Ivan tiba-tiba menghindari aku.
* POV Ivan
"Van, ayah sudah mendaftarkan kamu kuliah di Kanada." Perintah dari ayahku.
"Tapi yah, aku nggak mau kuliah di luar. Aku sudah daftar sendiri di ITB." Aku menolak, tapi tidak bisa.
"Mau nggak mau kamu harus nurut sama ayah. Sebentar lagi perusahan ayah akan pindah ke sana. Dan kita semua akan tinggal di Kanada."
"Tapi yah aku nggak mau."
"Van, ayah kamu benar. Ibu sudah membeli rumah di sana untuk tempat tinggal kita, dan ibu juga sudah mengurus administrasi nya. Apa yang membuatmu enggan untuk tinggal di sana?"
"Aku, tidak apa-apa Bu."
Aku berjalan lemas menuju ke kamarku. Aku melangkah dengan gontai, dan tidak semangat lagi untuk pergi ke sekolah besok.
'Bagaimana dengan Maria? Aku sudah janji akan selalu ada untuknya, tapi aku juga yang mengingkarinya. Aku harus bagaimana? Sebaiknya aku harus bicara dengan Maria. Aku harus jujur, dan tidak mau dia kecewa nantinya.'
__ADS_1
Malam itu aku tidak dapat memejamkan mata. Beberapa bulan lagi aku akan berpisah dengan Maria, untuk selamanya.
* POV Ivan end
"Mar, kamu yakin akan masuk IPS?"
"Yakin Daffa."
"Kamu masuk IPA aja sama denganku. Agar ada yang bisa menjagamu."
"Aku sudah besar, untuk apa harus di jaga-jaga segala. Lagian kan kita masih satu sekolah juga."
"Iya sih, tapi kan guru-guru juga menyarankan kamu buat masuk IPA."
"Aku tidak berminat. Otak ku nggak jalan kalau sudah berhubungan dengan Kimia. Aku nyerah Daf, aku lebih suka Akuntansi dari pada Kimia."
"Ya sudah kalau itu yang menjadi keputusan kamu."
"Iya Kak, ada apa?"
"Jangan di sini." Kak Ivan menarik tanganku dan membawaku ke perpustakaan.
Sepanjang kami melintasi kelas lain, semua orang yang kami lewati saling berbisik. Membuatku semakin tidak nyaman karena Kak Ivan menggenggam tanganku.
"Kak, lepas. Aku malu."
Tapi Kak Ivan tidak menggubris ucapan ku. Sampailah kami di perpustakaan.
"Aku mau bicara sesuatu sama kamu Maria."
"Apa?"
__ADS_1
"Setelah lulus nanti, aku tidak akan tinggal di sini. Aku akan pindah ke Kanada dan menetap di sana."
Jantung Maria berdegup kencang. "Apa? Jadi Kakak pun akan meninggalkan aku juga untuk selamanya? Bukankah Kakak janji akan terus bersamaku walaupun kita hanya sahabat?"
Entah mengapa aku merasa sakit saat Kak Ivan bicara itu. Saat aku sudah mulai merasa nyaman di dekatnya dan mulai membuka hati, tapi harus seperti ini (Lagi).
Aku menjatuhkan tubuhku di lantai. Mataku hanya menatap ke depan, aku tidak tau harus bagaimana menghadapi ini untuk kedua kalinya.
Saat benar-benar sudah mencintai Indra, aku kehilangannya untuk selamanya. Sekarang saat mulai merasa nyaman, Kak Ivan pun akan meninggalkannya untuk selamanya juga.
Kenapa? kenapa harus seperti ini lagi?.
Kak Ivan tidak bicara sepatah kata pun. Dia menurunkan lututnya ke lantai dan menyentuh pundak ku lalu berkata. "Maafkan aku Maria. Aku sudah mengingkari janjiku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Waktuku untuk bisa bersamamu hanya 4 bulan lagi. Ku harap kita masih bisa bersahabat ya."
"Tidak Kak, lebih baik kita menjauh. Aku tidak mau semakin merasa nyaman berada di dekat Kak Ivan. Dan aku juga akan berusaha mandiri tidak tergantung pada siapapun Karena itu hanya membuatku sakit."
"Tapi Mar, aku sungguh tidak mau kehilanganmu. Aku sayang sama kamu. Aku mencintaimu. Dan aku, akan kembali lagi suatu saat nanti. Aku harap kamu mau menungguku. Walaupun saat ini kita hanya sebatas sahabat, tapi aku menganggapnya lebih, aku anggap kamu itu kekasihku Mar."
Aku hanya terdiam terpaku mendengar ucapan Kak Ivan.
Jadi, selama ini memang dia benar-benar mencintaiku. Tapi mana mungkin aku bisa memegang janji Kak Ivan yang entah kapan akan kembali. Bahkan bukan tidak mungkin Kak Ivan akan mempunyai kekasih di sana. Kak Ivan kan tampan.
"Aku tidak yakin dengan ucapanmu Kak. Entah kapan Kakak akan kembali itu tidak pasti. Aku hanya bisa pasrah. Jika memang Kak Ivan jodohku, suatu saat mungkin akan kembali lagi. Tapi jika bukan jodohku, sekuat apapun kita mempertahankan tetap akan berpisah bukan? Walau dengan cara apapun."
Kak Ivan tidak bisa berkata-kata lagi. Dia membantuku berdiri dan memeluk tubuhku. "Izinkan aku memelukmu sekali saja Maria. Suatu saat nanti aku pasti akan kembali."
Ingin sekali aku menjatuhkan air mata yang sudah menumpuk di sudut mataku. Tapi sebisa mungkin aku menahannya.. Pelukan hangat ini, tidak akan dia dapatkan lagi untuk selamanya.. Untuk kedua kalinya, aku kehilangan pria yang membuatnya nyaman.
Selamat tinggal Kak Ivan.. Selamat tinggal Indra..
Kalian adalah pria yang sudah membuatku merasakan arti cinta sebenarnya. Bahwa cinta akan tetap ada meski terpisahkan oleh jarak dan waktu.
__ADS_1
...****************...