
"Lo ganggu aja deh Al." Jawab Kak Ivan memandang Kak Aldi dengan kesal.
"Ini udah jam 8 Van, semakin siang tambah macet nanti. Males banget gue kalau macet, panas." Jawab Kak Aldi.
"Ya udah Mar, sekarang kita berangkatnya yuk." Ajak Daffa.
"Iya hayu." Jawabku.
Kami pun segera berangkat setelah aku mengunci pintu rumah.
Daffa duduk di depan samping Kak Aldi, sedangkan aku di tengah berdua dengan Kak Ivan.
Kak Ivan terus tersenyum dan memandangku dengan tatapan cintanya, membuatku menjadi malu karena Daffa pun sedikit-sedikit menoleh ke arah kami berdua.
"Kak, jangan liatin aku terus gitu dong.. Aku malu." Ucapku kepada Kak Ivan.
"Loh kenapa malu sayang? Di sini kan cuma ada aku, Daffa dan Aldi doang. Anggap aja kita lagi berduaan.. hehe." Jawab Kak Ivan yang malah semakin erat menggenggam tanganku.
"Sialan lu Van.. Emang gue sama Daffa setan, nggak lu anggap!!" Semprot Kak Aldi yang masih fokus mengemudikan mobil.
"Lu doang yang setan Al.." Jawab Kak Ivan ngasal..
"Udah Kak.. Ih kalian itu nggak pernah akur. Katanya sahabatan, gimana sih?" Ucapku kepada mereka berdua.
"Maaf sayang.." Ucap Kak Ivan.
"Bagus Mar, kamu memang pawangnya Ivan. Langsung nurut kalau kamu yang bilangin mah." Sambar Kak Aldi lagi.
__ADS_1
Kak Ivan menguap beberapa kali, sepertinya dia kelelahan. Kepalanya menyender ke jendela mobil dan ku lihat Kak Ivan sudah tertidur sambil terus menggenggam tanganku. Manis banget sih Kak kalau kamu lagi tidur gini, dan aku terus memandangi wajah tampannya. Aku mengusap pipinya dengan lembut dan aku merapikan rambut depannya yang hampir terkena matanya.
Sedangkan Daffa dari tadi hanya diam seribu bahasa, dia hanya melihat sekilas ke arahku sambil tersenyum. Entah apa yang ada di pikirannya yang jelas Daffa seperti sedang memikirkan sesuatu, karena dari tadi dia terlihat gelisah.
* POV Daffa
Jujur, aku merasa sakit melihat Maria begitu mesra dengan Ivan. Tapi aku bisa apa? Aku bukan siapa-siapanya Maria, aku hanya sahabatnya saja tidak lebih. Aku menghargai Indra makanya aku mencoba membuang jauh-jauh perasaan ku padanya dengan memacari Silvi.
Tapi ternyata Silvi tidak sebaik yang aku kira, dia berciuman dengan pria lain saat aku berkunjung ke rumahnya untuk membuat kejutan, tapi malah aku yang di buat terkejut olehnya.
Sebenarnya aku ingin sekali menolak saat Ivan meminta tolong padaku untuk memberikan kejutan sweet seventeen Maria, tapi aku tidak bisa melihat Maria terus bersedih. Dia begitu terpuruk saat kehilangan Indra, sekarang apa aku bisa melihatnya terpuruk lagi karena keegoisan aku yang menolak membantu Ivan?
Aku kira Aku akan sangat jahat sekali kalau aku melakukan itu pada Maria. Aku sudah cukup bahagia bisa menjadi sahabatnya, dan aku juga senang bisa melihat keceriaan Maria lagi saat ada Ivan.
Aku harus lebih mementingkan perasaan Maria, karena aku tahu cinta tak perlu saling memiliki. Biarlah ini menjadi rahasia untuk diriku sendiri dan hanya aku saja yang tahu kalau aku mencintaimu Maria. Aku tidak akan merusak kebahagiaanmu dengan Ivan.
Dan sekarang aku pun harus melakukan hal yang sama dengan Indra. Aku harus bisa membuatmu bahagia walaupun melalui perantara Ivan.
Aku tahu Ivan juga sangat mencintaimu Mar, Ivan tidak pernah melirik wanita lain yang lebih segalanya darimu. Sejak aku dekat dengannya, aku merasa sifat Ivan hampir sama dengan Indra. Padahal dulu pun aku sangat membencinya sama sepertimu, tapi Ivan bisa membalikkan keadaan dan sekarang kamu mencintainya.
Walaupun aku tahu juga hatimu masih menyimpan nama Indra, karena aku tahu Indra tidak akan terhapus dalam hatimu. Perjuangannya mendapatkan kamu itu sangat sulit, dan wajar saja bila sekarang kamu tidak bisa menggantikan posisinya dengan siapapun.
Aku akan selalu mendukungmu dan Ivan, aku akan berada di belakang kalian agar Maria selalu bahagia. Aku tidak akan membiarkan terulang lagi kejadian yang menimpa Indra. Kalau saja dulu aku tahu bahwa Kayla sejahat itu, aku pasti akan menggagalkan rencananya.
Dan pasti Indra tidak akan mengalami ini, kamu dan Indra pasti akan bahagia selamanya. Tapi takdir harus begini dan aku pun tidak cukup kuat untuk menggantikan posisi Indra.
Saat aku terus bergumam dalam hatiku, dari belakang Maria menyentuh pundak ku.
__ADS_1
"Daffa, kamu kenapa?" Tanyanya, dan ku lihat Ivan sudah tertidur di belakang.
"Aku nggak apa-apa Mar.." Jawabku sambil menyentuh tangannya yang mungil itu. Maria tidak mengelak nya dan malah tersenyum padaku.
"Jangan sedih ya kamu putus sama Silvi. Aku nggak mau lihat kamu sedih gini Daffa. Kamu sahabat aku yang selalu mengerti aku." Ucapnya.
"Iya sahabatku yang imut.. Aku yang nggak mau lihat kamu sedih. Sekarang udah ada Ivan yang ada di samping kamu, aku harap kalian berdua selalu bahagia." Ucapku, meskipun memang mataku tidak bisa berbohong bahwa aku mencintainya.
"Makasih ya, kamu memang sahabat terbaik aku. Aku sangat menyayangimu Daffa. Kamu jangan tinggalkan aku ya.. Aku mau kamu selalu ada buat aku, walaupun aku sudah ada Kak Ivan, tapi aku nggak mau kehilangan sahabat kayak kamu." Ucapnya, membuatku merasa sangat berarti.
"Iya Mar, aku nggak akan tinggalkan kamu. Aku janji." Aku mengacungkan jari Kelingkingku kepadanya, dan Maria tersenyum lalu mengaitkan kelingkingnya ke kelingkingku.
Saat aku dan Maria saling tatap, Ivan bangun dan aku menjadi tidak enak. Maria kembali menyandarkan tubuhnya di samping Ivan. Sedangkan Aldi yang dari tadi melihatku dengan Maria hanya mendengarkan pembicaraan kami, dan sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu, aku melihat ekspresinya yang sulit untuk di artikan.
"Sayang, kamu lagi ngapain? Kamu nggak ngantuk?" Tanya Ivan.
"Nggak Kak, aku lagi ngobrol sama Daffa tadi. Kasian Daffa baru putus dari Silvi, aku nggak mau Daffa sedih." Ucap Maria, dan aku hanya mendengar suaranya saja tanpa melihat ke arah mereka.
"Sayangku baik banget sih.. Daf, kamu juga sekarang udah jadi sahabat aku, aku juga nggak mau kamu sedih putus sama dia. Mudah-mudahan kamu bisa mendapatkan gadis yang baik dan tulus sayang sama kamu ya." Ucap Ivan. Aku hanya menoleh ke arahnya dan tersenyum.
"Iya, semoga aja Van." Jawabku lirih.
Dan sepertinya Aldi lebih peka dari Ivan, kalau aku menyimpan rasa untuk Maria. Beberapa kali dia melirik ke arahku dengan tatapan iba, entahlah ku rasa hatiku sudah mati. Aku seperti tidak semangat untuk punya pacar lagi, biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya.
Maria, rasa ini akan selalu ada sampai kapanpun walaupun aku hanya sahabatmu...
* POV Daffa End
__ADS_1
...****************...