INSECURE, Cinta Masa Lalu

INSECURE, Cinta Masa Lalu
Kejadian sebenarnya


__ADS_3

Ibunya kak Kayla masih saja memeluk ibu Indra, menangis tersedu-sedu sambil terus mengucapkan kata maaf.


"Ibu, kenapa terus meminta maaf? Apa salah ibu?" Tanya ayah yang melihatnya masih memeluk istrinya itu.


Ibu kak Kayla melepaskan pelukannya dari ibu dan mengusap air matanya. Ibu Indra duduk di kursi samping ayah, begitu pun dengan ibu Kak Kayla. Dia mengeluarkan buku harian Kak Kayla dari tas nya dan menyerahkan buku harian itu kepada ibu indra seraya berkata,


"Maafkan saya Pak, Bu. Saya telah gagal menjadi orang tua dan gagal mendidik putri semata wayang saya yang bernama Kayla. Sampai dia menjadi kehilangan akal sehatnya dan tidak bisa berfikir jernih. Dia sudah terobsesi kepada Indra, putra bapak dan ibu." Ucapnya sambil menundukkan kepala dan berlinang air mata.


"Ada apa ini? Apa sebenarnya yang terjadi?" Tanya ayah.


Kami semua terdiam, tidak ada yang bisa menjelaskan perihal ini. Sampai ibu terlihat syok saat membaca isi dari buku harian Kak Kayla.


"Astaghfirullah ya allah, Astagfirullah." Ucap ibu sambil mengelus dadanya.


"Kenapa Bu?" Tanya ayah.


Ayah membaca buku harian itu, dan wajahnya menjadi merah padam.


"Astaghfirullah.. Astaghfirullah.. Astaghfirullah." Ayah juga syok melihat buku harian itu.


Aku tidak tahu isinya apa, yang pasti aku yakin kalau tulisannya itu mengenai kecelakaan itu. Dan aku tidak mau membacanya, terlalu sakit untuk melihat kenyataan bahwa ini ternyata ulah Kak Kayla. Bertahun-tahun aku menyalahkan diri sendiri, bertahun-tahun aku tersiksa, bertahun-tahun pula aku tidak bisa move on dan luka hati ini masih basah meski kejadian itu sudah sangat lama.

__ADS_1


"Maafkan saya Pak, Bu. Saya tidak tahu kalau Kayla akan senekat itu. Andai saya tahu gelagat Kayla yang mencintai Indra dan hendak melenyapkan Maria, pasti saya akan mencegahnya. Saya tidak tahu kalau pada akhirnya akan seperti ini. Maafkan saya, hukum saya kalau memang bapak dan ibu tidak bisa memaafkan Kayla, anak saya."


Ibu Kak Kayla berlutut di hadapan ayah dan ibu sambil berderai air mata. Aku tidak tega melihatnya seperti itu karena ibunya sama sekali tidak bersalah. Ayah terlihat sangat berusaha untuk menahan emosinya, ayah mencoba untuk menahan hatinya yang bergejolak.


Sedangkan ibu terus saja menangis sambil menyebut nama Indra. Beberapa kali ibu mengusap air matanya yang mengalir deras di pipinya.


Aku melirik ke arah Kak Ivan yang masih menggenggam tanganku, Kak Ivan mengedipkan matanya kepadaku seolah-olah mengucapkan kalau aku harus tegar dan kuat. Aku menganggukkan kepalaku meski sebenarnya hati ini sangat perih, hatiku seperti tertusuk banyak duri.


Aku melihat ke arah Kak Sandra, dia terlihat sangat menyesal karena tidak bisa mencegah Kak Kayla saat itu. Dia memalingkan wajahnya ke arah luar dan ku lihat tetesan air mata membasahi pipinya.


"Pak, Bu. Tolong hukum saja saya kalau itu bisa sedikit menebus kesalahannya, saya rela Bu. Kalau ibu tidak bisa memaafkan anak saya, saya mau melakukan apapun agar bapak dan ibu bisa memaafkan anak saya." Ucap ibu Kak Kayla yang terisak-isak.


Sekarang ibu duduk di samping ibunya Kak Kayla. Ibu berkata,


"Bu, yang sudah terjadi biarlah terjadi.. Kami sudah ikhlas, tidak ada gunanya juga kami menghukum ibu yang tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian ini. Kami sangat terkejut mengetahui kebenarannya, tapi kami yakin semua yang terjadi atas izin Allah. Ini sudah takdir kami kehilangan putra kami satu-satunya, walaupun kami sangat sedih atas kepergian Indra tapi kami harus ikhlas."


"Walaupun sekarang kami menghukum ibu, itu tidak akan dapat mengembalikan Indra kepada kami. Dan saya pikir itu hanya merugikan saya sendiri, karena saya sudah balas dendam dan dzolim kepada orang yang tidak bersalah. Sekarang saya sudah memaafkan ibu, dan ibu tidak usah merasa bersalah lagi atas kejadian semua ini."


Ucapan ibu membuat kami semua terperangah. Aku mengira ayah dan ibu akan marah besar dan terjadi pertengkaran. Tapi kenyataannya malah sebaliknya, ibu dan ayah ikhlas dan tidak ingin memperpanjang masalah ini lagi. Aku salut dengan sikap ayah dan ibu yang sangat bijak, aku saja sampai sangat marah sekali sama Kak Ivan saat mengetahui ini semua.


Aku jadi merasa bersalah saat aku marah sama Kak Ivan perihal ini karena tidak memberitahuku. Padahal jelas Kak Ivan pun tidak tahu dan tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian yang menimpa Indra.

__ADS_1


Ibu Kak Kayla terharu mendengar ucapan ibu, dan berulang kali mengucapkan terima kasih dan menggenggam tangan ibu. Mungkin dia mengira kalau ibu akan menuntutnya tapi yang ada malah sebaliknya.


Aku semakin merasa rindu kepada Indra, kekasih terbaik masa laluku yang selalu tersimpan dalam hatiku. Aku selalu mencintainya sampai kapan pun, karena kebaikan, ketulusan dan pengorbanan Indra untukku masih sangat teringat jelas dalam memori ku.


Tapi sebisa mungkin aku harus menyembunyikan ini dari Kak Ivan. Walau bagaimanapun Kak Ivan kekasihku yang sekarang dan aku harus menjaga hatinya. Aku juga mencintaimu Kak, sangat mencintaimu. Aku tidak mau kehilanganmu, kehilangan orang yang aku cintai untuk kedua kalinya. Tapi maaf kalau cintaku kepada Kakak tidak sebesar cintaku kepada Indra.


Karena perjalan kisah cintaku dan Indra sangat berkesan, dari mulai menjadi sahabat di kelas yang selalu mendengarkan keluh kesah ku, mengetahui kebiasaan baik dan buruk ku, bahkan ketika aku sedang ada masalah dan tidak bercerita apapun, Indra bisa merasakan apa yang aku rasakan.


Saat aku tidak bisa mengerjakan tugas sekolah, Indra selalu ada untukku. Saat aku ngambek-ngambek terus, dia selalu bertingkah konyol agar aku tidak ngambek lagi. Dan itu sungguh membuatku teramat merindukannya, merindukan momen-momen indah bersamanya.


Setelah ayah dan ibu memaafkan ibunya Kak Kayla, kami pamit untuk pulang, karena ibunya Kak Kayla harus kembali ke Paris untuk mengurus kepindahannya ke Indonesia. Begitupun dengan aku dan Kak Ivan, kami pamit kepada ibu, ayah, dan juga Riri.


Ibu berpesan kepadaku untuk sering-sering mengunjunginya. Dan aku senang ayah dan ibu masih memperlakukan aku dengan baik walaupun aku sudah tidak bersama Indra lagi.


Sayang, rumah ini menjadi saksi bisu saat aku untuk pertama kalinya menceritakan trauma masa laluku yang membuatku selalu insecure, dan kamu memberikan aku semangat bahwa kecantikan itu bukan hanya soal wajah, tapi yang paling penting hatinya.


Kamu orang pertama yang bisa melepaskan beban bertahun-tahun yang aku tanggung dan tidak ada tempat berbagi dengan siapapun, tapi kamu bisa membuatku percaya dan berbagi kesedihanku yang sudah sangat lama aku pendam.


Aku menyayangimu lebih dari apapun Indra, Aku sangat mencintaimu sampai kapanpun aku akan mencintaimu Muhammad Ravindra Yudistira.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2