INSECURE, Cinta Masa Lalu

INSECURE, Cinta Masa Lalu
Pengorbanan


__ADS_3

POV Daffa


Saat aku sudah fotocopy berkas-berkas untuk pendaftaran, aku dan Zain segera menemui Maria. Katanya dia menungguku di depan gerbang. Tapi saat aku ke sana, Maria tidak ada. Aku dan Zain kebingungan dan kami mencarinya kemana-mana tapi tetap tidak ketemu.


Kami berdua panik. Tadi aku mengajak Maria untuk ikut bersamaku tapi guru yang menemani kami ke kampus memanggil Maria untuk segera menyerahkan berkasnya. Akhirnya aku dan Zain pergi berdua karena harus segera menyerahkan berkas yang menjadi syarat masuk kuliah.


Perasaanku mulai tidak enak, dua jam kami mencarinya tapi tetap tidak menemukan Maria. Aku menghubungi Aldi dan Ivan untuk mencari Maria, mereka juga sama paniknya. Dan kami semua tidak tahu harus mencarinya kemana karena sama sekali tidak ada jejak untuk bisa di telusuri.


Aku dan Zain menunggu Ivan dan Aldi di sebuah warung seberang jalan sana. Tidak berapa lama mereka berdua datang dan kami berkumpul di warung itu. Kami belum bisa menentukan ke arah mana harus mencari. Perutku lapar sekali karena belum makan apapun dari tadi pagi, aku pun beli gorengan di warung itu. Ibu penjaga warung yang mendengar obrolan kami dan melihat kami yang panik bertanya.


"Aa AA semua teh lagi nyari siapa?" Tanya ibu warung sambil sibuk melayaniku yang membeli gorengan dan es teh manis.


"Cari gadis ini Bu. Apa ibu liat gadis ini di depan gerbang?" Ivan memperlihatkan foto Maria ke ibu warung itu.


"Oh.. Gadis ini.. Ya ibu lihat tadi dia masuk mobil sama laki-laki.. Mobilnya di parkir samping warung sini.. Di situ.." Ibu warung menunjukkan ke arah samping warungnya.


"Jadi tadi ibu liat dia masuk ke situ, tapi dia nangis.. Pas ibu mau samperin, mobilnya udah pergi ke arah sana." Ibu warung menunjukkan ke arah kiri. Kami semua langsung beranjak dan pergi.


"Oh, makasih ya ibu infonya.. Ini saya bayar tadi jajanan teman saya ya." Ivan membayar semua jajanan kami.


"Iya, sama-sama a.." Jawab ibu warung.

__ADS_1


Kami bergegas menuju mobil Ivan sedangkan motorku dan Zain, kami tinggal di parkiran kampus. Ivan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan dia nampak sangat gelisah, begitupun kami semua.


Setelah beberapa lama kami mencari, tapi tidak ada tanda-tanda yang kami temui. Kami bingung untuk menentukan kemana arah langkah kami selanjutnya. Karena jalan di depan ada dua jalur, kiri dan kanan kami jadi bingung menentukan arah, kami semua setuju untuk mengambil jalur kanan. Cukup lama kami menelusuri jalur itu dan tidak menemukan apapun.


Hari sudah semakin senja, kami masih mencari dan tidak menemukan Maria. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang dan mencarinya kembali esok hari. Ingin sekali kami semua melapor ke polisi tapi ini belum 24 jam Maria hilang. Kami pun pulang dengan perasaan yang sedih dan campur aduk.


POV Daffa End


.


.


.


Mamah sangat histeris mendengar Maria di culik, mamah tidak berhenti menangis meratapi nasib anaknya yang sedang dalam bahaya. Ivan tidak tahu bagaimana menenangkan mamah yang tangisnya semakin menjadi. Beberapa saat kemudian setelah mamah tenang, Ivan pamit pulang dan berjanji akan terus mencari Maria lagi esok hari.


Keesokan harinya..


Mamah ingin ikut mencari Maria, tapi Ivan melarangnya karena terlalu berbahaya. Akhirnya hanya Ivan, Aldi, Daffa dan Zain yang mencarinya. Mereka semua naik mobil Ivan lagi dan sekarang Aldi yang mengemudikan mobilnya.


Di persimpangan jalan kemarin, Ivan melihat Dendi dan satu preman yang waktu itu sedang mengobrol. Ivan menyuruh Aldi untuk berhenti dan mengamati gerak gerik Dendi. Feeling Ivan mengatakan bahwa ini semua ulah Dendi. Dendi dan temannya itu mengambil jalur kiri, dan kami mengikuti dari kejauhan agar dia tidak curiga. Jalanan nya sangat sepi dan terdapat pepohonan yang rimbun di sepanjang jalan.

__ADS_1


Dendi berhenti di sebuah gedung tua kosong tak terurus. Kami mengikutinya dengan jarak yang lumayan jauh sehingga Dendi tidak curiga. Ivan menyuruh Daffa dan Aldi untuk berjaga di luar dan menelpon polisi kalau beberapa jam mereka tidak keluar dan ada kegaduhan di dalam, berarti mereka berdua dalam bahaya.


Akhirnya Ivan dan Zain masuk ke dalam mengikuti langkah Dendi tadi. Sampai di sebuah lorong, Dendi belok kanan menuju satu ruangan tersembunyi. Ivan mengikuti Dendi ke ruangan tersebut, sedangkan Zain menunggu di tempat itu untuk mengawasi jika ada teman Dendi yang masuk lagi, Zain bisa memberi kode kepada Ivan melalui alarm jam tangan tangan yang berkedip tiga kali tanpa ada suara.


Daffa dan Aldi pun memakai jam tangan yang sama agar bisa saling memberi kode bahaya kedip 3 kali. Dendi sudah masuk ke ruangan itu, sedangkan Ivan masih mengawasi keadaan sekitar. Setelah di rasa aman, Ivan hendak masuk ke ruangan itu, dan betapa terkejutnya Ivan melihat Maria dan Cantika yang di ikat seperti itu.


Maria melihat ke arah Ivan, dan memberikan kode untuk segera menjauh dari tempat ini. Tapi Ivan bergeming, Ivan masuk ke ruangan itu membuat Dendi terkejut dan hendak menyerang Ivan.


Tapi karena postur tubuh Ivan yang lebih tinggi dan besar darinya, Dendi tidak bisa melawan Ivan. Dia di pukuli oleh Ivan yang sudah terbakar amarah. Dendi tergeletak di lantai sedangkan teman Dendi membantunya menyerang Ivan. Zain yang mendengar kegaduhan langsung menghampiri Ivan di ruangan itu. Dia melepaskan ikatan Cantika dan juga Maria terlebih dahulu. Zain menyuruh Maria untuk lari keluar minta bantuan Daffa dan Aldi yang sudah menunggu di sana.


Setelah itu Zain membantu Ivan menyerang teman Dendi yang sekarang ada dua orang, sedangkan Maria dan Cantika mencoba lari dari tempat itu. Sayangnya, Dendi berusaha bangkit. Dia berdiri dan menjambak rambut Cantika yang terurai. Maria mencoba menolong Cantika tapi Dendi mendorong Maria hingga tubuhnya terpental ke tembok dan kepalanya terbentur.


Maria masih bisa menjaga kesadarannya, saat tiga orang preman datang lagi menyerang Zain dan Ivan. Ivan menyalakan alarm darurat untuk menghubungi Daffa dan Aldi.


Ivan dan Zain melawan 5 orang preman, sedangkan Maria dan Cantika melawan Dendi yang sedang menjambak rambut Cantika. Dendi mencoba menusukkan pisau ke arah Maria karena dia sangat membencinya. Cantika yang berhasil melepaskan jambakan Dendi menarik tangan Maria untuk keluar dari tempat itu.


Dendi mengejar mereka berdua sampai ke lorong, posisi Maria yang berada di belakang Cantika memudahkan Dendi untuk menusukkan pisau itu. Tapi saat Dendi berhasil mendekat, tangan Maria di tarik oleh Cantika dan akhirnya Cantika yang tertusuk pisau oleh Dendi tepat di perut Cantika.


Cantika tergeletak bersimbah darah. Maria histeris dan berteriak, sedangkan Dendi masih mematung di tempatnya. Dia tidak percaya telah menusuk Cantika dengan tangannya sendiri. Teriakan Maria membuat Zain dan Ivan menghentikan perkelahian sengit dengan para preman itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2