
Aku menunggu Indra di depan gerbang.. Belum ada tanda-tanda motor Indra sampai. Duh udah ashar lagi.
Aku masih berdiri menunggunya di tepi jalan. Kak Ivan datang bersama motornya dan menghampiriku lalu berkata,
"Pulang bareng yuk? Aku anterin."
'Tumben banget ngomongnya lembut gini, kesurupan apa dia.' Maria.
"Makasih kak tawarannya tapi ini lagi nunggu pacar aku, palingan sebentar lagi sampai." jawabku lembut.
"Yang kemarin?"
Aku hanya mengangguk.
"Kapan-kapan aku anterin kamu ya."
Aku tidak mendengar perkataannya yang terakhir, aku fokus melihat ke arah Indra yang sepertinya sebentar lagi sampai. Aku tidak nyaman berdiri di samping Kak Ivan.
Aku melihat di kejauhan Indra sudah datang. Setelah sampai di depanku, dia mendelik ke arah Kak Ivan. Indra menarik tanganku untuk langsung naik motornya dan meninggalkan Kak Ivan.
Kak Ivan yang melihat sikap Indra seperti itu hanya tersenyum simpul penuh arti.
__ADS_1
Di jalan aku perhatikan Indra diam saja, aku bertanya padanya, " Sayang, kamu kenapa? Kok diem aja dari tadi, Aku salah ya? Kamu marah sama aku?"
Indra langsung menepikan motornya di sebuah tempat makan. Dia menarik tanganku untuk masuk ke dalam tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Dia juga tidak menjawab pertanyaan ku tadi. Kenapa dia? Salah aku apa?.
Aku duduk di kursi tempat makan itu sedangkan Indra memesan makanannya lalu duduk di sampingku. Sambil menunggu waiters datang membawa makanan, Indra memegang tanganku dan berkata, "Aku nggak marah sama kamu sayang.. Mana berani aku marah sama kamu."
"Terus tadi kenapa diam aja? Itu kan bukan kamu banget.!"
"Aku cemburu." Sambil tersenyum kepadaku.
"Ko bisa? Cemburu sama siapa? Aku kan nggak ngapa-ngapain."
"Kamu berlebihan banget mana mungkin ada yang suka sama aku selain kamu."
"Kamu tau nggak laki-laki kalau udah cari perhatian sama perempuan itu tandanya dia punya maksud."
"Tapi tadi dia cuma ngajak aku pulang bareng, terus aku bilang mau di jemput pacar aku gitu. Lagian nggak mungkin dia suka sama aku yang kayak gini."
"Aku punya firasat lain sama dia Mar. Aku merasa dia bakalan rebut kamu dari aku. Aku takut, aku nggak mau kehilangan kamu. Sekarang aku sudah sangat bahagia bisa jadi pacar kamu."
Wajah Indra yang tadinya sumringah berubah menjadi sendu. Dia menundukkan kepalanya dan aku menyentuh pipinya. Aku mengatakan bahwa aku tidak akan meninggalkan Indra apapun yang terjadi. Karena hatiku sudah jadi miliknya.
__ADS_1
Indra kemudian tersenyum. Tidak lama kemudian, waiters datang membawa makanan yang Indra pesan. Kami pun makan dengan perasaan yang masih tidak karuan.
Tiba-tiba aku teringat Daffa, dia siapanya Indra? Aku bertanya kepadanya. "Tadi di sekolah ada yang namanya Daffa, kamu kenal?"
Indra pun menceritakannya kepadaku kalau dia itu sepupunya, dia pindah dari kampungnya kesini karena ikut kakaknya. Tadinya mau sekolah di SMK Indra, tapi udah nggak terima pendaftaran. Dan cuma sekolahku yang masih menerima calon murid baru.
Dia juga dekat dengannya, katanya Daffa juga pernah lihat foto aku yang di kasih Indra. Jadi tau pacar Indra itu aku dan dia juga tau kisahnya bagaimana. Indra selalu curhat sama dia.
Aku menceritakan bagaimana tadi Daffa mencolek pinggangku. Dan semua temanku yang sudah tau memanggilku Maria Ozawa (Lagi). Aku bilang kalau aku sebal sama dia. "Sebel banget tau aku sama dia, aku udah tenang ya di sekolah baru nggak ada yang tau, eh ini malah nggak sengaja jadi pada tau semua. Nyebelin banget tau nggak sepupu kamu itu.".
"Dia emang suka nyebelin gitu, tapi dia baik kok. Nanti juga kamu terbiasa sama sikap-sikap nya yang nyeleneh."
"Kamu nggak takut dia rebut aku dari kamu?" tanyaku ingin tau apa Indra akan marah. Ternyata tidak.!
"Nggak lah, dia sepupu aku. Aku percaya sama dia karena aku udah tau sifatnya kayak gimana. Dia itu tidak akan mengambil atau merebut apa yang orang lain miliki. Gitu-gitu juga dia punya prinsip loh."
"Hehe, pertanyaan aku tadi bikin kamu marah nggak? Aku cuma tanya aja kok.. Nggak ada maksud apa-apa. Lagian aku cuma sayang sama kamu, nggak tau kenapa kamu itu beda dari cowok lain. Bikin aku kepikiran terus."
Indra yang mendengarkan aku bicara terang-terangan begitu tersenyum dan mencium tanganku.
...****************...
__ADS_1