INSECURE, Cinta Masa Lalu

INSECURE, Cinta Masa Lalu
Penyelidikan Dendi


__ADS_3

POV Ivan


Setelah aku melamar Maria, keesokan harinya ayah, ibu, dan Mela langsung balik ke Kanada. Aku sudah memberitahu kepada Daffa dan Aldi kalau aku sudah melamar Maria kemarin, mereka terlihat senang saat aku mengatakan itu.


Hari ini aku mengajak Daffa dan Aldi untuk bertemu di kediamanku. Aku ingin meminta tolong kepada mereka untuk menyelidiki Dendi, karena aku merasa ada yang tidak beres dengan Dendi. Dan hal yang paling aku takutkan adalah takut jika Maria sampai terluka gara-gara membantu sepupunya yang berurusan dengan Dendi.


"Buat apa Lu nyelidikin Dendi? Apa Lu peduli sama cewek itu?" Aldi berdiri di sampingku dengan tatapan heran.


"Gue bukan peduli sama cewek itu, tapi gue takut Maria kena masalah dengan Dendi. Yang gue pikirin cuma keselamatan Maria, karena dia udah berjanji akan membantu cewek itu mengambil flashdisk yang berisi video mereka."


"Dan gue baru tahu kemarin kalau ternyata pergaulan Dendi itu sudah sangat jauh. Dia bergaul dengan preman-preman dan itu membuat gue sedikit khawatir dengan Maria. Tapi gue juga nggak bisa melarang Maria untuk tidak membantu cewek itu." Jelasku kepada Aldi.


Aku duduk di kursi dan menyangga kepalaku yang tertunduk, aku mengacak-acak rambutku sendiri. Aku stres harus bagaimana memulai menyelidikinya? Sedangkan aku tak tahu info detail tentangnya. Daffa hanya menatapku dan tidak merespon ucapanku, mungkin dia sedang berpikir.


"Telpon Sandra aja Van. Lo tanya sama dia, biasanya Dendi nongkrong dimana." Daffa menepuk pundak ku dan duduk di samping.


"Iya sih, gue harus telpon Sandra tanpa membuatnya curiga." Aku langsung mengambil ponselku yang tergelatak di meja.


Aku menekan tombol panggil dan beberapa saat kemudian, Sandra mengangkat panggilanku.


"Halo Van, ada apa? Tumben telpon.", Tanya Sandra.


"Halo San, ini gue mau tanya.. Dendi ada di rumah nggak ya? Gue mau sharing sama dia nih.. Mau ngajak dia gabung di perusahaan gue kalau dia udah lulus." Jawabku ngasal.


"Ooh.. hari ini dia nggak ada di rumah, biasanya sih dia nongkrong sama temennya di basecamp. Kalau udah ada di rumah, nanti gue telpon Lo ya. Hari ini gue lagi off." Jawab Sandra.


"Oh iya, tapi boleh nggak gue minta alamat basecamp nya?"


"Boleh, alamatnya di xxx" Aku menuliskan alamatnya di secarik kertas.


"Oke San.. Makasih ya."

__ADS_1


Aku menutup Panggilan telpon dengannya dan memberikan kertas itu kepada Aldi dan Daffa. Mereka mengangguk paham dan sudah tahu dimana alamatnya itu berada. Tanpa basa basi, kami bertiga langsung menuju tempat itu.


Di jalan, aku melihat Zain sedang di hadang oleh dua orang preman tinggi besar. Dia di pukuli oleh mereka berdua, aku langsung menyuruh Aldi untuk berhenti. Aku dan Daffa segera turun untuk membantu Zain.


Saat Zain hampir di tusuk oleh pisau, aku menendang tangannya sehingga pisau itu terhempas entah kemana. Sedangkan Daffa melawan preman satunya lagi yang hendak menyerang Zain.


Aldi membantu kami melawan preman itu, dua lawan empat dan mereka berdua kewalahan melawan kami berempat, mereka memilih kabur meninggalkan kami dan sesuatu terjatuh dari kantong jaket mereka.


Aku melihat sesuatu yang terjatuh itu, dan betapa terkejutnya aku melihat foto sepupu Maria yang sedang tertidur dan tidak memakai apapun.


Gilak!! Mata suci ku sudah ternoda dengan melihat foto itu.


Daffa, Aldi dan Zain menghampiriku yang sedang berjongkok mengalihkan pandanganku dari foto tak senonoh itu.


"Kenapa Van?" Tanya Daffa, dia mengambil foto itu.


"Astagfirullah.." Daffa tersentak melihat foto di tangannya itu.


Begitupun dengan Aldi yang terkejut dengan foto itu, kecuali Zain. Dia nampak datar dan tidak mengekspresikan apapun.


"Nggak enak ngobrol di sini Van, kita ke rumah gue ya." Ajak Zain, dan aku setuju.


Zain segera menaiki mobilnya dan kami bertiga mengikuti dari belakang.


Sampai di rumah Zain, kami semua langsung menuju kamarnya. Di sana dia langsung menceritakan kejadian sebenarnya kenapa preman itu sampai memukulinya.


Flashback Zain


Hari ini aku pergi ke basecamp Dendi, aku sangat marah kepadanya. Dia adalah sepupuku, anak dari Kakak ibuku. Dendi menyukai Kia, kekasihku. Aku tidak terima itu, padahal jelas-jelas dia sudah mempunyai pacar dan aku tahu dia sudah menghamili pacarnya itu.


Saat aku sampai di basecamp, dia sedang berkumpul dengan teman-temannya yang preman itu. Aku sedikit menguping pembicaraan mereka di balik pintu.

__ADS_1


"Den, gimana pacar Lo itu.. mau Lo terusin atau kasih kita-kita?" Tanya salah satu preman yang entah siapa aku hanya mendengar suaranya saja.


"Gue bakalan buang Cantika, dia udah jadi MIRA (Milik Rame-rame).. Ambil aja siapa yang mau. Sekarang gue lagi jatuh cinta sama cewek manis itu, pacarnya Zain. Gue bakalan rebut dia dari Zain." Jawaban Dendi membuat amarahku semakin tidak terkendali.


Aku mendobrak pintu dan ku lihat mereka sedang melihat foto-foto pacarnya Dendi yang sedang tertidur tanpa memakai apapun. Aku geram kepadanya dan aku memukul Dendi di hadapan dua preman itu. Dendi yang tidak terima aku pukul, membalas pukulan ku sehingga kami berdua terlibat perkelahian.


Preman-preman itu membantu Dendi yang sudah babak belur karena aku pukul. Aku marah karena dia sama sekali tidak menghargai ku, dia ingin merebut Kia dariku dan mencampakkan pacarnya. Dasar b*jing*n!!


Dan situasi kondisi semakin parah karena aku harus melawan dua preman yang tubuhnya lebih besar dariku itu, aku berlari keluar dan kabur tapi mereka langsung mengejar ku. Di jalan, aku berhasil di hadang oleh mereka, sampai akhirnya kalian membantuku lepas dari preman-preman itu.


Flashback off


"Makasih ya kalian udah bantuin gue tadi.. Beruntung gue masih hidup walaupun muka gue udah ancur gini." Ucap Zain yang masih memegang wajahnya yang tampan itu sudah lebam penuh darah dan luka memar.


"Gue nggak nyangka Dendi bisa senekat itu. Yang aku tahu Dendi itu orang yang sangat baik dan penurut, sekarang dia sudah sangat jauh berbeda. Lu tau Zain, pacarnya Dendi itu sepupu Maria." Ucapku.


"Apa? Cantika sepupu Maria? Gawat.. Maria pasti dalam bahaya sekarang kalau Cantika cerita semua tentang Dendi, dan gue yakin Maria pasti bakalan bantuin Cantika." Zain panik dan terlihat gusar saat mengatakan itu.


"Justru itu Zain, gue sebenernya nggak mau Maria terlibat sama urusan Cantika tapi Lu tau sendiri kan kalau Maria nggak tegaan orangnya. Dia pasti bantuin orang yang butuh bantuannya apalagi ini sepupunya." Hatiku berdegup kencang, takut suatu hal yang buruk terjadi kepada Maria_ku..


"Jadi sekarang kita harus gimana? Lanjut selidiki nya atau nggak?" Tanya Aldi.


"Lanjut!! Karena gue nggak mau terjadi apa-apa sama Maria." Jawabku tegas.


"Kalian mau selidiki Dendi? Gue ikut!! Gue juga nggak mau di injak-injak harga diri gue sama dia, terlebih gue nggak mau terjadi apapun kepada teman-temanku." Zain menawarkan diri untuk bergabung dengan kami.


"Oke, untuk hari ini jangan dulu bertindak karena situasinya yang tidak memungkinkan. Lebih baik kita susun strategi dulu agar semua tidak terulang lagi kejadian kayak gini." Ucapku kepada mereka semua.


"Iya, gue setuju. Kita harus main otak buat ngadepin Dendi dan preman-preman itu. Jangan gegabah dan bertindak konyol yang malah akan merugikan kita pada akhirnya." Jawab Daffa.


Dan hari itu kami sepakat untuk menyelidiki Dendi di waktu yang tepat setelah semua persiapan matang tanpa menimbulkan korban, karena yang kami hadapi bukan sembarangan orang tapi preman-preman yang memang sudah level tinggi di kelompoknya.

__ADS_1


POV Ivan End.


...****************...


__ADS_2