INSECURE, Cinta Masa Lalu

INSECURE, Cinta Masa Lalu
Zain VS Dendi


__ADS_3

POV Zain


Ivan, Daffa dan Aldi pergi setelah kami merencanakan sesuatu untuk menyelidiki Dendi. Aku mengompres luka lebam di wajahku, sakit sekali sampai-sampai aku sedikit menjerit saat mengompres luka itu. Untung saja orang tuaku sedang pergi ke luar kota. Kalau tidak, sudah di pastikan perang dunia ketiga akan di mulai.


Ibu pasti akan melaporkan Dendi ke polisi, dan orang tua Dendi alias pamanku pasti akan memusuhi keluargaku. Aku sangat bingung menghadapi ulah Dendi, apa aku harus memberitahu Kak Sandra bagaimana perilaku asli adiknya itu? Atau aku pendam sendiri dan membiarkan keluarganya tahu sendiri sikap buruk Dendi selama ini.


Aku sangat khawatir dengan keadaan Maria saat ini, dia pasti dalam bahaya kalau sampai Cantika menceritakan sifat Dendi kepadanya. Aku lebih khawatir kepada Maria daripada Kia, karena Dendi pasti tidak akan menyukai orang yang ikut campur masalahnya. Sedangkan kepada Kia, dia tidak akan mencelakakannya karena dia menyukai Kia. Dia pasti akan mencari perhatian Kia dan membangun image yang baik serta menunjukkan the best part dalam dirinya.


Kepalaku sangat pening dan hampir pecah memikirkan semua ini. Sedangkan dua Minggu lagi ujian nasional akan di mulai. Aku harus fokus menghadapi ujian, tapi masalah demi masalah datang silih berganti dan bertubi-tubi.


Aku bahkan belum membaca apalagi mempelajari try out kemarin yang guru ajarkan saat kami pemantapan. Otakku tidak bisa menangkap pelajaran karena terus memikirkan ulah Dendi yang selalu menggoda Kia. Terlebih sekarang Maria pasti kena masalah kalau bersedia membantu Cantika.


3 hari kemudian..


Hari ini aku sudah bersiap pergi ke sekolah. Aku sudah menaiki motorku tapi saat aku keluar gerbang rumahku, Dendi menghadang ku. Wajahnya di penuhi dengan amarah, dia menarik lenganku untuk turun dari motor.


"Turun Lu!!" Bentaknya kepadaku sambil menarik lengan ku.


Aku langsung turun dari motor dan mengelak tangan Dendi dari lenganku.


"Mau apa lagi Lu? Gue nggak mau ada urusan lagi sama Lu." Aku menatapnya dengan tatapan tajam.


"Lu masih punya urusan sama gue Zain. Lu kira gue bakalan lepasin Lu gitu aja yang udah pukul gue sampe muka gue hancur?" Dendi mendorong tubuhku sampai membentur depan gerbang rumahku.


"Terus sekarang Lu mau apa, hah? Mau main kekerasan lagi? Mau Gue beberkan kelakuan Lu sama kak Sandra dan paman?" Ancam ku kepadanya.


"Berani Lu laporan sama orang tua gue atau kak Sandra, abis temen-temen Lu!! Termasuk si Maria. Lu pikir gue nggak tau kalau Lu Sempet suka sama dia?" Aku terkejut mendengar ucapan Dendi.


Bagaimana bisa dia tahu kalau dulu aku pernah suka sama Maria? Aku kan nggak pernah cerita sama siapapun. Aku memendam perasaanku kepada Maria seorang diri.


"Jangan pernah Lu sentuh Maria sedikit pun!! Kalau sampai itu terjadi, gue nggak akan segan-segan buat laporin Lu ke polisi." Aku menaiki motorku lagi dan segera berlalu meninggalkan Dendi.

__ADS_1


'Sial!! Gimana bisa sih si Dendi tahu tentang itu? Aku harus bicarakan ini dengan Ivan kalau Maria dalam bahaya.' Batinku.


Aku mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, hatiku tidak tenang saat dendi mengatakan itu kepadaku. Tanpa aku sadari, Dendi mengikuti ku dan menghadang ku di tengah jalan, sontak aku menghentikan motorku secara tiba-tiba.


"Gilak Lu Den!! Udah sana, gue mau ke sekolah dulu." Bentak ku kepadanya. Tapi Dendi malah turun dari motornya dan semakin mendekat ke arahku.


"Turun Lu, nggak usah sekolah segala.. Gue masih ada urusan sama Lu, Gue belum bales semua pukulan Lu sama gue." Dendi mendorongku dari motor sampai aku terjatuh ke jalan.


Aku bangkit berdiri dan melawannya, tapi kondisiku yang sedang kurang fit membuatku sedikit kewalahan melawan Dendi. Aku masih terus di pukul olehnya, samar-samar aku mendengar suara Maria berteriak dari arah kejauhan.


"Zain.." Teriak Maria memanggil namaku, dia berlari ke arahku yang terus di pukul oleh Dendi.


"Tolong, tolong.. Pak tolong, teman saya di pukulin." Maria terus meminta bantuan orang lain yang lewat, sedangkan Dendi tidak menyadari kehadirannya karena dia fokus memukuli wajah dan tubuhku.


"HEI, BERHENTI..!!" Seorang pria dewasa menghampiri kami, dan Dendi menoleh ke arahnya. Dia langsung berhenti memukuliku, dia mendelik ke arah Maria dan segera meninggalkan aku tanpa berkata sepatah kata pun.


Suara knalpot bisingnya terdengar sangat menggangu pendengaran saat dia melajukan motornya dengan sangat kencang. Aku yang masih tergeletak di jalan tidak bisa bergerak sedikitpun karena tidak bertenaga sama sekali.


Maria berjongkok dan menyangga kepalaku di pahanya.


"Pak, tolongin saya, kita bawa teman saya ke klinik ya.." Ucap Maria kepada pria itu.


"Iya neng, saya panggilkan angkot dulu ya." Bapak itu pergi untuk memanggil angkot.


Maria menyentuh wajahku dengan lembut, tatapan kekhawatirannya itu membuatku merasa sangat nyaman sekali di perhatikan olehnya. Aku menatap mata indahnya itu tapi Maria memalingkan wajahnya dan berkata,


"Zain, aku harus membawamu ke klinik." Maria hendak berdiri tapi aku mencegahnya dan menarik tangan Maria.


Dia memapah tubuhku dan menyadarkannya di bawah pohon rindang pinggir jalan. Walaupun aku sedikit kasian melihatnya bersusah payah menahan tubuhku yang tinggi seperti itu, tapi Maria terus saja berusaha memapah ku. Maafkan aku ya sahabatku yang imut dan mungil..


"Nggak usah Mar, telpon saja ibuku dan bilang kita lagi di jalan xxxx." Maria mengambil ponselku dan menelpon ibuku. Dia langsung berlari ke arah pria tadi untuk mengatakan bahwa ibuku akan datang menjemput kami.

__ADS_1


Aku melihatnya sedikit berlari ke arahku, dia terlihat sangat imut dan manis sekali. Maria duduk di sampingku dan bertanya kejadian sebenarnya. Aku pun menceritakan detail masalahku dengan Dendi dan mengatakan bahwa dia adalah sepupuku.


"Apa? Jadi Dendi itu sepupu kamu?" Maria terkejut mendengarnya.


"Iya." Jawabku singkat.


"Kenapa kamu nggak bilang sih kalau Kak Sandra dan Dendi itu sepupu kamu.? Tau gitu dari dulu aku hubungin Kak Sandra untuk menanyakan masalah Kak Kayla." Maria berkata seolah-olah aku yang salah di sini.


"Lah, kamu sendiri nggak pernah nanya sama aku. Boro-boro nanya, anggap aku aja nggak pernah kan? Kamu selalu menjaga jarak denganku jadi gimana aku bisa kasih tahu kamu tentang saudaraku?" Ucapan ku membuat Maria terdiam.


Dia tidak berkata apapun lagi setelah aku mengatakan itu. Sepertinya Maria merasa bersalah padaku, dan itu membuat aku jadi tidak tega padanya.


"Maaf Mar.. Aku nggak bermaksud menyinggung perasaan kamu.." Aku meminta maaf padanya.


"Bukan salah kamu kok.. emang aku yang salah." Jawabnya singkat.


Aku hanya terdiam..


"Kamu berangkat sekolah aja, aku nggak apa-apa sendiri di sini. tapi bilang sama guru ya kalau aku sakit." Ucapku memecah keheningan.


"Enggak, aku juga bakalan bolos sekarang.. Aku mau temenin kamu." Maria melihat ke arahku dan tersenyum.


Aku terpaku..


Baru kali ini dia menatapku dan tersenyum tulus padaku. Seketika aku tidak bisa mengkondisikan perasaanku, tapi aku beristighfar dalam hati. Maria milik Ivan, dan aku sudah punya Kia.


Selang beberapa menit kemudian, mobil ibuku datang dan kami berdua masuk ke dalam mobil untuk segera berlalu dari tempat itu..


POV Zain End


...****************...

__ADS_1


__ADS_2