
"Kamu udah siap, nyanyi apa?" Tanyanya yang baru saja aku tau kalau namanya adalah Daffa.
Aku menganggukkan kepala dan menjawab, "Rindu, Agnez mo."
"Oke siap, ayo kita mulai."
Seketika semua teman-temanku diam, tidak ada yang bicara sedikit pun suasana menjadi sunyi senyap.
Aku melihat dia yang sedang memainkan gitarnya dengan serius, lagu ini kan lebih menonjolkan piano jadi sengaja aku pilih ini pengen tau dia bisa ga pake gitar mengiringi lagu ini. Ternyata jago juga dia main gitarnya. Dan ketika part untuk bernyanyi masuk, aku langsung bernyanyi...
.
.
.
(Hening)
.
.
.
"Rindu"
Selama aku mencari
Selama aku menanti
Bayang-bayangmu di batas senja
Matahari membakar rinduku
Ku melayang terbang tinggi
Bersama mega-mega
Menembus dinding waktu
Ku terbaring dan pejamkan mata
__ADS_1
Dalam hati ku panggil namamu
Semoga saja kau dengar dan merasakan
Getaran di hatiku
Yang lama haus akan belaian mu
Seperti saat dulu
Saat saat pertama kau dekap dan kau kecup bibir ini
Dan kau bisikkan kata-kata aku cinta kepadamu
Peluhku berjatuhan
Menikmati sentuhan
Perasaan yang teramat dalam
Telah kau bawa segala yang ku punya
Segala yang ku punya
Getaran di hatiku
Yang lama haus akan belaian mu
Seperti saat dulu
Saat saat pertama kau dekap dan kau kecup bibir ini
Dan kau bisikan kata-kata yeaah
Aku cinta kepadamu ooho
Kepadamu..
Suaraku seperti menggema di saat terakhir lagu itu. Dan ku lihat semua Panitia OSIS, teman-teman dan dia yang hadapanku melongo melihat ke arahku. Aihh aku malu sekali. Semua mata tertuju padaku, udah kaya Miss Indonesia aja slogannya (Semua mata tertuju padamu).
Aku memberanikan bicara. "Kak Nara, aku sudah selesai."
__ADS_1
Mereka pun menjawab gelagapan, "Oh iya iya maaf, tepuk tangan buat Maria dan Daffa. Bagus banget suara kamu kayaknya harus ikut ekskul musik deh!! Kamu juga main gitarnya keren banget." Puji Kak Nara dan Kak Dira.
"Insyaallah kak.. Makasih semua."
Aku pun kembali duduk, satu persatu teman-temanku melakukan talent masing-masing. Ada yang melukis, ada yang baca puisi, ada yang cerita dengan berbagai ekspresi, ada yang melawak, membuat suasana di kelas ini menjadi sangat ramai sekali.
Daffa duduk di sampingku dengan membawa gitarnya. "Bagus juga suara kamu, pantes aja dia tergila-gila sama kamu, lembut."
"Siapa?"
"Tanya aja sama pacar tampan kamu. Dia pasti tau."
"Indra? Apa hubungannya?"
"Tanya aja dia."
Dia pun kembali ke tempat duduknya.
***
* POV Daffa
Satu kata buat dia, Wow.. Amazing banget.
Aku nggak nyangka suaranya bisa sebagus itu. Dengan suara sebagus itu dia masih tidak pede hanya karena fisiknya yang tidak tinggi alias pendek. Padahal menurutku dia tidak jelek, tidak hitam juga. Selama ini aku hanya pernah melihat foto nya saja.
Aku tau Maria dari Indra, sepupuku. Setiap dia main ke kampung halamanku selalu saja menceritakan cewek mungil ini. Aku sampai penasaran dengannya, lalu Indra membawa foto nya dan ku lihat biasa aja. Tak ada yang spesial dari cewek ini. Kenapa Indra begitu tergila-gila sama cewek mungil ini?
Padahal di luaran sana banyak banget cewek yang ngantri sama dia, udah ganteng, pinter, sopan, alim lagi. Kurang apa coba? Tapi kenapa dia memilih cewek ini yang nggak selevel dengannya? Itu pikiranku sebelum bertemu dengannya langsung.
Sekarang kenyataannya berbeda. Pantas Indra sangat mencintai dan menyayanginya hampir 3 taun baru menyatakan cinta. Setia banget dia.. Kalau aku mungkin udah nyari yang lain aja daripada ngga jelas kayak gitu.
Dia cewek imut, bola matanya hitam, kulit nya bersih hanya sedikit kecoklatan tapi terlihat sangat eksotis. Dan lagi senyumannya bikin orang pengen lihat terus. Seperti ada magic dalam senyumannya itu.
Indra pernah bilang kalau dia selalu insecure sama dirinya sendiri. Padahal dia sangat manis sekali, benar-benar manis. Aku saja jadi ingin memacarinya kalau tidak ingat itu pacar sepupuku sudah aku Embat.
Waktu itu aku sedang melakukan atraksi bersama paman dan sepupuku yang lain di sebuah lapangan. Ayahku memang mempunyai paguyuban untuk orang-orang yang berminat pada kesenian debus.
Aku di ajari oleh ayah berbagai macam atraksi. Tapi aku juga sebagai laki-laki termuda tetap menyukai hal-hal yang modern. Aku tak terlalu fokus sama kesenian debus, aku suka main gitar dan drum. Aku juga sempat punya band waktu aku SMP.
Aku melihat Maria sedang ada di kerumunan orang-orang. Aku menyipitkan mataku memastikan apa benar itu Maria yang ada di foto, kayaknya emang benar. Tapi waktu atraksi sudah selesai, aku tidak melihatnya lagi. Dan aku mencarinya kemana-mana tapi tidak ketemu.
__ADS_1
Aku pindah ke kampung Indra sekitar satu bulan yang lalu bersama kakakku. Sedangkan ayah dan ibu tetap di kampung ku yang dulu. Kakakku harus kerja di perusahaan yang tempatnya dekat dengan kampung Indra, jadilah aku ikut dengannya dan sekolah di SMA ini.
* POV Daffa End