INSECURE, Cinta Masa Lalu

INSECURE, Cinta Masa Lalu
Cinta apa adanya


__ADS_3

POV Author


Flashback


Dokter : Maaf ibu,, saya harus menyampaikan kabar kurang menyenangkan ini kepada ibu. Kondisi anak ibu sekarang sedang dalam fase pemulihan, tapi anak ibu mengalami gangguan bicara akibat trauma yang di alaminya. Trauma ini langsung terkoneksi dengan otak nya yang menyimpan memori peristiwa yang tidak menyenangkan sehingga anak ibu kesulitan untuk berbicara.


Mamah : (Terkejut, sedih) Astaghfirullah.. Dok.. Apa anak saya akan pulih kembali seperti sediakala? Apa yang harus saya lakukan agar anak saya cepat pulih?


Dokter : Kabar baiknya anak ibu siuman lebih cepat dan bisa di tangani dengan segera. Ibu harus terus memberikan semangat dan tidak membebaninya dengan pikiran yang negatif. Ajak dia mengobrol hal-hal yang menyenangkan hatinya. Dukungan dari orang yang disayangi nya akan sangat berpengaruh saat ini terhadap kondisi traumatik yang di alaminya.


Mamah : Terima kasih atas informasinya dokter. Tolong bantu kesembuhan anak saya semaksimal mungkin.


Dokter : Iya Bu, kami akan melakukannya dengan maksimal.


Flashback End


Ivan menghampiri ibu Maria yang sedang duduk melamun di bangku luar rumah sakit. Ivan merasa ada yang disembunyikan dari ibu Maria kepadanya, dan ia ingin tahu itu.


"Mah, apa yang terjadi dengan Maria.?" Tanya Ivan.


Awalnya ibu Maria tidak mau menceritakan perihal ini, tapi dia pikir Ivan harus tahu apa yang terjadi dengan Maria. Apa dia akan bertahan atau mundur hubungannya dengan Maria.


Akhirnya ibu menceritakan semuanya kepada Ivan.

__ADS_1


"Itulah yang terjadi kak, mamah tidak mau kamu terpaksa bertahan karena kasian dengan kondisi Maria saat ini." Ucap ibu Maria.


"Mah apapun yang terjadi sama Maria, aku akan selalu di sampingnya. Aku gak peduli apapun karena aku sangat menyayangi Maria. Walaupun sekarang Maria mengalami gangguan berbicara, aku ga peduli mah." Jawab Ivan dengan tegas.


Ibu Maria meneteskan air mata mendengar ucapan Ivan. Ia merasa tidak ada kebohongan dari apa yang di ucapkan Ivan.


"Aku akan tetap menikahi Maria mah.. Aku ga akan tinggalkan dia dalam situasi apapun. Aku akan berusaha membuat Maria seperti dulu lagi, karena ini semua gara-gara aku.. Harusnya aku yang ada di posisinya bukan Maria." Ivan tidak bisa menahan air matanya saat mengucapkan itu. Hatinya berdegup kencang menahan emosi yang kian tak bisa tertahankan.


Rasa sayang, rasa takut kehilangan, rasa menyesal karena tidak bisa melindungi wanita yang dicintainya bercampur jadi satu. Ivan benar-benar tidak bisa meninggalkan Maria dalam kondisi apapun, cintanya tidak bisa di ragukan lagi. Cintanya kepada Maria bukan sekedar ia merasa bersalah karena Maria telah mengorbankan dirinya, tapi memang karena terlalu besar rasa sayang dan cinta itu untuk Maria.


Setelah mengatakan itu, Ivan kembali ke dalam ruangan untuk melihat Maria lagi, sedangkan ibu Maria harus keluar untuk membeli makan. Ivan menghampiri Maria yang sedang memejamkan matanya karena efek obat yang di berikan suster tadi. Ivan mengusap kepalanya dengan lembut, di tatapnya wajah kekasihnya itu dengan tatapan lembut penuh harapan, dia menangis..


"Sayang, apapun yang terjadi sama kamu, aku gak akan pernah meninggalkan kamu.. Aku gak sanggup untuk melakukan itu karena aku sangat menyayangimu.. Gimana pun kamu, aku akan tetap bertahan. Rasa sayangku ke kamu udah gak main-main, aku terima gimana pun kamu." Ivan mencium kening Maria yang masih tertidur.


Ivan masih termenung mengingat kejadian demi kejadian itu, sesekali dia tersenyum jika mengingat tingkah konyolnya yang membuat Maria tertawa. Sekilas ia tampak seperti ODGJ, senyum-senyum sendiri dan terkadang merengut. Tatapan Ivan kosong, saat ini dia benar-benar stres. Wanita yang dicintainya harus merasakan kepedihan dalam hidupnya gara-gara dia. Andai dan andai yang bisa dia salahkan saat ini.


Tapi walau bagaimanapun semua ini sudah suratan takdir, dan ini sudah jalan dari Yang Maha Kuasa untuknya dan Maria. Dan sekarang yang bisa ia lakukan hanya berdoa dan mensupport Maria agar bisa cepat pulih.


"Assalamualaikum." Suara Daffa terdengar di ambang pintu.


"Wa'alaikumsalam. Daf, mana Aldi dan Zain?" Jawab Ivan sambil menoleh ke arah Daffa yang seorang diri.


"Aldi lagi mengantar ibunya rawat jalan sedangkan Zain, dia sedang sibuk mengurus berkas perkara Dendi cs." Daffa menghampiri Ivan yang sedang duduk di kursi.

__ADS_1


"Van, gimana keadaan Maria?" Tanya Daffa sambil berdiri tapi tatapan matanya melihat ke arah Maria.


"Kabar baik dan buruk Daf." Jawaban Ivan yang ambigu membuat Daffa bingung.


"Maksud loe apa Van?" Sekarang Daffa duduk di samping Ivan, dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Maria.


Ivan menceritakan keadaan Maria kepada Daffa. Dan Daffa nampak terkejut mendengar semua yang di ucapkan Ivan.


"Astagfirullah, separah inikah yang harus di alaminya?" Daffa melihat ke arah Maria lagi dengan tatapan sendunya.


"Iya Daf. Dan gue merasa bersalah banget gak bisa jaga Maria dengan baik. Gue bahkan merasa kalo gue orang paling gak berguna saat ini. Dulu Indra bisa menjaga Maria dengan baik, membuat Maria tidak merasakan luka sedikitpun dengan mengorbankan dirinya sendiri. Sedangkan gue? Gue malah di lindungi oleh Maria!! Dan sekarang Maria harus menanggung semua itu." Emosi Ivan kembali menggebu-gebu, dia benar-benar tidak bisa mengontrolnya saat ini.


"Sabar Van, semua pasti ada hikmah di balik cobaan yang menimpa kita. Gue yakin Maria tidak menyalahkan siapapun di sini, apalagi loe. Dia sangat mencintai loe Van, dia lakuin itu ikhlas karena dia gak mau kehilangan orang yang dia sayang untuk kedua kalinya. Gue tahu saat-saat terpuruk bagi Maria adalah kehilangan orang yang dia sayang." Ucapan Daffa sedikit meredakan emosi Ivan yang sudah memuncak.


"Dan menurut gue, Maria gak akan menyesal dengan keputusannya mengorbankan dirinya demi loe." Sambung Daffa.


Saat mereka mengobrol, Maria membuka matanya dan menggerakkan tangan kanannya. Ivan dan Daffa yang melihat itu langsung menghampiri Maria. Ivan segera memencet tombol panggil untuk memanggil suster, tidak lama kemudian dua orang suster pun datang dan memeriksa keadaan Maria.


"Tolong kakak-kakak tunggu di luar saja ya.. Biarkan saya yang memeriksa kondisinya." Ucap suster itu.


Mereka berdua pun keluar ruangan dan menunggu hasil dari suster yang memeriksanya.


POV Author End

__ADS_1


...****************...


__ADS_2