INSECURE, Cinta Masa Lalu

INSECURE, Cinta Masa Lalu
Takdir


__ADS_3

POV Ivan


Sudah seminggu Maria belum sadarkan diri. Aku benar-benar stres. Aku tidak mau melakukan aktivitas apapun selain menunggunya di rumah sakit, bahkan skripsi ku terabaikan karena ini. Aldi, Daffa, dan Zain selalu bergantian menghiburku, mereka selalu datang untuk menjenguk Maria.


Sedangkan Cantika, dia tidak terselamatkan dan meninggal bersama dengan janinnya. Tiara sangat histeris, begitu pun dengan mamah Maria. Cantika meninggal setelah 3 hari bertahan di rumah sakit karena banyak kehilangan darah. Dan darah Cantika yang langka menyulitkan pihak RS untuk menemukan donor darah yang sesuai.


Dendi dan teman-temannya di vonis hukuman mati karena selain pembunuhan, mereka juga pengedar barang terlarang. Sandra berulang kali meminta maaf kepadaku dan mamah, dia tidak tahu adiknya bisa senekat itu dan terjerumus ke dalam pergaulan yang seperti itu.


Dan polisi sangat berterimakasih kepada kami yang sudah membongkar sindikat pengedar itu yang sudah sangat lama menjadi buronan.


Ibu dan ayahku tahu masalah yang menimpaku di sini. Mereka pulang ke Indonesia dan mencoba membujuk agar aku mempunyai semangat hidup lagi.. Tapi aku tidak bisa. Hatiku teramat sakit saat melihatnya mengorbankan diri demi aku. Harusnya aku yang melindunginya bukan sebaliknya.


Aku berada di titik terendah ku saat ini. Aku melihat orang yang sangat aku sayangi terbaring lemah dan sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya. Apa yang harus aku lakukan? Aku terus berdoa kepada Allah, semoga Maria selamat dan bisa pulih seperti sedia kala.


"Kak Ivan, makan dulu sana. Biar mamah yang jaga Maria." Ucap mamah.


"Ga usah mah, aku ga lapar." Jawabku sambil terus menundukkan kepalaku.


"Ivan.. Ibu tau ini berat tapi kamu harus jaga kesehatan kamu agar nanti saat Maria siuman, kamu bisa memberikan semangat kepadanya." Ucap ibuku.


"Ayo Van, kita keluar dulu cari makan." Ajak ayah.


Karena mereka terus memaksa akhirnya aku dan ayah pun pergi keluar untuk makan.


Sampailah aku di tempat makan. Aku pun makan dengan ayahku di tempat itu tapi tidak berselera sedikitpun. Makanan ku masih banyak dan aku enggan untuk menghabiskannya dan ayah tidak bisa lagi memaksaku untuk makan.


Saat aku sedang melamun, sekelebat bayangan peristiwa itu terus saja menghantui pikiranku. Aku mulai berteriak-teriak saat bayangan Maria yang melindungi tubuhku tertusuk pisau. Kepalaku sangat pening, sakit sekali rasanya sampai-sampai ayah begitu panik melihat kondisiku.


Dengan segera ayah memapahku dan membawaku ke tempat yang agak sepi. Kami berdua berdiam diri di tempat yang sepi itu. Ayah mencoba untuk menenangkan aku yang sudah tidak mengontrol emosiku sendiri.


"Van, sadar Van.. Istighfar." Ucap ayah.


Aku tidak mendengarkan ayah dan terus menekan kepalaku yang semakin terasa sakit...

__ADS_1


"Van, istighfar ayo ikuti ayah. Astaghfirullah hal'adzim, aladzi laailaha illahuwal khayyul qoyyuumu wa atuubu ilaiih."


Ayah terus menuntunku sampai akhirnya rasa sakit yang begitu hebat pun sedikit demi sedikit menghilang.


Aku memejamkan mata dan mulai beristighfar dengan khusyuk dalam hati. ",Astaghfirullah hal'adzim, aladzi laailaha illahuwal khayyul qoyyuumu wa atuubu ilaiih."


Terasa sangat menenangkan hati, dan tanpa terasa air mata mengalir membasahi pipiku saat aku mengucapkan istighfar dalam hati. Selama ini aku tidak ikhlas dengan apa yang terjadi saat ini dalam hidupku, aku mengeluh dan menyalahkan bahwa Allah tidak adil padaku. Padahal ini semua sudah takdir Allah.


Selalu ada hikmah di balik ujian yang kita terima.. Ya mengucap memang semudah itu, tapi praktik nya amatlah sulit. Sesakit ini yang aku rasakan, tapi aku pun harus menyadari bahwa tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini, semua sudah tercatat dan kita hanya menjalankan skenario Allah.


Aku harus bisa bangkit dan tidak mengeluh, semua sudah jalan nya dan aku harus ikhlas apapun yang terjadi. Aku hanya bisa terus berdoa untuk Maria, semoga cepat sadar dan bisa melewati masa-masa kritisnya.


Maafkan aku ya Allah..


Selamatkan Maria... Selamatkan dia karena aku sangat mencintainya. Tapi jikalau engkau berkehendak lain, lapang kan dadaku dan kuatkan hatiku yang rapuh ini. Aku sungguh tidak bisa membayangkan jika engkau mengambilnya secepat ini dariku.


Berikan kami yang terbaik menurut engkau ya Allah, aku mencoba untuk ikhlas dan sabar atas semua cobaan ini. Karena aku tahu engkau sudah mempersiapkan kebahagiaan di akhir jalanku, engkau maha tahu segalanya sedangkan aku tidak.


POV Ivan End


.


.


.


Aku mendengar suara mamah yang sedang mengaji dengan merdunya. Aku mencoba membuka mataku yang terasa sangat berat sekali. Aku terus berusaha dan aku pun bisa membuka mata ini, walaupun pandanganku kabur dan samar.


Dalam keadaan terbaring, ku edarkan bola mataku ke sekeliling. Aku hanya bisa melihat ke atas, leherku terasa sangat sakit saat aku mencoba mengedarkan pandangan ku ke kanan dan kiri. Ada rasa perih di bagian punggungku yang tidak tertahankan..


Aku meringis kesakitan, mamah menghampiri aku dan tersenyum bahagia sampai meneteskan air mata.


"Sayang, kamu udah siuman? Alhamdulillah ya Allah.." Ucap mamah sambil menggenggam tanganku.

__ADS_1


Aku hanya mengedipkan mata dan berusaha tersenyum walau sangat sulit.


"Mah, biar saya panggilkan dokter." Ucap ibunya kak Ivan.


Berapa lama aku tak sadarkan diri?


Kenapa seluruh badanku terasa sangat sakit sekali?


Dan kenapa banyak sekali peralatan medis yang menempel di tubuhku?


Ingin sekali aku bertanya kepada mamah, tapi aku tidak bisa mengeluarkan suaraku walau hanya berbisik. Suaraku seperti tertahan di kerongkongan, sakit sekali.


Tidak lama kemudian dokter datang dan memeriksa keadaanku. Mamah di panggil dokter untuk berbicara empat mata di ruangannya. Sekarang di ruangan ini hanya ada aku dan ibunya Kak Ivan serta Mela.


Kak Ivan datang dan begitu senang melihatku yang sadar dan sudah bisa membuka mata.


"Alhamdulillah ya Allah.. Sayang, kamu udah sadar? Aku seneng banget. Terima kasih ya Allah." Ucap Kak Ivan.


Masih sama seperti tadi, aku hanya bisa mengedipkan mata dan tidak bisa untuk bersuara sedikitpun.


Aku hanya tersenyum, tidak ingin melihat Kak Ivan semakin mengkhawatirkan aku. Ku lihat wajahnya yang tampan menjadi sedikit kusam karena tidak terurus, matanya sembab dan bibirnya pucat.


Tidak lama kemudian mamah datang dengan wajah yang sendu, kenapa mamah? Apa yang dokter katakan tentang keadaanku? Mamah terlihat berusaha tersenyum walau sebenarnya aku tahu mamah menyembunyikan sesuatu dariku.


Sayangnya aku tidak bisa berbicara untuk saat ini, suaraku tidak keluar sekeras apapun aku berusaha. Semoga saja tidak terjadi apa-apa kepadaku dan dugaan ku kepada mamah tidak benar.


Aku ingin semua kembali berjalan sebagaimana mestinya.


Terima kasih ya Allah.. Untuk semua nikmat yang telah engkau berikan kepadaku...


Semoga engkau senantiasa melindungi aku dan orang-orang yang aku sayangi..


Aamiin ya rabbal 'alamin....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2