
Setelah kami resmi berpacaran, aku dan Indra berjanji untuk selalu berkata jujur. Apapun yang terjadi kejujuran nomor satu. Jangan sampai ada dusta di antara kita, karena itu amatlah sangat menyakitkan.
Saat kami sedang berdua, teman-teman membubarkan diri katanya pak Ilham hanya memberikan tugas untuk mengisi LKS saja karena ada rapat guru yang mengharuskan semua siswa pulang lebih awal.
Syukurlah kalau begitu. Aku mau ke rumah Kia, apa dia baik-baik aja atau lagi sakit. Aku mengajak Indra agar dia mau menemani aku.
"Dra, kita ke rumah Kia yuk. Aku khawatir sama dia." Aku menghampiri Indra yang sedang duduk di bangkunya.
"Siap sayang.. Aku akan selalu ikut kemanapun kamu mau." Jawab Indra.
"Kita langsung ke sana aja ya sekarang."
"Oke siap cantik."
Aku pun pergi mengambil tas dan pulang bersama Indra. Aku naik angkot untuk pergi ke rumah Kia. Karena rumahnya tidaka terlalu jauh, jadi tidak terlalu lama sudah sampai.
Sesampainya di depan rumah Kia, aku tak menemukan siapa pun di sana. Rumahnya tampak sepi tak berpenghuni, ku ketuk-ketuk sampai 3x tetapi tidak ada yang menjawab. Aku pun bertanya kepada tetangga sebelah kemana Kia pergi.
"Assalamualaikum Bu." Aku mengucapkan salam kepada ibu paruh baya di depanku ini.
" Waalaikumsalam neng. Ada apa ya?" Ibu keluar rumah dan menghampiri kami berdua.
"Saya temannya Kia. Mau nanya Bu, keluarganya kemana ya? Kok rumahnya sepi gitu."
"Oh, keluarga neng Kia. Mereka ngga ada di sini lagi neng." Ucap ibu itu membuatku terkejut.
"Memangnya kemana mereka Bu? Apa yang terjadi?" Tanyaku lagi.
"Tadi subuh Bapaknya neng kia pulang bawa perempuan, terus Ibunya teriak-teriak. Mereka semua pada nangis, sampai-sampai tetangga di sini pada nyamperin ke rumahnya takut terjadi apa-apa." Jelas ibu ini menceritakan kejadian tadi subuh.
"Pas kita ke sana Bapaknya lagi mukulin Kia yang lagi melindungi ibunya, untung kita cepetan ke sana kalau terlambat nggak tau deh mereka selamat atau engga. Bapaknya kayak orang kesetanan."
"Astagfirullah. Terus kondisi Kia, dan adik-adiknya gimana Bu?"
"Kia dan ibunya terluka karena di pukulin bapaknya. Kalau adik-adiknya semua baik-baik saja."
Aku terus fokus mendengarkan apa yang di sampaikan oleh ibu ini.
__ADS_1
"Dia marah-marah sama Pak RT dan semua warga yang melihat kejadian itu. Tadi pas Bapaknya udah pergi, Kia bilang mau ke tempat neneknya karena udah di usir. Tapi Ibu nggak tau dimana alamatnya."
"Nggak apa-apa Bu, Makasih atas informasinya yang penting ini ya Bu. Biar nanti saya cari tau sendiri alamatnya. Maaf udah ganggu waktu ibu, saya pamit. Assalamualaikum." Aku mencium punggung tangan ibu itu dan pergi untuk mencari alamat neneknya Kia.
"Waalaikumsalam." Jawab ibu itu.
Kami pun segera pergi dari sana dan berhenti di sebuah warung. Aku sebenarnya nggak tau dimana alamat nenek Kia, aku harus gimana ya?
Aku coba telpon aja deh mudah-mudahan nomernya sudah aktif. Tapi beberapa kali di telepon nomernya tidak aktif. Aku sedih sekali, kemana Kia? Padahal semalam dia masih bisa SMS aku.
Indra membelikan aku sebuah roti coklat, aku pun memakannya. Indra mengatakan bahwa dia akan membantuku mencari alamat nenek Kia.
"Kamu tenang aja ya sayang. Nanti aku bantu cari alamatnya Kia. Aku coba tanya ke si Irwan, orang tuanya kan teman dekat Ibunya Kia kali aja tau."
"Iya. Aku yakin pasti Kia lagi terpukul banget, pasti dia sedih banget. Aku sahabat macam apa, lagi kayak begini tapi nggak ada buat dia." Aku menundukkan kepalaku, sedih rasanya melihat sahabatku seperti itu.
"Udah.. Kamu nggak usah nyalahin diri kamu sendiri. Kamu nggak salah kok!!! Dengan kamu ke sini juga itu tandanya kamu peduli sama dia. Sekarang mending kamu main ke rumah aku yuk. Aku kenalin sama ibu." Indra mengelus rambutku dan menarik tanganku agar aku beranjak dari tempat dudukku.
"Tapi aku malu Dra." Aku menahan tangan Indra.
"Ibu selalu nanyain kamu loh dari dulu. Katanya kapan aku akan bawa kamu ke rumah." Indra kemudian duduk di sampingku.
"Iya."
Aku pun menelpon mamah untuk meminta izin pulang telat hari ini. Setelah mendapatkan izin dari mamah, aku dan Indra pergi naek angkot, cukup jauh juga. Ternyata kita harus naek angkot 2 kali.
Sesampainya di rumah Indra, aku melihat ada seorang anak kecil perempuan yang lucu dan cantik sedang bermain boneka, kira-kira berumur 5 tahunan. Kayaknya sih adiknya Indra sekilas hampir mirip sih.
Anak kecil itu langsung berlari ke arah kami berdua "Aa, Main yuk, dd udah nungguin aa pulang dari tadi. Ini siapa a?" Tanya anak itu dengan suaranya yang bikin gemas.
"Oh, ini pacar Aa. Namanya teteh Maria. Mar, ini adik aku namanya indri, panggil aja Riri." Aku mengelus rambutnya yang panjang dan lurus itu.
"Namanya cantik sama kayak orangnya. Yuk main sama teteh." Aku memegang tangannya dan mengajaknya untuk bermain.
Riri berlari dan menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumah.
"Ibu, ibu. Ada teteh cantik mau main sama Riri. Katanya ini pacar Aa.." Ucapan Riri yang gemes itu bikin aku jadi malu.
__ADS_1
Ternyata Riri cerewet sekali.. Aku jadi malu Riri berteriak-teriak gitu.
"Dra, aku malu nih Riri teriak-teriak gitu." Ucapku pada Indra.
"Ngapain harus malu sayang.. Kamu kan memang pacar aku." Jawab Indra.
Indra mengucapkan salam dan membukakan pintu, "Assalamualaikum bu,, Ini ada Maria."
"Iya, tapi kan.." Aku belum sempat menyelesaikan ucapan ku, ibunya Indra datang..
Ibu keluar dari kamar saat mendengar salam dari anaknya.. " Waalaikumsalam.. Oh ini yang namanya Maria. Sini teh duduk ibu ambil minum dulu ya."
Aku pun mencium tangan ibunya dan tersenyum. Ibu segera pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Suasana rumahnya sederhana tapi nyaman sekali, bersih dan barang-barangnya tertata rapi.
"Teteh, kita mau main apa?" Tanya Riri yang sedari tadi memegang bonekanya.
"Main congklak aja yuk. Dede bisa nggak?"
"Bisa teh, hayu kita main congklak." Menarik tanganku, tapi aku tahan.
"Sebentar ya tunggu ibu dulu."
Tidak lama kemudian ibu datang membawa satu gelas air dan aneka macam kue. Aku mengucapkan terima kasih kepada ibu, sebenarnya tidak enak sih udah merepotkan kayak gini.
"Makasih ya Bu, maaf jadi ngerepotin."
"Nggak ngerepotin teh.. Ibu senang teteh mau main kesini." Jawab ibu.
" Riiriii, Ririi, main yuk."
Terdengar suara anak-anak kecil di depan memanggil-manggil nama Riri.. Riri langsung berlari ke depan, saat kembali ke dalam dia minta izin untuk bermain bersama teman-temannya dan ibu pun mengizinkannya.
"Teteh, Dede main sama temen-temen dulu ya."
"Iya dek."
Saat Riri sudah keluar untuk bermain bersama teman-temannya, ibu duduk di sampingku. Dan itu membuatku menjadi sedikit gugup.
__ADS_1
...****************...