INSECURE, Cinta Masa Lalu

INSECURE, Cinta Masa Lalu
Pertemuan memilukan


__ADS_3

Tidak terasa hari ini sudah waktunya aku bertemu dengan ibunya kak Kayla dan ibunya Indra. Aku sedikit nervous karena untuk pertama kalinya aku bertemu dengan ibu dari orang yang sudah menghancurkan hubunganku dengan Indra.


Orang yang sudah membuatku kehilangan sosok pria tampan, baik dan Sholeh yang sangat menyayangi aku. Andai waktu bisa ku putar kembali, ingin rasanya aku satu sekolah saja dengan Indra. Aku tak akan menolaknya saat Indra mengajakku daftar ke SMK.


Mungkin kalau saja waktu itu aku sekolah di SMK, kejadian seperti ini tidak akan pernah ada. Aku menyesali semuanya, tapi aku juga tidak bisa menyalahi takdirku. Ini skenario Allah, aku hanya pemain yang tidak bisa untuk mengatur jalannya permainan itu.


Dan aku tak pernah menyangka akan seserius ini hubunganku dengan Kak Ivan. Sungguh aku menyayanginya tapi aku juga merindukan Indra, sangat merindukannya. Aku tidak pernah bisa menepis bayangan wajahnya saat wajah kami hanya berjarak satu cm. Aku mengira indra akan mencium bibirku tapi aku salah, Indra hanya mengucapkan kalau dia sangat menyayangiku


Tring..


Tring..


Ponselku berbunyi..


Dan ku lihat ada satu pesan dari Kak Ivan dan satu dari nomor tidak dikenal.


"Sayang, kamu udah siap? Sekarang aku akan jemput kamu. Sandra sudah menunggu di JL. xxx" Kak Ivan.


"Mar, ini Sandra. Aku sudah kasih tahu Ivan kalau aku dan ibu Kayla sudah menunggu kalian di Jl. xxx" Sandra.


Aku tidak membalas dua pesan itu, aku termenung di kursi meja belajarku. Aku tidak tahu apa aku sanggup menahan air mata ini saat nanti bertemu ibu Indra? Apa aku sanggup menahan emosi dalam hatiku saat berada di rumah yang banyak menyimpan kenangan kami berdua?


Aku takut Kak Ivan marah, aku takut dia mengira kalau aku tidak mencintainya. Padahal aku cuma rindu, rindu yang teramat dalam pada orang yang sangat aku sayangi.


Saat aku sedang merenung, mamah datang. Mamah bertanya apa aku akan kuat dan tegar bertemu dengan ibu Kayla? Aku jawab kalau aku akan kuat, walaupun nanti entah apa yang terjadi di sana.


Kak Ivan sudah sampai di depan rumah. Aku beranjak dari kursi dan pamit sama mamah untuk berangkat. Aku langsung menemui Kak Ivan di depan dan langsung pergi. Ku lihat ada Kak Aldi juga yang ikut, dia jadi supir lagi.


Sampai di tempat menunggu Kak Sandra, aku melihat seorang wanita cantik di sampingnya. Aku salam kepadanya, walau bagaimanapun aku tidak mungkin tidak menghormatinya.


Kami semua langsung pergi menuju rumah Indra, mobil kami beriringan. Dan akhirnya sampai juga di rumah Indra.

__ADS_1


Aku melihat gadis kecil yang cantik sedang duduk di teras depan, sepertinya itu Riri. Sekarang dia sudah besar, mungkin sekitar 10 tahun usianya karena waktu dulu aku kesini, dia masih 6 tahun.


Dia terperanjat melihat kedatangan dua mobil berhenti di rumahnya. Aku segera turun dan berlari ke arahnya,


"Riri..." Panggilku kepadanya.


Dia terheran-heran, mungkin dia lupa siapa aku.


"Ini Teteh Maria, kamu masih inget nggak?" Tanyaku.


"Teh Maria pacarnya a Indra dulu?" Tanyanya.


"Iya, sekarang kamu udah gede." Aku mengusap rambut panjang Riri.


Kak Ivan menghampiri kami berdua.


"Sayang," Panggil Kak Ivan.


"Ibu ada ri?" Tanyaku


"Ada, lagi nyuci baju. Aku panggil dulu ya teh." Ucapnya. Dia pun langsung masuk ke dalam.


Kak Sandra dan ibu Kayla sudah ada di depan bersamaku dan Kak Ivan, sedangkan Kak Aldi hanya diam di mobil.


Keluarlah ibu, ayah dan Riri.


"Teteh??" Ucap ibu.


"Ibu.." Reflek aku memeluk ibu dengan sangat erat, aku rindu sekali sama ibu dan semua yang berhubungan dengan Indra.


Ibu menangis melihatku dan begitupun aku tidak bisa menahannya. Aku sudah berusaha untuk tidak menangis, tapi sangat sulit sekali. Aku tidak peduli kalau Kak Ivan bakalan marah sama aku, karena tidak ada yang bisa mengerti bagaimana perasaanku.

__ADS_1


"Teh, ibu kangen sama teteh. Kenapa baru sekarang teteh kesini?" ibu mengusap rambutku.


Aku melepaskan pelukanku sambil menahan air mata agar tidak keluar lagi.


"Teteh juga kangen sama ibu, maaf teteh baru bisa kesini sekarang. Ibu sehat? Ayah?" Aku mencium tangan ayah.


"Alhamdulillah. Teh, ini siapa banyak orang datang ke rumah ibu?" Tanya ibu.


Aku melirik ke arah Kak Ivan, Kak Sandra, dan ibu Kayla.


Ibu yang mengerti akan ada obrolan yang penting, mempersilahkan kami semua masuk ke dalam.


Ibu mengambil minum dan mulai duduk di samping ayah, di hadapannya ada Kak Sandra dan ibunya Kak Kayla sedangkan aku dan Kak Ivan berada di tengah-tengah mereka.


"Bu, ini Kak Ivan, pacar aku sekarang." Aku memulai pembicaraan, ibu terlihat bahagia aku bisa membuka hati untuk Kak Ivan.


"Alhamdulillah teteh udah bisa membuka hati, teteh harus tetap semangat ya. Ibu juga sedih kehilangan Indra, tapi ini sudah jalan takdir Allah. Nak Ivan, ibu pesan.. Jangan pernah sakitin teteh ya, ibu udah anggap teteh itu anak ibu sendiri karena Indra sangat menyayangi teteh dari dulu. Ibu nggak mau Indra sedih liat teteh yang nggak bahagia." Ucap ibu dengan mata yang berkaca-kaca.


Ucapan ibu sangat menyayat batinku. Bagaimana tidak? Ibu yang sangat baik padaku, ibu yang sudah menganggap aku seperti anak sendiri tapi aku baru berkunjung sekarang. Jahat sekali aku, aku menundukkan kepalaku karena tak kuasa menahan air mataku.


Kak Ivan yang di sampingku, menggenggam tanganku dan berkata,


"Iya Bu, saya akan selalu membahagiakannya karena saya pun menyayanginya lebih dari apapun, sama seperti Indra yang rela berkorban demi Maria." Kak Ivan menatapku yang sedang tertunduk menahan air mata.


"Iya Nak. Lalu ini siapa?" Ibu bertanya kepadaku dan melihat ke arah Kak Sandra dan ibu Kak Kayla secara bergantian, sedangkan ayah hanya diam menjadi pendengar yang baik.


"Ini Kak Sandra dan ini ibu Kak Kayla." Jawabku yang sudah bisa mengontrol emosiku.


Tanpa kuduga, ibu Kak Kayla langsung berlutut sambil menangis di hadapan kami semua. Aku dan semua yang ada di situ terkejut dengan sikap Ibu Kak Kayla. Ibu meraih tangannya dan ibu Kak Kayla langsung memeluk tubuh ibu sambil menangis dan minta maaf yang berulang-ulang.


Ayah yang tak mengerti apa yang terjadi, terheran-heran dengan sikap wanita yang ada di hadapannya ini. Aku tidak bisa langsung menjelaskan semua yang terjadi, karena aku pun masih tidak sanggup untuk mengingat semuanya. Hatiku hancur kala mengingat semua itu lagi dan lagi..

__ADS_1


...****************...


__ADS_2