
POV Ivan
"Van, kamu sudah yakin untuk menikahi Maria?" Tanya ibu yang duduk di hadapan ku yang sedari tadi hanya memperhatikan aku dari jauh.
"Sangat yakin Bu. Kenapa ibu tanya seperti itu?" Aku merasa ada yang tidak beres dengan pertanyaan ibu.
"Ibu minta kamu batalkan semua rencana kamu itu Van, sebelum terlalu jauh." Ucap ibu dengan tegasnya. Dan jujur aku sangat terkejut dengan pernyataan ibu itu, ada apa?
"Apa yang ibu katakan? Kenapa ibu tega mengatakan hal itu? Aku sangat menyayangi Maria Bu, ibu tahu hal itu dan dia seperti itu karena menyelamatkan aku." Aku menentang ibu dengan perasaan marah yang tidak terkendali.
"Tapi Van, ibu malu saat nanti kalian menikah dan semua relasi kita tahu kalau menantu ibu itu tidak bisa berbicara. Ibu sudah mendiskusikan ini dengan ayahmu, dan ayahmu pun merasakan hal yang sama dengan ibu. Kami berdua tidak merestui hubungan kalian." Ucapan ibu sangat menyakiti aku, hatiku terasa sangat perih.
"Lalu kenapa ibu bilang kemarin setuju kalau aku menikahinya? Dan sekarang tiba-tiba ibu berubah pikiran!!" Aku masih berbicara dengan nada emosi.
"Kemarin ibu pergi ke rumah sakit dan menemui dokter yang menangani Maria. Ibu bertanya tentang keadaannya, apakah masih ada harapan untuk sembuh total? Dan dokter itu mengatakan bahwa harapan untuk Maria sembuh amatlah kecil dan itu sudah di sampaikan kepada ibunya Maria. Kemungkinan Maria akan bisu untuk seumur hidupnya." Ibu meneteskan air mata saat mengatakan itu.
Aku terpaku..
Aku tidak percaya..
Kenapa harus seperti ini?
Aku merasakan getaran yang sangat hebat dalam hatiku. Semua yang ibu ucapkan tidak sedikitpun merubah perasaanku kepadanya. Aku akan terus berjuang sekalipun ayah dan ibu tidak merestui hubungan kami. Aku akan melanjutkan rencana pernikahan dengan Maria meskipun tanpa orang tua ku.
"Aku akan tetap menikahinya apapun kondisi Maria, semua yang ibu ucapkan tidak mempengaruhi perasaanku kepadanya." Ucapku lirih.
"Kalau kamu tidak mau menuruti kami, ibu dan ayah tidak akan menganggap mu anak lagi. Dan kamu tidak akan mewarisi semua harta kami, bisakah kamu hidup tanpa campur tangan kami Van?" Ibu marah ketika aku membela Maria mati-matian.
"Maafkan aku Bu, aku akan tetap memilih Maria karena bagiku harta tidak menjamin seseorang bahagia. Dan bersama Maria, aku selalu bahagia. Jika itu yang menjadi keputusan ibu, aku pamit dan tidak akan kembali ke rumah ini." Aku meninggalkan ibu di tempat itu dan membereskan pakaianku tanpa membawa satu fasilitas pun dari mereka.
Bahkan semua ATM yang ayah berikan untukku, aku kembalikan semua dan aku hanya membawa barang-barang yang aku beli dengan hasil jerih payahku. Aku melihat ibu pergi ke kamarnya tanpa melihatku yang hendak pergi. Ayah yang baru pulang seperti sudah mengerti dengan situasi ini.
__ADS_1
"Kamu yakin memilih Maria daripada orang tua mu yang sudah mengurus mu dari kecil? Tidak akan menyesal kah kamu Van?" Ayah melihatku dengan tatapan sinis.
"Aku tidak akan menyesal dengan pilihanku. Terima kasih ayah dan ibu sudah menjadi orang tua yang sangat baik untukku. Selamat tinggal yah, salam kepada ibu." Aku meninggalkan ayah yang terpaku di depan pintu.
Sampai di depan gerbang, suara teriakan seseorang menghentikan langkah ku.
"Kak Ivan." Teriak Mela.
Mela memelukku dan berkata jangan pergi tapi aku terlanjur kecewa dengan penilaian mereka. Mela menangis di pelukan ku, aku mengusap rambutnya dan berkata semua akan baik-baik saja.
"Tapi kak, apa kakak tidak bisa meyakinkan ayah dan ibu?" Ucap Mela mengiba.
"Keputusan mereka sudah finis Mel, dan kakak tidak bisa merubah keputusan mereka. Sekali mereka berkata seperti itu, mereka akan kukuh mempertahankan argumen nya."
"Kakak harus pergi, jaga diri kamu baik-baik ya adik kecilku. Kakak sayang kamu, kakak minta jaga ayah dan ibu dengan baik. Maafkan kakak tidak bisa menjadi kakak yang baik buat kamu." Mela menangis dan memelukku lagi untuk yang terakhir kalinya.
Aku melepaskan pelukannya dan pamit untuk pergi. Air mata Mela berderai melihatku pergi meninggalkan semuanya.
Aku tidak membawa motor atau mobil pemberian mereka, aku berjalan kaki menyusuri jalanan yang ramai dengan lalu lalang kendaraan. Aku tidak tahu arah tujuanku kemana karena saat ini pikiranku sangat kacau, semua di luar kendaliku.
Aku sangat yakin Allah akan memberikan kesembuhan untuk Maria, kita tinggal berusaha semampu kita dan semaksimal mungkin. Saat hatiku sedang gundah gulana, ada panggilan telpon dari Daffa. Dia memberitahuku kalau Maria pingsan dan sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Aku panik dan bingung harus berbuat apa. Aku langsung pergi ke rumah Zain, karena rumah Zain lah yang paling dekat dengan taman kota.
Aku setengah berlari, terik matahari tidak menyurutkan semangatku untuk cepat sampai di rumah Zain. Keringatku bercucuran di dahi, nafasku tersengal-sengal karena capek. Belum sempat aku menanyakan Zain kepada satpam, gerbang sudah di buka. Pak satpam sudah mengenaliku dan Zain berpesan kalau ada aku boleh langsung masuk ke kamarnya.
Aku pun bergegas pergi ke kamar Zain. Ku lihat rumahnya sangat sepi, ibu Zain tidak ada di rumah sedang menjalankan bisnis di luar negeri katanya. Aku pun langsung ke lantai atas menuju kamar Zain, aku mengetuk pintu tidak ada jawaban, sekali dua kali tiga kali tetap tidak ada jawaban.
Aku tunggu saja di luar kamar nya, sangat tidak sopan kalau aku harus langsung masuk kamarnya walaupun Zain sudah mengizinkan tapi aku tetap merasa tidak enak.
"Van.." Suara Zain terdengar di belakangku.
"Zain? Bukannya lu di kamar ya?" Ucapku setengah bingung.
__ADS_1
"Yeeee dari tadi gue di taman belakang kali Van. Lagi ngobrol sama Kia." Jawabnya sambil melirik ke arah Kia.
"Dan rencananya sekarang kita mau ke rumah Maria." Ucap Kia.
"Justru itu gue kesini Zain Kia. tadi Daffa telp gue dan dia bilang kalau Maria pingsan, sekarang lagi menuju rumah sakit." Ucapku.
"APA????" jawab mereka kompak.
"Ya udah ngapain lama-lama di sini? Hayu kita langsung otw ke rumah sakit." Ajak Zain.
Kami bertiga pun langsung turun tangga menuju mobil Zain yang terparkir di garasi. kami bertiga masuk mobil Zain dengan perasaan was-was.
Di jalan Zain baru menyadari kalau aku membawa koper.
"Van, ngapain lu bawa-bawa koper segala? Mau minggat?" Tanya Zain yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Bukan minggat lagi tapi pergi selamanya! Gue udah di coret dari daftar keluarga." Ucapku sambil terus menatap ke arah jalan.
"Hah?" Zain terkejut dan sejenak menghentikan mobilnya.
Kia yang berada di jok belakang bertanya,
"Maksud kak Ivan gimana?"
Aku pun menceritakan peristiwa tadi, mereka terlihat sedih dengan nasib kami berdua. Kisah cinta kami yang terus menerus mendapatkan cobaan yang sangat berat.
Mereka terus memberikan semangat kepadaku dan Zain memberi saran agar aku tinggal di rumahnya saja. Aku menolak tawaran Zain karena perasaanku tidak enak kalau harus merepotkan orang lain. Aku hanya minta di carikan rumah kontrakan kepada Zain karena tabungan hasil kerja part time di Kanada masih cukup untuk menyewa rumah kontrakan dan biaya pernikahan sederhana kami nanti.
Dia setuju dan akan membantuku mencarikan rumah kontrakan, sedangkan untuk sementara waktu sehari dua hari aku akan tinggal bersama Zain dulu.
Terima kasih Zain..
__ADS_1
POV Ivan End
...****************...