INSECURE, Cinta Masa Lalu

INSECURE, Cinta Masa Lalu
Bertemu sahabat lama


__ADS_3

"Mar."


Aku tersentak kaget mendengar namaku di panggil. Aku menoleh ke belakang dan ku lihat Kia tersenyum kepadaku. Aku hampir saja tak mengenalinya karena penampilannya sangat berbeda sekali. Dia memakai seragam kerja garmen, bedak tebal dan bibir merah merona, lebih dewasa dari usia sebenarnya.


"Kia. Kamu? Kok bisa di sini?" Aku masih tidak percaya, setelah sekian lama aku baru bertemu lagi dengannya.


"Alhamdulillah Mar, sekarang aku tinggal di rumah bapak lagi Mar. Berkat kamu sama Indra sekarang rumah bapak jadi milik ibu. Tante Hyurin juga sudah merenovasi rumahku dan rumah nenek."


"Alhamdulillah Ya. Kalau gitu kita bisa main sering-sering dong."


"Iya, kalau aku libur pasti kita selalu main. Sekarang aku kerja di garmen lumayan buat biayain ibu sama adik-adik aku. Biar nggak ngandelin Tante Hyurin terus, aku malu Mar."


"Ngomong-ngomong Indra mana Mar? Nggak mungkin dia nggak jemput kamu pulang sekolah."


Pertanyaan Kia membuat aku sedih lagi. Tanpa sadar aku meneteskan air mata, membuat Kia menjadi kebingungan. "Mar, kenapa tiba-tiba nangis gini?"


"Indra. Indra udah nggak ada Ya, Indra udah meninggalkan aku selamanya dan nggak akan mungkin kembali." Suaraku serak, dadaku terasa sesak dan sebisa mungkin aku menahan untuk tidak menangis dan Tegar. Tapi sangat sulit.

__ADS_1


Kia sangat terkejut. "Apa? Maksud kamu apa Mar, Indra udah nggak ada. Kamu jangan bercanda dong! Nggak lucu tau."


"Aku serius Kia, Indra memang udah nggak ada dia tertabrak karena menyelamatkan aku."


Kia terkejut mendengar ucapan ku.


"Innalilahi.. Aku benar-benar nggak nyangka. Aku selalu berpikir Indra itu cinta sejati dan jodoh kamu dunia akhirat. Dia itu sangat sayang dan cinta sama kamu Mar."


"Iya Kia, Indra memang cinta sejati aku sampai kapan pun dia selalu di hati aku." Aku dan Kia sama-sama menahan tangis.


"Kapan itu terjadi Mar?"


"Aku ngerti perasaan kamu Mar."


Kami terus mengobrol sana sini menceritakan saat terakhir kami berpisah. Menceritakan saat Kia melamar pekerjaan, saat aku MOS, bahkan aku menceritakan Kak Ivan yang sudah 3x menyatakan perasaannya kepadaku tapi tidak aku hiraukan. KIA menyarankan agar aku memberikan kesempatan kepada Kak Ivan jika dia itu pria yang baik seperti Indra.


Kia bilang aku harus membuka hati untuk yang baru. Meskipun tidak bisa melupakan Indra, tapi aku tidak boleh menutup diri. Aku mengerti maksud Kia, dia tidak ingin aku terus berlarut-larut dalam kesedihan. Dia ingin aku ceria seperti biasa lagi, seperti Maria yang dia kenal.

__ADS_1


Aku mengajaknya mampir ke rumah, tapi waktu sudah hampir petang. Sehingga Kia menolak dan berjanji akan bertemu lagi kalau nanti libur. Kami bertukar nomor ponsel agar gampang untuk saling berkomunikasi.


***


'Mar, kamu lagi apa?' Zain


Hah? Zain? Darimana dia tau nomor ponselku? Pasti si Daffa yang ngasih tau kayaknya. Aku mengabaikan pesannya..


Aku bukannya sok jual mahal ya, tapi aku tidak mau terlalu dekat lagi dengan pria selain Daffa. Aku trauma, takut pas lagi sayang-sayang nya dia tinggalkan aku. Indra dan Kak Ivan contoh pasti yang sudah aku alami.


Zain sepertinya baik, tapi aku tidak tertarik dengannya. Dia selalu saja mencari perhatianku membuat aku menjadi ilfeel. Tampan belum pasti membuat seseorang jatuh cinta. Sebagian orang hanya mengagumi sosok pria tampan atau wanita cantik.


Nyaman dan selalu memberikan kebahagiaan adalah yang membuat seseorang menjadi jatuh cinta. Hati memang tak bisa di paksakan, mau pria setampan apapun kalau kita nggak suka ya nggak akan suka.


'Mar, maaf ya. Apa aku ganggu kamu?' Zain.


Aku meninggalkan ponsel ku di meja belajar dan pergi ke tempat tidur karena sudah sangat mengantuk. Aku pun berbaring dan memejamkan mata, berharap aku mimpi bertemu dengan Indra yang aku sayang.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2