INSECURE, Cinta Masa Lalu

INSECURE, Cinta Masa Lalu
Cantika????


__ADS_3

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan. Aku begitu cemburu melihat Kak Ivan memeluk gadis lain. Apa aku sudah benar-benar mencintainya? Aku tidak tahu siapa wanita itu, karena aku tidak melihat wajahnya. Aku langsung pergi saat melihat tangan Kak Ivan yang memeluk tubuh gadis itu.


Saat Kak Ivan masih memelukku, Kak Aldi datang memanggilnya dari dalam mobil. Dan ku lihat di dalam sudah ada Daffa, seorang laki-laki yang nggak aku kenal dan gadis itu.


"Woyy.. Van, lu nggak dimana-mana mesra-mesraan mulu.. Ni sekarang kita mau gimana? Ke rumah Maria atau bawa dia ke rumah sakit?" Teriak Kak Aldi, dia menunjuk ke arah bangku belakang.


Aku masuk mobil dan duduk di bangku tengah. Kak Ivan berbisik kepadaku, "Itu Dendi, adiknya Sandra." Ucap Kak Ivan. Aku cuma jawab "Oohh" saja, lalu aku melihat mereka yang ada di belakangku.


Saat aku melihat ke belakang, betapa terkejutnya aku melihat gadis yang masih pingsan itu.


"Cantika???" Aku benar-benar terkejut melihat wajah gadis itu yang ternyata adalah Cantika, sepupuku.


"Sayang, Kamu kenal sama dia?" Tanya Kak Ivan.


"Dia sepupu aku Kak, adiknya Kak Tiara." Jawabku.


"Hah?? Tiara yang di rumah kamu?" Tampaknya Kak Ivan juga terkejut.


"Iya.. Kita bawa Cantika ke rumah aku aja ya." Jawabku. Dan ku lihat Dendi seperti gelisah, dia tidak berbicara apapun.


"Ya udah kalau gitu ke rumah kamu aja ya.. Al, kita ke rumah Maria." Ucap Kak Ivan.


"Siap Bosqu.." Jawab Kak Aldi.


Kami pun pulang menuju ke rumahku. Di sepanjang perjalanan, Kak Ivan terus menggenggam tanganku sambil mengucapkan kata "Maaf" terus..


"Sayang, maafin aku ya. Aku udah bikin kamu sedih.."


Entah sudah berapa kali Kak Ivan mengucapkan kalimat itu.


"Kak, aku udah maafin Kakak.. Nggak usah ngomong gitu terus." Jawabku sambil melepaskan genggaman tangannya.


Aku merasakan perih di telapak tangan kiri ku, dan saat aku lihat ternyata telapak tanganku tergores. Ada darah yang sudah mengering, aku tidak menyadarinya. Dan saat aku meniup telapak tanganku, Kak Ivan bertanya,


"Kamu kenapa sayang?" Tanyanya.

__ADS_1


"Tanganku perih Kak, kayaknya tergores sesuatu waktu Kakak tarik aku tadi." Jawabku.


Kak Ivan melihat tanganku yang terluka, lumayan panjang dan dalam mungkin terkena kerikil atau benda tajam apa aku juga tidak tahu. Pokoknya kayak luka kena pisau dan saat darah keringnya di bersihkan, ada darah segar keluar dari luka itu.


Dan Kak Ivan paniknya minta ampun.. Aku meringis kesakitan saat darah terus mengucur dari telapak tanganku. Aku nggak mau Kak Ivan tambah panik, tapi bukan Kak Ivan namanya kalau nggak lebay.


Daffa dan Kak Aldi bertanya aku kenapa, dan aku menjawab kalau aku hanya terluka sedikit.


Kak Ivan mencari kotak p3k di tas nya, dia mengusap luka di telapak tanganku dengan kapas yang sudah di beri alkohol. Perih sekali... Nyeessss banget rasanya,


"Aw.." Teriak ku.


"Sayang, ini tangan kamu kenapa bisa terluka gini?" Tanya Kak Ivan yang masih membersihkan luka itu dengan sangat lembut.


"Nggak tahu, aku juga nggak sadar kenapa tanganku bisa terluka gini." Jawabku sambil menatap ke arah kak Ivan yang fokus mengobati tanganku. Aku tersenyum melihatnya begitu perhatian padaku.


Aku merasa beruntung ada di antara dua pria yang sangat menyayangiku dengan tulus. Dua pria yang akan selalu ada di hatiku selamanya, dua pria yang membuatku merasakan bahwa cinta itu indah, dua pria yang tidak pernah bisa melihatku bersedih apalagi terluka, dua pria yang selalu bersikap lembut kepadaku, dua pria itu..


Indra dan Kak Ivan


Saat aku terus menatapnya dan melamun, Kak Ivan mengejutkanku.


"Sudah sayang, tanganmu sudah tidak ada darahnya lagi." Ucap Kak Ivan sambil membereskan kotak obat yang tadi di ambilnya.


Aku terdiam, dan terus melihat tingkah Kak Ivan.


"Kenapa sayang? Apa masih perih?" Tanyanya.


"Enggak Kak, udah mendingan." Jawabku.


Dan Kak Ivan mengusap pipiku lembut,


"Aku nggak bisa lihat kamu terluka kayak gini. Maafkan aku ya yang udah bikin kamu salah paham dan bikin kamu jadi terluka gara-gara aku. Maafkan aku sayang."


Ucap Kak Ivan yang terus memandang wajahku lekat, Kak Ivan seperti tidak peduli bahwa ada orang lain yang ada di mobil itu.

__ADS_1


Aku melirik ke arah Dendi yang nampak heran melihat sikap Kak Ivan. Sedangkan Daffa dan Kak Aldi seperti sudah biasa melihat tingkahnya yang berlebihan itu.


Cantika belum juga sadar dari pingsannya, sedangkan Dendi seperti sudah tidak tahan menopang kepala Cantika. Mungkin dia kesemutan atau pegal, karena dari tadi kakinya tidak bergerak.


"Jadi tadi Kakak nolongin Cantika?" Tanyaku memecahkan keheningan.


"Iya sayang, dia itu pacarnya Dendi. Iya kan Den?" Kak Ivan menoleh ke belakang.


"Iya, Cantika pacar aku." Jawabnya.


Dan itu membuatku merasa bersalah sama Kak Ivan. Untuk yang kesekian kalinya aku belum percaya 100% kalau Kak Ivan akan setia selamanya sama aku. Aku sangat takut Kak Ivan mengkhianati cintaku dan selingkuh dengan wanita lain.


"Sayang, kamu kenapa lagi? Dari tadi aku lihat kamu kayak gelisah?" Tanya Kak Ivan.


"Aku .." Aku bingung harus menjawab apa.


"Kenapa?" Tanyanya lagi.


"Aku takut Kakak selingkuh sama wanita lain." Ucapku, membuat Daffa dan Kak Aldi menoleh.


"Mar, Mar.. Mana mungkin si Ivan bakalan selingkuh. Jauh dari kamu aja dia udah kayak orang sinting!!" Jawab Kak Aldi sambil meledek Kan Ivan.


"Parah lu..!!" Jawab Kak Ivan.


"Sayang, aku nggak pernah tertarik sama wanita lain kecuali kamu. Percaya sama aku, kamu jangan pernah takut dan jangan pernah berfikir hal itu lagi ya.." Ucap Kak Ivan yang merangkul tubuhku ke dekatnya. Dan sekarang kepalaku menyender ke dada Kak Ivan, tangan kanannya mengusap rambutku membuatku merasa nyaman.


"Kamu percayakan sama aku?" Tanya Kak Ivan yang malah mencium atas kepalaku.


"Iya, aku percaya sama Kakak.. I love you honey.." Aku mengangkat kepalaku dan menatap mata Kak Ivan saat mengatakan I love you tadi.


"I love u more, sayangku.." Jawab Kak Ivan. Dan kami berdua tersenyum bahagia.


Tanpa di sadari, Dendi yang melihat kemesraan kami berdua di belakang seperti tidak suka. Entah kenapa dia, tapi aku melirik ke arahnya dan melihat wajahnya yang kesal nampak sangat jelas. Dia terlihat sinis saat melihat ke arahku.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2