
Pukul 16.23
Akhirnya aku sampai di gang rumah ku. Indra menuntun ku yang berjalan tertatih-tatih.. Sampai depan pintu aku mengetuk pintu rumah dan mengucapkan salam, tapi tidak ada jawaban. Mungkin mamah sedang di kamar mandi. Aku duduk di teras depan cukup lama, dan Indra masih terus mengkhawatirkan aku.
"Mar, apa masih sakit?" Tanya Indra sambil menyentuh Kakiku yang masih sakit ini.
"Udah mendingan. Kamu ga usah khawatir gitu, aku baik-baik aja kok." Aku mencoba menenangkannya bahwa aku baik-baik saja dan tidak usah berlebihan begitu.
Pintu pun terbuka, mamah lihat aku yang sedang duduk di teras langsung menjawab salam..
"Waalaikumsalam neng. Neng kunaon eta sampeyan na? Ningan aya getih na kitu.?" (Neng kenapa itu kaki nya? Kok ada darahnya gitu).
Indra yang tidak mengerti apa yang di ucapkan mamah hanya bengong saja. Indra memang baru 3 tahun tinggal di lingkungan sundanis. Indra perpaduan Betawi dan Jawa, sedikit-sedikit tau bahasa Sunda tapi bahasa Sunda kasar. Karena mendengar dari teman-teman nya dan dia paling jeblok nilai bahasa Sunda, kalau tidak mencontek kepadaku sudah di pastikan tiap ulangan di remedial terus.
"Oh henteu mah tadi kena Pacet." Indra langsung mengerti waktu aku bilang Pacet, dia langsung menimpali ucapan ku.
"Maaf mah, saya nggak bisa jagain maria. Saya nggak tau kalau Pacet itu tiba-tiba ada di kaki nya Maria." Jelas Indra yang menundukkan kepalanya dan tampak sekali raut wajah bersalahnya.
"Iya A, nggak usah merasa bersalah kayak gitu, itu bukan kesalahan Aa. Memang di tempat seperti itu sudah biasa kena Pacet, makanya harus hati-hati pas di jalan nya." Jawab mamah yang mengerti bahwa itu bukanlah kesalahannya.
"Iya mah sekali lagi maaf ya mah saya mau pamit pulang dulu. Mar, saya pulang dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Jawab aku dan mamah.
__ADS_1
***
Selesai mandi, shalat dan makan, aku duduk di bangku. Aku hanya terdiam dan melamun. Mamah melihat kegalauan hati aku, ya namanya ibu pasti tau apa yang di rasakan anak-anak nya sekali pun kita mencoba untuk menyembunyikannya.
Mamah adalah sosok hebat yang selalu menjadi inspirasi ku. Selepas papah tiada mamah berjuang sendiri memajukan toko hijab nya yang lagi drop. Memutar otak agar aku bisa bisa makan dan berpakaian dengan layak. Mamah juga memikirkan masa depanku agar aku bisa kuliah dan sukses di masa depan.
Mamah tidak lemah dan tidak mau di kasihani oleh orang lain karena statusnya yang seorang janda dan mamah tidak egois hanya untuk kesenangannya sendiri.
Jika mamah mau, setahun setelah papah pergi pasti sudah menikah lagi. Banyak sekali duda yang mau menikahi mamah, karena mamah memang cantik dan baik hati. Tapi mamah masih belum bisa membuka hatinya kepada pria lain. Kata mamah, tidak ada pria lain sebaik dan setulus papah. Cinta papah membuat mamah tidak bisa move on walaupun sudah bertahun-tahun papah meninggalkan kami di dunia ini.
Mamah memikirkan aku, mamah tidak mau kalau aku punya ayah tiri yang tidak bertanggung jawab yang hanya menumpang hidup atas usaha yang sudah mamah perjuangkan. Mamah bilang kalau mamah akan bahagia walau cuma hanya ada aku, anak semata wayangnya dan tidak kekurangan apa pun karena hanya memiliki aku itu sudah sangat berharga untuk mamah.
Aku sayang sekali sama mamah, melebihi apa pun di dunia ini. aku ingin membahagiakan mamah selama nya. Pengorbanan dan perjuangan yang mamah lakukan untukku tersimpan jelas di memori ku dan tidak akan pernah terhapus sampai kapan pun.
"Eneng sayang, Kenapa diem aja? Dari tadi mamah lihatin neng ngelamun terus. Apa ada masalah?" Mamah menghampiri aku yang sedang duduk melamun di sofa.
"Ada apa? Cerita atuh sama mamah."
"Tadi di air terjun Indra bilang kalau dia sayang sama Eneng, cinta sama Eneng udah lama. Tapi Eneng nggak percaya mah, mana mungkin Indra yang ganteng cinta sama Eneng yang jelek."
"Kata siapa anak mamah jelek? Anak mamah mah cantik, siapa yang bilang gitu? Harus di marahin sama mamah orang kayak gitu mah, tuman!! Seenaknya aja."
"Eh nggak kata siapa-siapa mah, Eneng aja yang merasa nggak pantes punya pacar ganteng kayak Indra."
__ADS_1
"Eneng jangan merasa minder atuh dekat sama Indra. Mamah bisa lihat kalau Indra tulus sayang sama Eneng. Kata mamah mah Indra teh baik neng, sopan. Keliatannya nggak mungkin nyakitin Eneng. Itu mah terserah Eneng mau di terima atau engga, mamah mah setuju aja eneng maunya gimana juga.".
"Iya mah, tapi Eneng jadi galau."
"Mamah cuma minta sama Eneng, jangan pacaran di luar batas. Jaga kehormatan Eneng, mamah percaya Eneng sama si aa nggak akan kayak gitu."
"Makasih mamah udah percaya sama Eneng. Neng janji nggak akan menghancurkan kepercayaan mamah sama Eneng."
"Iya, Sekarang mah Eneng istirahat, jangan di pikiran terus takutnya nanti sakit. Mamah sayang sama Eneng."
"Eneng juga sayang banget sama mamah." Aku memeluk mamah dan mencium pipi mamah.
Aku pergi ke kamarku dengan perasaan yang tidak karuan. Di satu sisi aku senang mendapat perhatian dari Indra dan mendapatkan cintanya. Tapi di sisi lain, aku takut makan hati pacaran sama orang ganteng.
Benar kata mamah, Indra tuh sopan dan baik banget. Dia bisa mengambil hati orang dengan caranya sendiri. Bisa membuat mereka (orang-orang) di sekitarnya menyukainya.
Sepertinya aku harus memberikan Indra kesempatan. Besok aku akan mengatakan kepadanya kalau aku siap untuk menjadi pacarnya. Asalkan, Indra tidak bersikap kurang ajar padaku dan selalu menjaga kehormatan ku.
Ku rasa itu hal yang mudah bagi Indra, karena selama aku dekat dengannya dia hanya memelukku saat aku merasa sedih. Pelukan hangat yang membuatku merasa nyaman berada di dekatnya. Dia tidak pernah berniat untuk berbuat lebih dari itu, dan itulah yang menjadi pertimbanganku untuk menerima cintanya.
Fix, aku akan menerima cinta Indra dan aku siap menjadi pacarnya. Aku tidak akan peduli dengan omongan orang, dan tidak akan menjadi orang yang baperan lagi. Aku akan berubah, karena Indra selalu ada di sampingku dan memberikan semangat kepadaku agar aku percaya diri.
Aku tidak akan minder lagi, itu semua karena kamu Indra. Karena kamu yang selalu membuatku berarti.
__ADS_1
Terima kasih, terima kasih untuk semua cinta yang telah kamu berikan untukku. Aku tidak akan pernah menyakiti hatimu dan aku akan mencoba untuk bisa mencintai dan menyayangimu sepenuh hatiku dan setulus jiwaku.
...****************...