
Setelah aku mengatakan itu, tidak ada topik pembicaraan lagi yang kita bicarakan. Dan sudah lumayan lama kami menunggu Kak Ivan dan Daffa tapi mereka belum juga kembali. Akhirnya kami berdua berinisiatif untuk menyusul Kak Ivan.
* POV Ivan
Aku sengaja meninggalkan Maria bersama Aldi berdua untuk mengorek informasi dari Maria. Aku ingin tahu perasaan Maria yang sebenarnya kepadaku bagaimana. Aku pergi ke minimarket berdua dengan Daffa, setelah cukup lama Daffa pergi ke toilet.
Dan aku membeli cemilan dan minuman untuk kami berempat, tapi karena antrian di kasir yang lumayan banyak jadinya kita lama untuk kembali ke sana. Kata Daffa sih emang udah biasa kalau hari libur minimarket itu selalu penuh dengan customer.
Aku mengantri sedangkan Daffa menungguku di luar. Karena bete aku membuka ponselku dan ku lihat ada satu pesan dari nomor yang tidak aku kenal.
'Van, ini Sandra.. Aku mau kasih tau kamu kalau Minggu depan kita jadi ya bertemu dengan ibunya Kayla dan kita pergi ke rumahnya Indra. Kasih tahu Maria juga..'
Satu pesan dari Sandra yang membuatku galau. Aku tidak tahu apa aku sanggup melihat Maria menangis lagi untuk kesekian kalinya saat nanti bertemu dengan ibunya Indra? Tapi kalau tidak bertemu gimana? Kan aku sudah janji akan mengantarkannya bertemu dengan ibunya Indra.
Aku melamun sampai aku tidak menyadari kalau orang yang di depanku sudah tidak ada. Aku pun membayar belanjaan yang aku beli tadi. Aku keluar dan melihat Daffa sedang melihat foto Maria. Dia terkejut dengan kedatanganku dan menyembunyikan foto itu segera.
"Daf, itu foto Maria ya?" Tanyaku kepadanya.
"I.. iya Van.." Jawabnya gugup dan itu membuatku menjadi curiga kepada Daffa.
"Boleh aku lihat? Darimana kamu punya foto Maria? Kok kamu simpen fotonya?" Tanyaku penuh selidik.
"Itu foto yang di simpan sama Indra waktu dulu sebelum jadian sama Maria. Dia selalu bawa foto itu di dompetnya. Sebelum kecelakaan itu, Indra pernah bilang sama aku kalau aku harus jagain Maria." Jawabnya.
"Jadi ini foto Maria yang Indra punya?" Tanyaku lagi.
"Iya Van. Dan sekarang foto itu aku yang simpan. Kalau kamu keberatan, kamu boleh ambil foto itu." Jawabnya.
Aku mengembalikan foto itu ke Daffa.
"Nggak apa-apa Daf, kamu simpan aja.." Ucapku.
Daffa nampak terkejut saat aku mengembalikan foto itu kepadanya, mungkin dia mengira aku akan marah.
Daffa menyimpan foto Maria di dompetnya lagi. Sebenarnya sih aku sedikit cemburu sama Daffa, tapi aku mikir lagi buat apa cemburu sama orang yang udah bantu aku buat dapetin Maria.
Kami berdua hendak kembali ke tempat Maria dan Aldi. Tapi di pinggir jalan yang tak jauh dari minimarket itu ada gadis yang hendak di tampar oleh seorang pria, mungkin itu pacarnya. Aku tidak melihat wajahnya karena posisinya yang menghadap gadis itu, sehingga aku hanya melihat punggungnya saja.
Saat dia sudah mengayunkan tangannya, gadis itu menutup wajahnya dan aku berteriak ke arah mereka berdua.
__ADS_1
"Heyy.." Aku berteriak sangat keras, membuat mereka berdua menoleh ke arahku. Aku berlari ke arah mereka sehingga aku berada diantara mereka berdua, sedangkan Daffa di belakangku.
Dan aku seperti mengenal pria itu.. Dia kan??
"Dendi.." Ucapku..
"Kak Ivan?" Jawabnya sedikit terkejut dengan keberadaan ku.
"Kenapa kamu ada di sini? Jangan kasar sama cewek, Den." Ucapku.
Dan gadis itu menatapku dengan lekat, matanya sembab mungkin habis menangis.
"Aku sedang studi tour ke kawah putih Kak. Dan ini pacarku udah bikin masalah yang bikin aku jadi malu, jadinya aku kebawa emosi." Jawabnya.
Saat Dendi bicara padaku, gadis itu seperti akan pingsan karena dari tadi dia memejamkan matanya. Dan saat aku hendak menjawab ucapan Dendi, dia jatuh ke pelukanku. Refleks aku menangkap tubuhnya yang jatuh ke arah tubuhku.
Dendi dan Daffa panik melihat gadis itu pingsan, aku pun sama paniknya karena sekarang ini dia berada di pelukanku. Aku memberikan kunci mobilku kepada daffa dan menyuruhnya untuk membawa mobilku ke sini, sedangkan Dendi akan meminta izin kepada gurunya untuk pulang lebih awal.
"Kak, aku minta maaf sebelumnya, tapi aku harus minta izin sama guru dulu untuk pulang lebih awal. Aku titip dia dulu ya Kak sebentar." Ucap Dendi.
"Iya, cepetan jangan kelamaan." Jawabku. Dan dia langsung lari.
Terpaksalah aku menahan tubuhnya dengan tanganku dan posisinya seperti aku memeluk dia. Aku memalingkan wajahku darinya karena aku tidak mau memandang wajah wanita mana pun selain Maria.
"Kak Ivan??" Suara lembut Maria mengejutkanku.
Dia terpaku, matanya berkaca-kaca dan aku sontak melepaskan tubuh gadis itu dan Aldi langsung menangkap tubuh gadis itu.
"Sayang, ini nggak seperti yang kamu kira.. Aku.." Aku takut sekali Maria akan marah padaku.
"Aku nggak butuh penjelasan Kak!!" Maria pergi begitu saja tanpa melihat ke arahku dan gadis itu.
Dia berlari dan ku lihat air matanya mengalir di pipinya. Aku bilang sama Aldi kalau aku akan mengejar Maria, dan nanti Daffa akan datang ke situ bawa mobil.
"Sayang, tunggu." Aku berteriak memanggil Maria, tapi dia terus berlari.
Maria tidak mendengar ku yang terus memanggilnya, sampai aku mempercepat lari ku agar aku bisa mengejarnya.
Dia hendak menyebrang, tapi sebuah truk melaju sangat kencang dari arah timur. Sekuat tenaga aku berusaha mendekat ke arah Maria dan saat truk itu hampir menabrak Maria, aku menariknya dan kami terjatuh membuat tubuhku berada di atas tubuhnya yang mungil.
__ADS_1
"Sayang, kamu nggak apa-apa kan?" Aku khawatir sekali kepadanya.
"Iya, tapi badan Kakak berat banget.. Aku nggak bisa nafas ini." Jawabnya.. Aku sampai lupa kalau tubuhku ada di atas tubuhnya yang mungil itu.
"Ma.. Maaf sayang.. Aku nggak sengaja.." Aku berdiri dan membantu Maria untuk berdiri juga.
Aku memeluk tubuh mungil itu dan menghapus air matanya. Aku meminta maaf kepadanya karena pasti dia sedih dan berpikir yang bukan-bukan tentang aku.
"Maaf sayang. kamu salah paham.. Tadi aku lihat gadis itu hendak di tampar oleh Dendi, adiknya Sandra." Jelas ku.
"Hah? Adiknya Kak Sandra?" Maria terkejut dengan ucapan ku.
"Iya, Dendi itu adiknya Sandra. Dan tadi Sandra SMS aku, kalau kita akan bertemu dengan ibunya Kayla dan pergi ke rumah Indra."
"Kapan?"
"Minggu depan sayang.. Nanti aku akan mengantarmu."
"Apa kamu masih marah sama aku?" Aku melepaskan pelukanku dan menatap matanya. Aku menyentuh pipinya dengan kedua tanganku.
"Aku tidak akan tertarik dengan wanita manapun selain kamu. Aku, CUMA CINTA SAMA KAMU." Aku mendekatkan wajahku kepadanya dan mengecup bibirnya lagi, Maria hanya terdiam.
'Maafkan aku sayang, aku sudah mencium bibirmu lagi untuk kedua kalinya.'
"Aku sayang kamu, aku sangat takut kalau kamu marah sama aku. Daffa saksinya kalau kamu nggak percaya, dia bisa jelasin semuanya." Ucapku lagi dan Maria tetap bergeming, dia tidak menjawab ucapan ku sama sekali.
"Kamu kenapa sayang?" Aku panik Maria tidak merespon semua yang aku ucapkan, pasti dia marah besar sama aku.
"Sayang.." Aku hendak menciumnya lagi tapi Maria memalingkan wajahnya yang aku tahan dengan kedua tanganku.
"Aku.. Aku cemburu melihat kakak dengan wanita lain." Jawabnya. Yang masih saja memalingkan wajahnya. Maria tidak menatap mataku saat mengatakan itu.
Dan aku merasa kalau Maria sudah benar-benar mencintaiku. Aku senang Maria bisa cemburu karena biasanya dia cuek.
Itu membuatku merasa kalau aku sudah menjadi orang yang sangat berarti untuk Maria.
Aku memeluknya lagi dan aku mengusap rambutnya. "Aku hanya mencintaimu sampai kapanpun. Aku hanya ingin memandang wajahmu selamanya. Dan aku hanya ingin kamu satu-satunya wanita yang hadir dalam hidupku, sekarang, nanti dan selamanya."
Maria menangis di pelukanku (Lagi).
__ADS_1
* POV Ivan End
...****************...