
Selesai makan, kami berempat langsung menaiki perahu yang sudah kosong. Aku duduk di samping Kak Ivan, sedangkan Daffa dan Kak Aldi di depanku.
Aku jadi teringat waktu persiapan MOS, aku sama Indra naik perahu juga di danau. Kenapa setiap hal yang berkaitan dengan Indra otakku langsung mengingat kenangan itu ya?
Tapi sekarang aku harus bisa mencintai Kak Ivan sepenuh hatiku. Kak Ivan sudah sangat banyak berkorban untukku dan sudah mencintaiku dengan sangat tulus. Rasanya aku jahat sekali kalau masih mengabaikan perasaan Kak Ivan.
Maafkan aku Kak.. Tapi nama Indra tidak bisa terhapus begitu saja di dalam hatiku, Namanya akan selalu ada di hatiku selamanya walaupun aku sudah mencintaimu sepenuh hatiku.
Tapi aku nggak mau Kakak tau itu, biarkan saja hanya aku yang tau dalamnya perasaan ini buat Indra. Aku akan menjaga perasaanmu Kak, karena aku yakin Kakak tidak akan menyakiti hatiku.
Aku akan mencari tahu tentang kehidupanmu, karena Kakak serius akan menikahi ku jadi aku harus tahu semua tentang Kakak.
Setelah selesai naik perahu, Kak Ivan bilang katanya mau ke minimarket dulu beli minuman dan makanan ringan lainnya. Katanya tadi lupa sebelum berangkat nggak mampir dulu ke minimarket.
"Sayang, aku beli minuman sama cemilan dulu ya ke minimarket. Kamu sama Aldi dan Daffa dulu ya." Ucap Kak Ivan sambil mengusap pipiku.
"Iya Kak.." Aku melepaskan genggaman tangan Kak Ivan yang begitu erat.
"Al, jagain bidadari hati gue. Awas aja Maria sampe kenapa-kenapa." Ucap Kak Ivan kepada Kak Aldi.
"Iye cebong!! Nggak akan kenapa-kenapa kalau gue yang jagain mah. Si Ivan nggak percaya banget ama gue." Jawab Kak Aldi dengan nada kesal.
"Awas aja lu otak mesum sama Maria gue." Ancamnya.
"Nggak lah!! Gila lu." Jawab Kak Aldi mendengus kesal.
"Kakak, mau pergi sekarang atau mau berdebat terus?" Tanyaku heran melihat dua makhluk ini yang selalu saja berdebat nggak penting.
"Sekarang sayangku, calon istriku. Aku pergi ya." Kak Ivan berlalu sambil tersenyum kepadaku.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Daffa juga ikut dengan Kak Ivan. Katanya mau ke toilet karena sakit perut. Tinggallah aku dan Kak Aldi berdua duduk di gazebo. Kak Aldi terus saja memandangi aku, sepertinya ada yang mau dia bicarakan.
"Kak Aldi, kenapa liatin aku kayak gitu? Aku jelek banget ya?" Tanyaku, karena aku benar-benar nggak pede banget hari ini.
"Nggak kok, aku heran aja kenapa Ivan bisa sampe tergila-gila sama kamu." Jawabnya, membuatku menjadi malu dan tambah minder.
"Aku juga nggak tahu Kak, aku sendiri juga heran. Aku sudah 6x menolak Kak Ivan tapi Kak Ivan terus saja berjuang agar aku mau jadi pacarnya. Kadang aku suka mikir, apa dalam diri aku ini ada peletnya atau apa? Aku sendiri juga merasa minder pacaran sama Kak Ivan. SANGAT MINDER" Ucapku, memperjelas kalimat akhir.
Aku menjelaskan kepada Kak Aldi perasaanku yang sebenarnya, karena saat ini aku emang lagi pengen curhat. Dan kalau aku lagi pengen curhat kayak gini, mulutku ga bisa berhenti untuk menceritakan yang sebenarnya. Tentunya sama orang yang aku percayai dan bikin aku nyaman juga. Dan Kak Aldi juga enak diajak ngobrol orangnya.
"Asal kamu tahu Maria. Waktu awal-awal Ivan kuliah di Kanada, dia lesu banget. Tidak ada semangat hidup sama sekali dan saat aku nanya sama dia, katanya kangen sama pacarnya. Akhirnya aku ajak dia bikin FB dan besoknya pas dapet inbox dari kamu, dia bahagia banget. Sampai-sampai sepanjang hari dia tersenyum terus dan bikin cewek-cewek di sana pada naksir sama Ivan. Tapi dia nggak respon semua pernyataan cinta cewek-cewek itu."
"Dan waktu aku tanya dia kenapa dia sayang banget sama kamu, katanya karena kamu itu mahal. Padahal waktu itu kamu belum resmi jadi pacarnya Ivan, tapi Ivan udah mengakui itu loh. Dia juga bilang kalau yang dapat ciuman pertamanya adalah Ivan, bukan mantan kamu yang sangat kamu sayang itu." Jelas Kak Aldi lagi.
Sumpah aku malu banget saat Kak Aldi membahas masalah ciuman itu. Kak Ivan bener-bener nggak tau malu deh!! Itu kan aib, ngapain harus di kasih tau ke orang lain. Aku tidak menjawab ucapan Kak Aldi, aku hanya diam tanpa kata.
"Mar.." Panggil Kak Aldi.
"Apa kamu mencintai Ivan?" Pertanyaan Kak Aldi membuatku sedikit terkejut.
"Kenapa Kakak tanya gitu?" Aku malah balik nanya sama Kak Aldi.
"Aku pengen tahu aja, karena kamu masih menyimpan nama Indra di hatimu kan?" Tanyanya yang membuatku semakin terkejut. Kenapa Kak Aldi bisa tahu sih? Aku harus jawab apa?
"Kak, apa Kakak punya seseorang yang kakak sayangi di masa lalu?" Tanyaku.
"Ada." Jawabnya.
"Apa kakak bisa melupakan begitu saja semua kenangan bersamanya?" Tanyaku lagi.
__ADS_1
"Tidak, aku paling ingat sama cinta pertamaku waktu di SMA." Jawabnya lagi.
"Seperti itulah perasaanku Kak. Semua memori tentang apapun yang sudah terlewatkan tidak akan terlupakan begitu saja bukan? Apalagi seseorang yang sangat berharga untuk kita dan orang itu teramat sangat menyayangi kita. Tentu kita tidak akan mungkin menghapus namanya dengan mudah saat berpisah dengannya. Karena setiap momen yang terlewati di hidup kita akan menjadi sejarah di masa depan."
"Aku mencintai Kak Ivan, sangat mencintainya kak.. Jujur, waktu Kak Ivan memutuskan untuk kuliah di Kanada, hatiku begitu hancur. Kak Ivan mengingkari janjinya yang akan selamanya ada di sampingku. Hari itu aku kecewa sekali, aku menangis saat pulang sekolah. Hatiku terasa sakit sekali mengingat kenangan bersama Kak Ivan yang selalu menghiburku saat aku kehilangan Indra."
"Saat itu aku nggak yakin bisa bersatu dengannya, karena ku pikir buat apa menunggu seseorang yang nggak jelas kapan dia akan kembali. Dan selama Kak Ivan di sana, Zain datang mencoba mendekatiku. Hatiku tidak berdebar-debar saat di dekat Zain, berbeda ketika aku di dekat Indra dan Kak Ivan."
Kak Aldi mendengarkan penjelasan ku yang panjang kali lebar.
"Zain? Siapa dia?" Tanya Kak Aldi heran, karena dia kan nggak kenal sama Zain.
"Teman sekelas ku dan sekarang dia menjadi pacar dari sahabatku, Kia." Jawabku.
"Lalu Daffa?" Tanyanya lagi, pertanyaaan Kak Aldi menjadi pertanyaan yang ambigu. Maksudnya nanya 'Lalu Daffa' itu apa?
"Maksud Kakak?" Tanyaku yang kurang paham arah pertanyaannya.
"Perasaanmu sama Daffa, gimana?"
"Oohh.. Dia sahabatku yang paling aku sayang, aku sangat menyayangi Daffa sebagai sahabatku. Karena Daffa selalu ada buat aku sejak aku kehilangan Indra dan di tinggal pergi oleh Kak Ivan. Perasaanku kepadanya tidak melebihi perasaanku sama Kak Ivan."
Jawabanku membuat Kak Aldi menjadi terdiam kembali. Entah apa yang ada di pikirannya, tapi setelah aku mengatakan itu suasana menjadi hening..
Krik,
Krik
Krik.
__ADS_1
...****************...