
* POV Kelvin
Aku pulang ke rumah tanpa Tiara dan aku tidak tahu sekarang dia ada dimana. Berani sekali dia mengatakan bahwa aku suami terkutuk, tidak tahu diri!! Padahal keluarganya sangat bergantung padaku dan semua kebutuhan keluarganya aku yang penuhi.
Dulu aku mendekatinya karena gengsi dan bertaruh dengan teman-teman ku yang merupakan CEO juga di perusahaannya masing-masing. Itulah kesalahan terbesar dalam hidupku. Hanya karena ingin perusahaan menjadi lebih maju lagi, aku menyetujui ide mereka untuk bertaruh mendapatkan Tiara.
Aku juga tidak menyangka kalau Tiara akan memilihku. Padahal salah satu temanku ada yang tulus mencintainya tapi di abaikan olehnya. Dasar gadis bodoh!!
Dia tidak bisa menggunakan instingnya untuk menilai seorang pria. Dia terlalu percaya diri dengan kecantikan yang di milikinya. Dan terlalu membanggakan diri bahwa semua pria akan menyukainya.
Memang harus aku akui semua teman-temanku memang menyukai Tiara. Makanya mereka bertaruh untuk mendapatkan Tiara. Tapi tidak denganku, aku sama sekali tidak mencintainya. Aku tidak pernah merasakan apapun saat di dekatnya. Walaupun dia cantik, tapi aku tidak tertarik kepadanya.
Tapi walau bagaimanapun aku tidak akan menceraikannya, karena aku berprinsip untuk menikah seumur hidup sekali. Aku malu jika harus menikah lebih dari satu kali, tapi bila takdir berkehendak lain mau di kata apa?
Sejak aku menikahinya, aku berharap suatu saat nanti aku akan mencintainya. Tapi ternyata tetap saja aku tidak bisa merasakan cinta di dalam hubungan ini. Cantik belum tentu membuat pria bisa mencintainya.
Hati memang tidak bisa di paksakan. Dan itulah kesalahanku karena gengsi dan mengikut taruhan itu, hidupku menjadi tersiksa begini. Aku pun tidak bahagia dengan pernikahan ini.
Aku masih bimbang, apa aku ceraikan saja dia atau mempertahankannya walaupun tidak ada kebahagiaan sedikit pun di dalamnya. Kami bertahan hanya karena status bukan karena adanya cinta. Aku pun tak yakin apa Tiara benar mencintaiku atau tidak.
Aku akan pikirkan ini baik-baik, bagaimana aku harus bersikap. Aku harus mencarinya karena walau bagaimanapun dia masih menjadi istriku. Meskipun aku tidak mencintainya tapi aku peduli. Aku tidak benar-benar mengusirnya waktu itu, Itu hanya karena aku sedang emosi saja.
Aku menelpon salah satu adiknya yang bernama Cantika untuk menanyakan apakah Tiara pergi ke rumah orang tuanya atau tidak.
Ku ambil ponsel di meja dan ku tekan nomor Cantika.
"Halo Cantika."
__ADS_1
"Iya Kak Kelvin, ada apa?"
"Apa Tiara pergi ke rumahmu?"
"Tidak ada. Kak Tiara tidak kesini Kak. Memangnya kenapa? Kak Tiara tidak ada di rumah?"
"Iya, dia pergi. Dan aku mengira dia pergi ke sana."
"Bagaimana bisa Kakak tidak tahu tujuan Kak Tiara pergi?"
"Entahlah, saat aku pulang Tiara sudah tidak ada di rumah." Aku berbohong untuk menutupi kesalahanku.
"Aku hanya minta tolong kepadamu untuk meminta Tiara pulang kalau kamu bertemu dengannya."
"Baiklah Kak. Nanti kalau Kak Tiara kesini atau kalau aku bertemu dengannya aku akan menyuruhnya pulang.'
"Iya Kak, sama-sama."
Aku mematikan panggilan teleponnya dan berharap segera menemukan Tiara. Memang selama kami berumah tangga aku tidak pernah memberikannya uang langsung kepada Tiara. Setiap kebutuhan Tiara atau rumah, aku yang mengaturnya.
Aku tidak mau di atur olehnya dan aku lebih senang seperti ini. Kalau aku menyerahkan semua uangku dan mempercayakan Tiara untuk mengaturnya, aku takut dia akan semena-mena dan berfoya-fota dengan temannya yang selalu memanfaatkan dirinya.
Teman-temannya selalu bergantung kepada Tiara. Karena menganggap Tiara beruntung memiliki suami kaya raya sepertiku. Aku tidak menyukai teman-temannya karena mereka hanya ada di saat kami senang. Tidak seperti teman-temanku yang selalu ada di saat aku sedang senang maupun saat aku terpuruk.
Makanya itu, aku lebih royal kepada teman-temanku karena mereka lah yang membantuku saat perusahaan hampir saja gulung tikar. Kalau tidak ada mereka mungkin saat ini aku sudah menjadi gembel karena tidak mempunyai apa-apa. Aku pasti sudah miskin dan tidak dapat mengembangkan perusahaan satu-satunya yang aku miliki.
Sedangkan orang tuaku sudah meninggal sejak aku keluar kuliah dan aku harus berjuang membesarkan perusahaan yang mereka tinggalkan sendirian tanpa ayah dan ibuku. Perusahaan yang sudah hampir terpuruk saat ayah tinggalkan.
__ADS_1
Awalnya aku bingung harus bagaimana, tapi teman-temanku memberikan semangat padaku untuk bangkit dan bersedia menjadi investor di perusahaan ku. Dengan dukungan dari teman-teman yang juga CEO, aku bisa menjadi seperti ini.
Aku merasa mempunyai hutang Budi kepada mereka, sampai mati pun hutang Budi tidak bisa di bayar oleh materi. Berbeda saat kita mempunyai hutang materi, berapapun nominalnya kita akan bisa melunasinya dan tidak akan ada kaitannya lagi setelah kita bayar.
Mereka memang tidak mengharapkan balas Budi dariku, tapi tetap saja aku tau diri. Aku tidak bisa untuk tidak peduli kepada teman-temanku. Dan aku juga tidak bisa tidak peduli dengan keluarga Tiara.
Anehnya kenapa aku tidak percaya kepada Tiara untuk mengelola keuanganku? Aku pun tidak tau alasannya mengapa seperti itu. Sepertinya aku harus berbicara dengan Tiara dan meminta maaf padanya. Aku tau aku salah, maafkan aku Tiara. Padahal di sini kamu lah yang paling tersakiti karena aku yang terlalu egois.
Semoga kamu mau memaafkan aku yang sudah sangat keterlaluan padamu. Aku yang selalu menyiksamu setiap aku emosi dan aku yang selalu menyakiti hatimu setiap saat.
* POV Kelvin End
***
Cantika Dewi, dia siswi SMA favorit di tempatnya. Dia menjadi primadona sekolah karena kecantikan wajahnya. Semua teman pria nya banyak yang menyukai Tika. Sama seperti kakaknya, Tiara. Dia menjadi kembang desa dan primadona sekolah, banyak sekali yang mengharapkan cintanya.
Pilihan Tika jatuh kepada pemuda bernama Dendi, mereka sudah berpacaran 1 tahun. Entahlah Tika pun tidak tahu mengapa dia bisa menerima cinta Dendi, pria biasa saja yang tidak tampan ataupun kaya. Dendi sangat posesif, dia selalu melarang Tika untuk sekedar menyapa teman laki-lakinya selain sahabatnya. Walau begitu Tika tetap bertahan dengan sifat posesif Dendi.
Dendi memang baik dan selalu tahu cara untuk membuat Tika tidak marah kepadanya, tapi Tika juga selalu kesal karena sifat takut kehilangannya yang berlebihan itu. Dan semakin lama semakin merasa terganggu dengan sifat Dendi yang demikian. Tika tidak akan pernah bisa lepas dari Dendi karena Dendi selalu mengancam akan menyebarkan video mereka yang sedang 'Melakukan' itu ke sosial media.
Tika ketakutan dan dia malu kalau sampai orang tua, Kakak, tetangga dan semua orang tahu kalau dia pernah melakukan itu dengan Dendi. Tika terjebak ucapan manis Dendi saat dia bilang bahwa dia akan bertanggung jawab kalau Tika hamil. Dan sekarang Tika sangat menyesali perbuatannya, dia memendam semuanya seorang diri sampai dia sudah tidak kuat lagi menahannya dan harus berbuat apa.
Tika harus bisa berpikir jernih sebelum bertindak. Dia harus mengambil video itu dan menghapusnya agar dia bisa terlepas dari jeratan cinta Dendi yang posesif.
Hari Minggu ini sekolahnya mengadakan studi tour ke kawah putih. Sekalian sebagai acara perpisahan kelas 3 yang sebentar lagi akan terlaksana. Tadinya sekolah Tika akan mengadakan studi tour ke Yogyakarta, tapi karena suatu hal rencana semula di batalkan. Dan jadilah ke kawah putih sebagai destinasi wisata yang di tuju.
...****************...
__ADS_1