
Kami menyusuri jalan setapak demi setapak. Pepohonan rindang kanan dan kiri menambah kesan asri sekaligus seram di sepanjang perjalanan. Cuaca nya dingin sekali, makin ke atas makin dingin.
Aku tak bisa melepaskan tanganku dari genggaman tangan Indra. Karena jalan yang di lalui sangat licin dan butuh penopang untuk bisa berjalan dengan baik. Bebatuan yang ada di jalan menambah rintangan yang harus kami lalui.
"Mar, kamu capek ya, nafas kamu cepat banget."
Tanya Indra yang mendengar kecepatan nafasku yang seperti di kejar guguk.
Aku hanya mengangguk, tidak bisa menjawab pertanyaannya karena nafasku yang terengah-engah. Padahal ini baru setengah jalan menuju Curug pertama. Itulah kenapa aku nggak mau ke tempat ini karena jalanan nya yang penuh rintangan.
Tapi kalau sudah sampai di depan Curug rasanya ingin terus ke sini. Air nya sangat jernih sampai-sampai kita bisa ngaca saking jernih nya terus air nya dingin seperti air es. Biasanya aku hanya duduk saja di batu yang besar sambil menikmati cilok rebus.. mantulll....!!
"Mau aku gendong?" Tawar Indra.
Aku menggelengkan kepala. Malu lah nanti di liatin orang yang lewat gimana?
"Sini.. Istirahat dulu aja ya." Indra duduk di bawah pohon rindang di atas batu yang di jadikannya alas duduk.
Aku duduk di dekatnya sambil mengatur nafasku yang masih terengah-engah. Masih lumayan jauh menuju pos pertama, tapi lebih jauh lagi kalau kita kembali. Tidak ada pilihan lagi selain meneruskan perjalanan.
Orang yang melewati kami selalu melihat dengan tatapan yang menurutku aneh. Mungkin mereka pikir kita pacaran, yang laki-laki nya tampan sedangkan yang perempuan nya jauh dari kata cantik alias jelek. Mereka mungkin berpikir, 'Kok cowoknya mau ya sama cewek mungil kayak gitu'.
Bukannya aku berprasangka buruk kepada mereka, tapi sikap mereka yang menunjukkan itu. Ketika melihat Indra, mata mereka berbinar-binar penuh kekaguman. Sedangkan saat melihatku tatapannya berubah menjadi tatapan ilfeel dan mereka mengangkat bahunya sambil melirik ke arah temannya. Aku malu.
Indra yang melihatku seperti itu langsung menepuk bahuku dan reflek aku terkejut karena kaget. Sepertinya dia tahu kalau aku tidak nyaman dengan tatapan orang-orang.
"Jangan melamun. Biarin orang mau berpikir apa tentang kita. Kamu jangan baper ya." Ucapnya sambil mengelus rambut panjang ku yang tergerai. Aku menganggukkan kepalaku.
Aku mengambil kunciran rambut yang ada di tas dan menguncir rambutku ke belakang. Ribet sekali berjalan dengan rambut tergerai yang tertiup angin. Indra merapikan poni ku yang berantakan dan penuh dengan keringat.
__ADS_1
"Kamu cantik. Tapi begini lebih cute." Ucap Indra yang menyingkirkan poni ku ke pinggir.
Indra mengusap keringat yang membasahi dahi dan hidungku dengan tangannya, membuat jantungku berdegup kencang. Indra seolah-olah bisa mendengar degup jantungku yang berdetak tidak beraturan, dia tersenyum kepadaku.
"Aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan Maria. Apa kamu merasa gugup saat aku memandang wajahmu?" Ucap Indra yang tersenyum manis padaku.
"Aku, aku cuma merasa capek." Jawabku sambil mengatur hatiku agar tidak berdebar-debar.
"Kalau udah nggak sanggup bilang ya."
"Iya."
Waktu sudah menunjukkan pukul 9.42. Semakin siang akan semakin lama menuju Curug kedua.
Tapi sepertinya aku nggak sanggup ke sana, Ke Curug pertama aja lah yang tidak terlalu lama jarak tempuh nya.
"Dra, ke Curug pertama aja ya. Kayaknya aku nggak sanggup kalau harus ke Curug kedua. Pegel banget kaki aku, terus capek juga."
"Tapi aku malu nanti di liatin orang lain."
Sebenernya sih aku pengen di gendong Indra, karena memang kaki ku sudah sangat sakit. Nggak tau kenapa tiba-tiba betis ku seperti ada sesuatu yang menempel.
Ku lipat ujung celana jeans ku ternyata ada Pacet. Aku langsung histeris, berteriak karena aku ketakutan sama binatang itu.
Indra panik dan langsung mengambil binatang itu lalu membuangnya. Indra memelukku yang sangat ketakutan. Jangankan Pacet, cicak aja aku takut.
Indra terus menenangkan aku, nggak habis pikir itu Pacet kenapa bisa ada di betis aku.
Pacet itu hampir sama dengan lintah, tapi beda. Lintah sehari hari hidup di air sedangkan Pacet banyak ditemukan di rumput-rumput yang basah sehabis hujan atau melekat pada daun, batang pohon, dan batu. Kita juga bisa menemukan hewan bertubuh kecil ini di rawa-rawa atau sawah.
__ADS_1
Saat menghisap darah, hewan ini mengeluarkan zat khusus pada sedotannya yang dapat mencegah darah agar tidak membeku. Walau begitu tetap aja aku jijik sama Pacet. Aku tidak suka dengan binatang melata apapun jenisnya.
Aku tidak menyadari kalau Pacet itu sudah menyedot darahku, tidak tau kapan masuknya dan itu cukup membuatku histeris.
Kalau pacet sudah kenyang, tubuhnya akan menggemuk dan langsung jatuh sendirinya dari mangsanya. Pacet jarang sekali di gunakan dalam dunia medis, berbeda dengan lintah yang justru banyak digunakan dalam bidang kedokteran untuk mengatasi penyumbatan darah dan pengeluaran darah (plebotomi).
Akhirnya Indra menggendongku, dia berjongkok agar aku mau naik ke atas punggungnya. Mau nggak mau aku harus di gendong karena aku nggak mau lagi ada Pacet di kaki aku yang sudah sangat kesakitan ini.
Mau balik lagi udah nanggung setengah jalan hampir sampai. Karena pos pertama atau warung sudah tampak dari kejauhan, itu artinya Curug pun sudah di depan mata.
Aku tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang aneh melihat aku di gendong. Yang penting aku tidak bertemu dengan binatang itu lagi.
Sampai juga di Curug pertama. Aku langsung duduk di warung itu, ku lihat Indra sedang memesan minuman.
Indra datang dengan 2 gelas teh manis hangat dan dua roti rasa coklat.
"Minum dulu, biar kamu tenang." Indra menyodorkan teh itu kepadaku, dan aku mengucapkan terima kasih kepadanya yang sangat perhatian kepadaku.
"Makasih. Tadi berat ya gendong aku?" Ucapku sambil meminum teh yang di kasihnya tadi.
"Engga kok. Aku seneng bisa gendong kamu." Jawab Indra yang sekarang sedang mengunyah roti coklat.
"Makan rotinya ya. Abis ini kita langsung ke Curug.." Indra memberikan roti itu kepadaku. Sebenarnya aku tidak lapar, tapi Indra memaksaku untuk makan roti itu. Aku pun memakan roti itu dan melihat-lihat keadaan di sekeliling. Tidak terlalu ramai, dan aku suka sekali kalau tidak banyak pengunjung seperti ini.
Selesai minum teh, kami langsung menuju ke Curug. Walaupun dengan berjalan tertatih, aku masih bisa menahan rasa sakit ini.
Sampai di Curug, aku tidak berhenti melihat pemandangan yang begitu indah. Tidak berubah sedikit pun, tetap sama seperti dulu saat aku dan teman-teman pergi kesini.
Indah sekali tempat ini Ya Allah..
__ADS_1
...****************...