
Setelah pertemuan dengan Kak Sandra, Kak Aldi datang dan berkata bahwa pukul 8 malam nanti ibunya sudah di izinkan untuk pulang. Dan Kak Aldi bertanya kepadaku kenapa mataku menjadi sembab.
"Mar, kenapa matamu jadi sembab gitu? Di sakitin Ama Ivan?" Tanyanya sambil melihat ke arah wajahku yang sedang menunduk.
"Enak aja lu.. Ga mungkin gue sakitin Maria." Jawab Kak Ivan yang kesal karena Kak Aldi sudah menuduhnya.
"Aku Nggak apa-apa Kak Aldi.. Kita lihat kondisi ibu aja yuk." Jawabku mengalihkan pembicaraan.
Kami bertiga pun kembali ke ruang rawat ibu, di sana sudah ada dokter yang sedang memeriksa ibu dan kami pun di bolehkan untuk pulang malam ini.
Saat kami semua sudah di mobil, Kak Ivan yang ada di sampingku hanya diam tidak bersuara begitu pun dengan Kak Aldi dan ibunya yang ada di depan. Kami semua diam tanpa kata, tidak ada berbicara satu orang pun.
Aku melirik ke arah Kak ivan, tapi Kak Ivan hanya memandang ke depan. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya sekarang. Aku merasa Kak Ivan sedang memikirkan sesuatu, beberapa kali Kak Ivan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Aku yang melihat itu hendak bertanya, tapi aku urungkan.
* POV Ivan
Aku tidak tahu kenapa dadaku terasa sangat sakit saat melihatnya menangis. Maria meminta untuk bertemu dengan ibunya Indra dan aku sudah terlanjur mengizinkannya. Aku tidak mau melihatnya bersedih seperti itu, aku ingin melihatnya bahagia dan tersenyum walaupun hatiku terluka melihat matanya yang masih ada cinta untuk Indra di sana.
Apa memang aku tidak bisa untuk menggantikan posisi Indra di hatimu Maria? Tapi cintaku sangat kuat sama kamu, Aku tidak mau kehilanganmu dan aku tidak akan pernah mau untuk berpisah sama kamu.
Sampai kapanpun aku akan selalu mencintainya walaupun hatinya masih milik Indra. Aku tahu Maria berusaha untuk mencintaiku juga, tapi aku merasa hanya aku yang memberikan cinta yang teramat besar untuknya. Aku ingin Maria melakukan hal yang sama sepertiku, memberikan cinta yang amat besar pula untukku.
Aku galau, aku tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membuktikan bahwa aku sangat mencintainya dan berharap Maria juga mencintaiku dengan tulus dan penuh kasih sayang. Aku ingin Maria tidak menangis saat mengingat Indra, aku tidak ingin Maria bersedih setiap mendengar nama Indra.
Aku memang senang bisa berpacaran dengan Maria sekarang, tapi bukan berarti aku senang Indra pergi dengan cara seperti itu. Tadinya aku ingin berjuang mendapatkan Maria dengan cara yang sehat, bukan seperti Kayla.
Aku ingin bersaing dengan Indra karena kalau Indra masih ada sampai saat ini, aku tidak tahu apa aku bisa berpacaran dengan Maria atau itu hanyalah harapanku saja.
Mungkin kalau Indra masih ada, Maria tidak akan pernah mau untuk bersamaku. Dan aku yakin Maria akan tetap memilih Indra untuk menjadi pendamping hidupnya.
Aku tidak akan menyerah Mar!! Aku akan terus berusaha agar kamu memberikan hatimu sepenuhnya untukku. Dan aku tidak akan membuatmu kecewa apalagi menangis seperti itu. Semoga kelak kamu akan mencintaiku dengan sepenuh hatimu.
Saat aku sedang melamun, Maria menyentuh pipiku dengan lembut sampai aku menoleh ke arahnya lalu dia bertanya,
"Kakak kenapa? Kok diem aja? Apa Kakak marah sama aku?" Tanyanya yang tangan mungilnya masih saja menyentuh pipiku dengan lembut.
__ADS_1
"Engga sayang, mana mungkin aku marah sama kamu. Aku nggak apa-apa." Jawabku sambil tersenyum dan memegang tangannya yang masih menyentuh pipiku.
"Kakak bohong ya..?" Selidiknya.
"Beneran sayang, aku nggak bohong.. Aku nggak apa-apa kok." Berusaha meyakinkan Maria kalau aku tidak marah kepadanya.
"Bener ya? Kakak jangan bohong sama aku."
"Iya sayang.."
Tak lama kemudian kami sudah sampai di rumah Aldi. Aku dan Aldi menolong ibu untuk naik ke kursi roda karena kondisi ibu masih lemah. Setelah selesai semua, aku pamit karena waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 aku takut kemalaman mengantar Maria pulang.
Untung besok hari Minggu, jadi Maria tenang dan tidak khawatir besok akan mengantuk di sekolah.
Aku pura-pura meminjam mobil itu sama Aldi, tapi ibunya Aldi heran dan bertanya.
"Kenapa harus minta izin nak Ivan? Itu kan mobil..."
Ucapan ibu di potong oleh Aldi.
"Iya, pake aja Van, anggap mobil sendiri.. Kita kan sahabat.." Jawab Aldi sambil mengedipkan matanya ke arah ibu.
Kami pun pamit kepada ibu dan Aldi.
***
Di mobil..
Aku mengemudikan mobilku sedangkan Maria duduk di samping. Sebentar-sebentar aku menoleh ke arahnya tapi Maria malah melihat ke arah jendela.
Aku memanggil namanya, "Mar.."
"Apa Kak?" Dia menoleh kepadaku.
"Aku.... Aku mau tanya sama kamu." Tiba-tiba aku gugup untuk membicarakan ini.
__ADS_1
"Tanya apa?" Maria menatapku yang sedang mengemudi mobil, membuatku menjadi kehilangan fokus.
Karena rumah Maria sudah dekat, aku menghentikan mobil 500 m dari arah rumahnya.
"Kenapa berhenti di sini Kak?" Tanya Maria yang mulai gelisah karena aku tidak mengantarnya sampai depan rumah.
"Aku mau bicara sama kamu." Ucapku serius.
"Apa??"
"Apa kamu sudah mencintaiku dengan sepenuh hatimu?" Tanyaku sambil melihatnya dengan tatapan yang serius.
"Kenapa Kakak tanya itu lagi?" Aku melihat raut ketakutan di wajahnya.
"Jawab sayang.." Aku mencoba mencairkan suasana agar Maria tidak takut dan berpikir macam-macam kepadaku.
"Aku mencintaimu Kak.. Kenapa Kakak masih saja menanyakan hal yang sama? Apa yang harus aku buktikan agar Kakak percaya kalau aku mencintaimu Kak?" Jawabnya sambil melihat tajam ke arah wajahku.
"Aku merasa kalau hatimu masih untuk Indra, kamu masih saja sedih mendengar nama Indra, kamu masih saja menangis saat mengingat kejadian itu. Kenapa?" Tanyaku sedikit meredam emosiku yang entah mengapa hatiku terasa sangat sakit sekali.
"Kak, setiap kejadian yang kita lalui tidak mungkin bisa di lupakan begitu saja. Apalagi Indra adalah bagian dari hidupku dulu. Dia yang selalu ada untukku jauh sebelum aku mengenal Kakak. Apa Kakak cemburu kepada Indra yang sudah tidak ada? Aku kecewa sama sikap Kakak.. Kenapa Kakak nggak bisa dewasa?" Ucap Maria, aku hanya diam mendengarkannya.
"Selama ini aku terus berusaha untuk mencintaimu Kak, aku berusaha menyayangi Kakak sepenuh hatiku. Tapi kenangan tentang Indra tidak akan terhapus begitu saja, aku sangat berharap Kakak bisa mengerti keadaanku saat ini. Aku harus membuktikan apa Kak Agar Kakak percaya kalau aku sudah mencintai Kakak?"
"Jangan bilang kalau Kakak ingin aku membuktikan cintaku dengan tubuhku!!"
DEG!!
Aku terkejut dengan ucapan Maria barusan. Aku sama sekali tidak berpikir sejauh itu, aku tidak mungkin melakukan itu dan merusak wanita yang aku cintai ini.
"Sayang, kenapa kamu berpikir seperti itu? Aku sama sekali tidak berpikir sampai sejauh itu."
Maria hanya diam., dia memalingkan wajahnya dariku...
Dan aku lihat air mata mengalir di pipinya yang halus..
__ADS_1
* POV Ivan End
...****************...