INSECURE, Cinta Masa Lalu

INSECURE, Cinta Masa Lalu
Trauma masa kecil


__ADS_3

Flashback..


Saat itu aku masih kelas 4 SD. Setahun setelah papah pergi aku dan mamah masih belum bisa bangkit dari keterpurukan. Kami masih berkabung atas kematian papah yang tiba-tiba.


Toko hijab mamah terbengkalai begitu saja. Tidak ada pemasukan lagi dan hanya mengandalkan uang tabungan kami yang sudah mulai menipis. Mamah sedang memutarkan otaknya agar kami bisa bertahan hidup dan bangkit seperti dulu lagi saat masih ada papah.


Papah adalah seorang ayah yang penyayang, sosok ayah yang bisa membuat kami merasa terlindungi berada di dekatnya. Hangat dan nyaman, itu lah papah. Beliau berusaha untuk selalu membuat kami bahagia. Kepergian papah yang mendadak sungguh sangat membuat kami terpukul dan sangat amat kehilangan.


Wajah papah sangat tampan dan bertubuh tinggi. Tapi aku heran, kenapa aku berwajah pas-pasan dan bertubuh pendek ya? Hanya kepintaran papah yang turun ke aku. Dalam segi fisik emang nggak ada mirip-mirip nya padahal mamah juga cantik dan tidak pendek untuk ukuran perempuan.


Papah bekerja sebagai manager perusahaan besar. Gajinya fantastis dan lebih dari cukup untuk kami bertiga. Jadi uang nya selalu kami tabung. Tabungan papah, mamah, dan aku. Kami bergelimang harta kala itu.


Dan mamah menyarankan untuk membuka toko hijab dan busana muslim karena mamah merasa jenuh berdiam diri di rumah saja tidak ada kegiatan. Papah mengabulkan keinginan mamah. Toko hijab itu sangat laris manis, sampai mamah mempekerjakan sepuluh karyawan.


Rumah kami bergaya modern minimalis. Mamah sengaja ingin rumah minimalis, katanya capek membersihkannya kalau rumah besar walaupun ada pembantu juga tidak cukup hanya 1 pembantu.


Papah dua bersaudara, adik papah itu perempuan nama nya Tante Lia dan tinggal di kampung bersama nenek. Karena harus mengurus nenek yang sudah sepuh. Papah sangat sayang kepada adik satu-satunya itu. Dan Papah selalu mengirim uang kepada adik perempuannya di kampung karena suaminya hanya buruh pabrik dan tidak cukup untuk membiayai 4 orang anak.


Aku dan mamah selalu di ajak untuk berkunjung ke kampung papah, sekalian bertemu dengan nenek dari papah.

__ADS_1


Tanteku mempunyai 4 orang anak yang semuanya itu perempuan. Yang pertama sudah kelas 2 SMP, yang kedua kelas 5 SD, yang ketiga kelas 3 SD seumuran denganku dan yang bungsu baru masuk TK.


Sepupuku lebih tua dariku karena adik papah menikah duluan. Sepupuku cantik-cantik semua, berkulit putih glowing, hidung mancung serta tubuh yang tinggi dan ramping.


2 bulan sebelum papah meninggal, tepatnya saat aku berumur 9 tahun, kami berkunjung ke tempat nenek. Karena kerabat kami sedang ada hajatan dan papah di minta nenek untuk datang.


Sampai di sana papah dan mamah sibuk membantu, tapi Tanteku tidak. Mungkin sudah capek bantu-bantu sebelum kedatangan kami. Tanteku sedang mengobrol dengan para tamu undangan dan tetangganya.


Aku di ajak main oleh sepupuku namanya Cantika atau sering di panggil Tika (Yang seumuran denganku). Saat itu kami di panggil Tante, kami pun menghampiri Tante yang ternyata sepupuku yang lain juga ada di situ.


Sepupuku di puji-puji oleh para tetangga karena kecantikannya yang alami dan dari lahir. Mereka bilang, 'Wah ga usah di dandanin juga anak teh Lia mah udah cantik kayak artis.'


Lalu mereka melihat ke arahku. Tetangga yang hadir ada yang sudah mengenalku ada juga yang belum. Mereka yang belum mengenal aku bertanya, "*Teh Lia, itu s*iapa itu?"


Tanteku menjawab, "Itu anaknya A Alan."


Mereka tidak percaya kalau aku adalah anak papah. Salah satu dari mereka berkata, "Ah masa sih anaknya A Alan? A Alan Ruslan kan? kok nggak mirip? A Alan kan ganteng, istrinya juga cantik tapi kok anaknya nggak ada mirip-mirip nya kayak anak pungut. beda banget sama anaknya teh Lia, cantik-cantik."


Deg.

__ADS_1


Aku yang waktu itu masih sangat kecil tak mengerti dan tak terlalu menghiraukan ucapan mereka. Aku lanjut bermain dengan cantika. Tapi entah kenapa hatiku merasa tidak nyaman berlama-lama tinggal di rumah nenek.


Aku ingin segera pulang dari rumah nenek dan seperti ada perasaan enggan untuk bertemu dengan Tante dan sepupu-sepupuku. Aku memang tak mengerti apa yang di bicarakan mereka, tapi mereka semua mentertawakan aku. Membuat aku merasa seperti bahan ejekan.


Setelah itu, datanglah Kak Tiara. Dia menyapaku dan tersenyum manis padaku. Tetangga tadi bilang, "Satu lagi yang cantiknya kayak bidadari baru Dateng nih.. Memang anaknya teh Lia mah pantes jadi kembang desa. Semua nggak ada produk yang gagal. Cetakannya bagus-bagus.."


Mereka pun tertawa terbahak-bahak lagi sambil melirik-lirik ke arahku yang sedang bengong tidak mengerti. Tapi memori itu terlihat jelas di mataku walaupun aku sudah besar dan kejadian itu sudah berlalu sangat lama.


Sampai akhirnya setelah peristiwa itu kejadian demi kejadian datang silih berganti yang menuntut untuk mempunyai keindahan fisik yang sempurna.


Membuatku merasa bahwa orang dengan wajah yang pas-pasan tidak pantas untuk di cintai, tidak pantas untuk di sayangi, dan tidak pantas mendapatkan pria yang tampan..


"Maka dari itu, saat pertama kali kamu mendekatiku waktu kelas 7, aku memilih untuk lebih dekat dengan Ari daripada kamu. Itu karena aku selalu merasa bahwa aku hanya akan menjadi bahan ejekan bila punya kekasih tampan seperti kamu."


"Aku hanya akan membuatmu malu karena punya cewek jelek kayak aku ini. Aku tidak pernah bisa untuk percaya diri sedetik pun, karena ingatan itu selalu terbayang-bayang di dalam pikiranku."


Indra menggenggam tanganku dan mencoba menenangkan aku.


"Sekarang kamu jangan pernah ingat kenangan buruk masa lalu kamu itu. Aku selalu ada untuk kamu, aku tidak akan membiarkan seorang pun menyakiti hati kamu."

__ADS_1


Terima kasih Indra, terima kasih untuk semuanya..


__ADS_2