
* POV Ivan
Hatiku panas melihat kemesraan Maria dan pacarnya. Kenapa ini? Dia bukan siapa-siapa aku, kenapa aku harus cemburu. Walaupun ada Kayla di sampingku, aku tidak pernah menganggap dirinya sebagai seorang yang sangat berarti untukku.
Aku ingin bicara dengannya. Dengan orang yang sudah membuat aku tidak karuan begini. Tapi di situ ada pacarnya, aku tidak bisa mengontrol emosi yang sejak tadi sudah aku tahan. Bahwa aku akan berbicara dengannya.
Otak ku tidak berpikir kalau berbuat itu di depan pacarnya yang ada malah jadi masalah. Harusnya aku mengajaknya mengobrol di sekolah.. Dengan hati tenang dan kepala dingin berbicara empat mata dengannya.
Ya lebih baik nanti di sekolah aku ajak dia untuk bicara lagi. Aku akan meminta maaf padanya dan akan mendekatinya walaupun hanya sebatas teman saja. Itu tidak masalah bagiku. Yang penting bisa dekat dulu dengannya dan membuatnya nyaman berada di dekatku.
* POV Ivan End
Indra menarik tanganku dengan kasar sampai aku kesakitan, "Aww.. Sakit."
"Ma maaf sayang.. Aku tidak sengaja.. Mana yang sakit? "
Kemudian Indra mengusap pergelangan tanganku.. Lalu dia berkata, "Mar, apa firasat ku akan benar-benar terjadi kalau laki-laki itu akan mencintai kamu juga." Ucapnya sambil terus mengelus pergelangan tanganku.
"Kamu nggak usah takut Dra, aku nggak akan terima cinta dari siapapun kecuali dari kamu. Percaya deh sama aku. Kalau kamu posesif kayak gini malah membuat aku menjadi tidak nyaman. Jadilah Indra yang dulu.. Yang selalu membuatku nyaman di dekat kamu."
__ADS_1
"Iya, maafin aku Mar udah bikin kamu nggak nyaman sama sikapku.. Aku cuma takut kehilangan kamu. Iya aku percaya sama kamu, sekarang masuk yuk. Kita makan baso dulu sebelum pulang."
"Oke, aku juga laper banget nih."
***
Di sekolah
Hari Senin sudah tiba..
Untuk pertama kalinya Maria memakai baju putih abu-abu itu.. Terlihat sangat manis, apalagi memakai rok panjang rempel abu-abu di tambah jilbab putih yang sekarang dia pakai. Menambah kesan manis dan anggun.
Seperti biasa Indra mengantarnya sampai gerbang sekolah.
"Kak Ivan?? Ada apa? Ngapain tarik-tarik tangan aku.?" Ucapnya.
"Nanti istirahat bisa nggak kamu ke perpustakaan ada yang mau aku omongin."
"Tentang apa?"
__ADS_1
"Tentang kita."
"Hah?? Maksudnya?" Tanya Maria bingung.
Tiba-tiba Daffa datang dan menghampiri Maria lalu menarik tangannya untuk ikut bersamanya. Ivan yang berdiri seorang diri hanya menatapnya yang berlalu semakin menjauh.
Di sepanjang perjalanan ke kelas dia tidak henti-hentinya mengomel.
"Mar, kamu ngapain sih Ama dia? Bisa-bisa nanti aku di marahin Ama si Indra.!" Ucap Daffa kesal.
"Aku nggak tau, tiba-tiba aja tadi dia narik tangan aku dan membawaku ke taman."
"Ya udahlah, yang penting kamu aman dari dia.."
Mereka pun mulai belajar untuk pertama kalinya di sekolah itu.
Bel istirahat pun berbunyi.. Ivan tergesa-gesa pergi ke Kelas 10A untuk menemui Maria. Tapi di sana ada Daffa yang menghalanginya untuk membawa Maria pergi ke perpustakaan.
Dengan rasa kecewa Ivan pergi meninggalkan mereka.. Dia akan berusaha meminta nomor telepon Maria kepada teman sekelasnya, agar bisa dengan mudah menghubunginya. Biarlah sekarang dia gagal untuk kedua kalinya berbicara dengannya.
__ADS_1
Dia bertekad akan terus mengejarnya walau ia tau bahwa Maria sudah memiliki pacar. Tapi selama janur kuning belum melengkung dia masih ada kesempatan untuk mengejar cintanya.
...****************...