INSECURE, Cinta Masa Lalu

INSECURE, Cinta Masa Lalu
Mencoba mendekati


__ADS_3

Sudah satu Minggu aku tidak masuk sekolah, kehilangan Indra benar-benar membuatku tidak bersemangat. Mamah selalu menghiburku tapi aku tetap tidak ada semangat lagi. Daffa juga selalu datang ke rumahku untuk sekedar mengajakku bercanda tapi tidak mempan.


Hari ini hari Minggu. Aku sendiri di kamar mengingat semua memori kenangan indah bersama Indra. Aku tersenyum mengingat bagaimana lembutnya sikap Indra. Akan kah suatu saat nanti aku mendapatkan kekasih seperti Indra? Yang tidak pernah kasar dan selalu memperlakukan aku dengan baik? Aku takut karena wajahku yang pas-pasan ini mendapatkan pria yang buruk sikap dan sifatnya. Jauhkan aku dari pria seperti itu ya Allah.


Tok, tok, tok..


Tok, tok, tok..


"Siapa sih pagi-pagi udah bertamu. Mamah lagi ke pasar juga."


Aku membuka pintu dan melihat Kak Ivan ada di depan rumahku.


"Kak Ivan? Ko bisa tau rumah aku?"


"Iya, aku tau dari Daffa. Kamu kenapa nggak masuk terus? Aku sampai bolak-balik ke kelas kamu."


"Duduk dulu Kak, aku masuk ya ambil minum dulu."

__ADS_1


Saat aku hendak ke dalam, tanganku di tarik oleh Kak Ivan Sampai aku berbalik menghadap tubuh Kak Ivan. Aku mendongakkan kepalaku melihat wajah Kak Ivan yang penuh harap. Lalu Kak Ivan berkata, "Aku mau kamu tetap punya semangat walaupun orang yang kamu sayang sudah tiada".


Aku melepaskan tangan Kak Ivan yang masih melingkar di pinggangku. Aku tidak menjawab perkataan Kak Ivan dan langsung masuk untuk mengambil minum.


"Aku ambil minum dulu Kak sebentar". Kak Ivan duduk di kursi teras setelah aku masuk ke dalam. Kemudian setelah ambil minum, aku duduk di samping Kak Ivan.


Kak Ivan melihatku dengan tatapan iba."Kamu makin kurus aja, nggak makan?"


"Nggak selera makan Kak."


Aku bergeming..


Menundukkan kepala ku.


"Semangat ya. Jangan putus asa. Banyak yang sayang sama kamu. Main yuk."


"Tapi.. Aku nggak mau keluar Kak."

__ADS_1


"Aku bawa kamu ke tempat yang indah. Biar nggak terus-terusan melamun. Gimana?"


"Tunggu mamah dulu ya Kak, lagi ke pasar soalnya."


Selang berapa lama, mamah pulang. Mamah melihat Kak Ivan dan tersenyum. Lalu aku mengatakan kepada mamah bahwa Kak Ivan mau mengajakku main. Mamah pun mengizinkannya.


Aku berganti pakaian dulu memakai kaos pendek putih, celana jeans navy, dan jaket dengan warna senada. Aku pun berangkat dengan Kak Ivan naik motor.


Selintas terbayang bahwa Kak Ivan itu adalah Indra. Mengingat setiap hari aku berboncengan dengan Indra.


Saat motor melaju, aku memeluk Kak Ivan dari belakang. Aku tumpahkan air mataku sampai aku merasa tenang. Kak Ivan seperti menyadari bahwa aku sedang menangis. Lalu Kak Ivan memarkirkan motornya di pinggir jalan.


"Kamu sedih Mar? Apa mau turun dulu?"


Aku menggelengkan kepala, lalu motor pun melaju lagi dengan kecepatan sedang. Kak Ivan membawaku pergi ke pantai. Butuh waktu 3 jam untuk sampai ke Pantai indah itu. Aku turun di sebuah kedai makan. Sebelum ke pantai aku makan dulu dengan Kak Ivan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2