INSECURE, Cinta Masa Lalu

INSECURE, Cinta Masa Lalu
Akhir cerita cinta


__ADS_3

Setelah shalat dzuhur aku duduk termenung di tempat tidurku. Entah apa yang terjadi mengapa perasaan ku tidak enak dan aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi. Aku meraih ponselku dan mengirim pesan kepada Kak Ivan, tapi setelah beberapa menit tidak ada balasan darinya. Tumben banget kak Ivan mengabaikan pesanku, ada apa ya? Pasti ada sesuatu, perasaanku semakin tidak enak.


Saat aku mondar mandir depan meja belajar memikirkan perasaanku yang semakin tidak karuan, tiba-tiba kepalaku terasa pening sekali. Pandanganku kabur dan aku tidak kuat menahan sakit di kepalaku, seperti di pukul palu berkali-kali, sakit sekali. Tanganku menahan ke meja yang ada di depanku, aku bingung saat ingin meminta tolong mamah tapi suaraku tidak keluar, akhirnya aku melemparkan tempat pensil kaleng yang ada di meja belajarku.


"Trangg.." Suara tempat pensil yang aku lemparkan ke tembok berbunyi nyaring.


"Gubrakk.." Tubuhku ambruk, aku tidak kuat lagi dan semuanya menjadi gelap..!!


POV Daffa


Hari ini aku akan menjenguk Maria, sudah lama aku tidak main ke rumah Maria. Mungkin dia butuh teman curhat untuk sedikit mengurangi rasa bosannya.


"Assalamualaikum.. Mar.." Aku mengetuk pintu rumahnya tapi tidak ada jawaban.


"Assalamualaikum.." Ku coba ketuk sekali lagi tetap tidak ada jawaban..


Tiba-tiba suara mamah Maria ada di belakangku.


"Nak Daffa? Sudah lama ga main kesini?"


Ucap mamah Maria sambil menenteng belanjaan, sepertinya dari warung.


"Eh mamah, assalamualaikum mah." Aku tersenyum dan mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam nak."


"Saya mau jenguk Maria mah, tapi dari tadi ga di buka-buka pintunya." Ucapku.


"Eh padahal Maria ada di dalem kok, coba mamah liat ke kamarnya."


Aku pun mengikuti mamah dari belakang menuju kamar Maria.


Dan betapa terkejutnya kami berdua saat pintu kamar Maria di buka, dia sudah tergeletak di lantai dan barang-barangnya berserakan di lantai. Mamah dan aku panik, mamah segera menghubungi ambulans sedangkan aku reflek menghubungi Ivan agar segera kesini.


Tak lama ambulans datang dan aku menggendong tubuh Maria.


Sesampainya di rumah sakit, Maria langsung masuk UGD. Darah segar mengalir dari hidungnya, aku dan mamah semakin panik saat kami menyentuh kaki dan tangan Maria yang sangat dingin seperti es. Mamah terus menangis tanpa henti, aku pun bingung harus berbuat apa.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Ivan, Zain dan Kia datang menghampiri kami.


"Kenapa Daf, apa yang terjadi dengan Maria?" Ivan sangat panik dan tidak bisa untuk di tenangkan.


"Aku juga belum tahu Van, dokter belum jelasin apa-apa." Jawabku.


Tidak lama kemudian dokter pun datang dan memberitahu kami apa yang terjadi dengan Maria.


"Gimana dok anak saya?" Tanya mamah Maria.


"Mari ikut saya ke ruangan, ada yang harus saya katakan pada ibu." Hanya kata itu yang di ucapkan dokter.


Mamah mengikuti dokter itu sedangkan kami tidak di perbolehkan untuk tahu apa yang terjadi. Kami semuanya tetap menunggu di depan ruang UGD.


Beberapa saat kemudian mamah datang dengan berlinang air mata, aku sangat khawatir sekali apa yang sebenarnya terjadi dengan Maria. Ivan menghampiri mamah dan bertanya keadaan Maria.


"Apa yang terjadi dengan Maria mah?" Tanya Ivan.


Aku, Zain dan Kia tidak sabar mendengarkan apa yang akan di sampaikan oleh mamah.


"Nak Ivan, apa kamu benar mencintai Maria?" Tanya mamah tiba-tiba.


"Kamu harus ikhlas, harus kuat ya. Mamah, mamah juga tidak sanggup tapi ini sudah takdir dari Allah dan kita tidak bisa merubahnya." Ucapan mamah membuat kami semua penasaran.


"Maria kenapa mah?" Tanya Ivan yang semakin panik mendengar ucapan mamah.


"Kamu siap dengar ini?"


"Siap mah."


"Dokter bilang kalo Maria.... Maria tidak bisa di selamatkan.." Tangis mamah pecah.


"Apa??" Ucap kami serentak.


Bak di sambar petir di siang bolong, kami semua terkejut bukan main. Aku, Zain, dan Kia ternganga mendengar ucapan mamah. Sedangkan Ivan langsung terkulai lemas di lantai, tatapannya kosong.


"Ga mungkin, ini semua pasti bohong!! Maria pasti masih hidup, ga mungkin dia tinggalin aku." Ivan langsung menuju kamar rawat Maria.

__ADS_1


Di sana Maria sudah terbujur kaku, wajahnya pucat pasi dan tubuhnya sangat dingin sekali. Aku dan semua yang ada di sini tidak kuat menahan air mata yang mengalir deras. Kami semua merasa sangat kehilangan Maria, apalagi mamah dan Ivan seperti kehilangan separuh jiwa mereka.


Ivan dengan rasa yang begitu kuat untuk Maria, cintanya sangat tulus tapi takdir tidak berpihak kepada mereka. Terlintas teringat memori akan Indra yang dulu meninggalkan Maria, dan sekarang saat Maria sudah bangkit dia meninggalkan Ivan yang sangat mencintainya dengan tulus juga.


Kenapa takdir begitu kejam? Kenapa orang yang saling mencintai sangat sulit untuk bersatu? Sesak sekali dada ini, meskipun Maria bukan milikku tapi ada cinta di hati ini untuknya. Dia yang selalu ada di hatiku meski kami tidak pernah ada ikatan, tapi persahabatan dan rasa ini sudah membuatku senang.


Ivan sangat terpukul tapi apapun yang terjadi hidup harus tetap berjalan. Meskipun ini sulit bagi Ivan, tapi aku yakin Ivan bisa berpikir jernih dan bangkit lagi. Aku dan Zain mencoba menghibur Ivan, kami berdua mencoba untuk mengurangi kesedihannya. Walaupun aku tau ini tidak akan berhasil tapi aku dan Zain tetap berusaha menghiburnya agar Ivan tidak semakin terpuruk.


Sore harinya kami mengantarkan jenazah Maria ke tempat peristirahatan terakhirnya. Kesedihan dan duka mendalam mengiringi kepergian Maria. Bahkan mamah sampai pingsan saat jenazah Maria di masukkan ke liang lahat. Begitu pun dengan Ivan yang tiada hentinya menitikkan air mata yang aku tau dia sekuat tenaga untuk tetap tegar menghadapi kenyataan pahit ini.


Selamat jalan Maria.. Entah apa yang harus aku katakan lagi, kehilanganmu sangat menyakiti ku. Aku yang bukan siapa-siapa bagimu, aku yang hanya kamu anggap sebagai teman biasa, dan aku yang hanya sebatas momen denganmu tidak bisa melupakan semua tentangmu..


Terima kasih atas segalanya Maria, kamu adalah sahabat terbaik ku..


POV Daffa End


...****************...


Assalamualaikum teman-teman..


Mohon maaf akhir-akhir ini aku sibuk dan tidak sempat untuk up rutin. Sebenarnya sudah di rencanakan akan 110 episode dan akan di percepatan dari kemarin. Tapi karena ada halangan dan tidak bisa mempercepat endingnya jadi baru terlaksana sekarang.


Dan aku minta maaf apabila ending nya tidak sesuai ekspektasi karena dari awal sudah di planning menjadi sad ending. Semoga teman-teman bisa mengambil hikmah dari cerita ini, dan semoga teman-teman suka dengan ceritanya.


Cerita ini sebenarnya gabungan antara fiksi dan cerita nyata author. Ada beberapa part yang memang terjadi di kehidupan nyata author. Jika ada kritik dan saran, silahkan komen ya teman-teman biar nanti aku revisi lagi.


Terima kasih untuk reader yang sudah mendukung aku untuk terus up, terima kasih juga untuk reader yang sudah memberikan like, vote, atau komentar di cerita ini.


Semoga rezeki kalian di lancarkan oleh Allah dan di berikan kesehatan.. Aamiin..


Berkah selalu untuk reader yang sudah mendukung author..


Sekali lagi, terima kasih untuk semua dukungan kalian. Tunggu karya aku selanjutnya ya..


Salam author retjeh..


Wassalamu'alaikum..

__ADS_1


...****************...


__ADS_2