INSECURE, Cinta Masa Lalu

INSECURE, Cinta Masa Lalu
Mimpi bertemu Indra


__ADS_3

Setelah bertemu Kak Tiara di depan tadi, aku langsung pergi ke kamarku. Aku bingung harus menjawab bagaimana ucapan Kak Tiara tadi. Dulu, aku yang sangat iri padanya, karena Kak Tiara memiliki kecantikan yang luar biasa. Aku minder jika berjalan di sampingnya.


Tapi kini, dia yang merasa iri padaku? Iri kepada gadis jelek ini? Apalagi kalau Kak Tiara tau aku pernah punya pacar seperti Indra, pasti tambah iri deh kayaknya. Indra yang tidak pernah berani menyentuhku, berbeda dengan Kak Ivan yang selalu nyosor.


Benar kata Indra, bahwa kecantikan fisik bukanlah segalanya. Sekarang aku bisa merasa lebih percaya diri itu karena Indra. Dia yang selalu mensupport agar aku tidak selalu rendah diri. Tapi sayang, takdir tidak berpihak kepada kita berdua. Dan aku harus kehilangannya.


Dan sekarang Kak Ivan juga tidak memandang fisik. Dia menyayangi dan mencintaiku apa adanya. Aku sudah menolaknya berkali-kali tapi Kak Ivan tidak menyerah. Sebenarnya, ada apa dalam diriku ini? Apa ada magic yang bisa membuat para pria tampan mencintaiku?


Entahlah, semua orang yang tidak mengenalku berpikir kalau aku memakai pelet untuk menggaet pria tampan. Apalagi wanita-wanita cantik yang mengharapkan Kak Ivan, mereka selalu saja mencemooh aku. Persis seperti ketika aku berpacaran dengan Indra.


Aku membuka amplop tebal berwarna coklat yang Kak Ivan berikan kepadaku. Dan betapa terkejutnya aku ketika menghitung uang yang Kak Ivan berikan, 30 juta? Untuk satu bulan yang aku sama sekali belum punya tanggungan. Apa-apaan Kak Ivan ini!!


Menurutku uang segitu banyak sekali untuk aku yang jajannya hanya beli cilok, batagor, seblak, baso, paling mahal ya beli martabak manis rasa coklat keju. Aku tidak pernah membeli make up atau baju mahal-mahal. Ya walaupun aku berasal dari keluarga yang lumayan berada, tapi mamah dan papah tidak pernah memanjakan aku.


Aku hidup layaknya manusia normal pada umumnya. Bahkan aku pernah membeli baju harga 20 ribuan di pasar malam. Aku tidak malu, dan aku senang bisa seperti itu.


Aku tidak mau seperti ini, karena walau bagaimana pun Kak Ivan belum menjadi suamiku. Aku tidak enak jika harus meminta uang kepadanya. Aku akan menyimpan uang ini.


Aku akan memakainya kalau aku membutuhkan uang untuk keadaan darurat saja.


Aku jadi kepikiran, 30 juta di berikan padaku untuk jajan? Apa Kak Ivan orang kaya ya? Aku langsung mengambil ponselku dan menelepon Kak Ivan.


Tringgggg...... Tringggggg.....


"Halo Assalamualaikum sayang,"


"Waalaikumsalam Kak. Udah sampai kostan belum?"


"Udah, Kenapa sayang?"


"Kak, apa ini nggak berlebihan? Aku rasa ini terlalu banyak uang yang Kakak kasih?"


"Nggak apa-apa sayang, aku ingin semua yang terbaik buat kamu."


"Tapi Kak, Kakak juga kan lagi kuliah dan butuh biaya yang besar juga kan? Aku nggak mau kayak gini Kak."

__ADS_1


"Kuliahku sudah di tanggung oleh beasiswa khusus anak berprestasi, jadi kamu tidak usah khawatir ya."


"Terus buat bayar kostan sama makan Kakak gimana?"


"Udah ada sayanggg...... Pokoknya kamu nggak usah khawatir, itu uang halal. Hasil kerja kerasku selama kerja part time di Kanada."


"Oh ya udah, makasih banyak ya Kak. I love you."


"I love you more sayang.."


Aku mematikan ponsel dan merebahkan tubuhku di kasur, lelah sekali hari ini. Tanpa terasa, mataku sudah terpejam dan pikiranku sudah masuk ke alam mimpi..


***


"Sayang, bangun cantik."


Suara lembut itu? Seperti suara Indra. Aku mencari asal muasal suara itu.


Samar-samar aku melihat sesosok pria tampan bercahaya. Wajahnya putih bersih dan dia tersenyum manis padaku. Semakin lama sosoknya semakin jelas. Dia menyentuh pipiku dengan lembut.


Aku langsung memeluknya sambil menangis. Indra memelukku juga dan mengusap rambutku dengan lembut.


"Sayang.."


Aku masih menangis dalam pelukannya. Perasaan rindu ini sudah tidak bisa aku tahan lagi.


"Sayangku.. Jangan menangis." Ucap Indra lembut.


Lalu dia berbisik di telingaku, "Kamu adalah cinta pertama dan terakhirku Maria."


Tangisanku semakin pecah mendengar Indra mengucapkan itu. Kemudian dia melepaskan pelukannya dan mengusap air mataku.


"Jangan nangis lagi ya sayang. Kamu lebih cantik kalau tersenyum."


"Kenapa? Kenapa waktu itu kamu selamatkan aku? Harusnya aku yang meninggal. Aku nggak sanggup kehilangan kamu Indra."

__ADS_1


"Aku lebih tidak sanggup lagi kalau ternyata kamu yang pergi. Aku yakin kamu kuat."


"Tapi... "


Indra mencium bibirku dengan lembut. Ciuman pertama dengan Indra yang ku harapkan terwujud di alam nyata, tenyata hanya bisa terwujud di alam mimpi. Walaupun begitu aku sangat bahagia.


Aku memejamkan mataku, lama sekali kami berciuman. Dan aku merasa sangat berbeda dengan ciuman yang Kak Ivan berikan. Indra mencium ku dengan penuh kelembutan, ciuman kasih sayang yang teramat besar untukku.


Indra melepaskan ciumannya lalu berkata,


"Aku yakin Ivan bisa membahagiakanmu. Cintanya sama besar seperti cintaku sama kamu. Bahkan mungkin lebih dari cinta yang aku berikan untuk kamu, karena aku sudah tidak ada di dunia ini lagi." Ucap Indra lirih


"Kamu selalu di hatiku Indra, kamu tidak akan tergantikan oleh siapapun."


"Terima kasih sayang. Tapi kamu harus semangat untuk memulai hidup baru dengan pria lain. Aku ikhlas menyelamatkan kamu waktu itu, karena aku ingin kamu bahagia. Aku sayang kamu selamanya. Ikhlaskan aku ya sayang.. Aku akan selalu ada untukmu walaupun dunia kita berbeda. I love you forever..."


Bayangan Indra semakin memudar, aku panik. Aku tidak mau terbangun dari mimpi indah ku ini. Aku masih rindu kepadanya. Tapi bayangan Indra sudah tidak ada, aku berteriak memanggil nama Indra tapi Indra tidak kembali.


Ingin rasanya aku memelukmu tuk terakhir kali sebelum engkau pergi, namun ku takut tak mampu menahan air mataku.


Aku terbangun dari tidurku, dan sayup-sayup terdengar suara adzan Maghrib yang sudah di kumandangkan. Aku bermimpi? Terasa sangat nyata sekali. Apa karena alam bawah sadar ku yang sangat merindukan Indra.


Indra, aku akan mencoba untuk mencintai Kak Ivan sepenuh hatiku. Walaupun kamu masih tetap di hatiku selamanya.


Karena, semakin aku mencintaimu semakin aku harus melepasmu dari hidupku. Kita tidak di takdir kan untuk bersama, dunia kita berbeda.


Kamu pria baik dan sangat menghargai wanita. Kamu pria penyayang dan lembut.


Aku menangis terisak di kamarku. Dan aku segera ke kamar mandi untuk berwudhu dan menjalankan shalat Maghrib supaya hatiku tenang dan memohon ampun kepada Allah SWT.


Karena selama ini aku belum ikhlas melepas Indra. Dua tahun lamanya aku merasa sedih tak berkesudahan. Sekarang waktunya aku bangkit, karena ada Kak Ivan di sampingku.


Dan aku yakin dia tidak akan menyakiti atau meninggalkan aku. Semoga saja Allah mengabulkan doa ku agar berjodoh dengan Kak Ivan. Semoga saja ya Allah.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2