Istriku Lely

Istriku Lely
Menjelang lahiran


__ADS_3

Hari-hari menjelang lely melahirkan, ipul menjadi suami yang kebih siaga. Siaga mrnjaga bumil, menjaga Putrinya Adiva, dan siaga menanti si kembar lahir.


Ipul dan lely tidak melihat jenis kelamin bayinya saat usg. biar surprise saja. kata mereka.


"Ayo. Kita jalan pagi!". ajak ipul pada istri dan putrinya.


Semenjak lely mulai cuti, ipul selalu menjadi suami siaga. Setiap pagi mengajak jalan pagi sambil membeli sarapan.


Agar bisa santai untuk jalan pagi, lely minta pada suaminya agar mereka jalan pagi kurang pukul enam.


Agar jalan agak jauh sedikit, sampai ke pasar pagi. bisa beli sarapan yang berbeda setiap pagi dan belanja keperluan dapur.


Pasar hanya berjarak lima belas menit jalan kaki santai. Hingga mereka sampai ketoko kurang sedikit pukul tujuh.


Dengan bawaan belanjaan dapur dan cemilan. Kadang mereka malah sarapan di tempat penjual.


Karena jalan pagi di keramaian, ipul membawa sepeda dorong roda tiga adiva. Tujuannya agar adiva tidak capek berjalan, dan lebih aman untuk di dorong dengan sepeda dari pada di bimbing.


Kalau di seoeda Adiva hanya diam dalam sepedanya. Dan jika di bimbing, adiva bisa saja berlarian saat melihat apa yang diinginkan nya. bisa bahaya, karena mereka berjalan di pinggir jalan yang banyak kendaraan lalu lalang.


kadang mereka pulang memakai jasa andong untuk sekedar pulang ketoko. Takut istrinya kecapek an.


"Ada yang akan di beli lagi sayang?" tanya ipul pada istrinya.


"Tidak bang". jawab lely sambil mendorong sepeda putrinya.


Sementara ipul menjinjing kantong belanjaan di tangan kanannya. sedangkan tangan kirinya memegang pegelangan tangan kanan istrinya yang sedang mendorong sepeda putri mereka.


"Adiva masih ada yang mau di beli?!". tanya ipul.


"Tidak yah!". jawab adiva.


Karena tadi dia sudah disuapi bubur ayam olh ipul, juga sudah membeli buah dan cemilan yang di taro di keranjang sepedanya.


"Ok. apa kita pulang naik andong sayang?!". tanya ipul.


"Iya...". jawab Adiva bersemangat.


Maka mereka pulang menaiki andong yang disukai adiva, adiva selalu memilih andong yang kudanya warna putih.


Sepulang dari jalan pagi ipul membuka toko. sementara Lely istirahat di kursi panjang di teras toko bersama Adiva, sampai ipul selesai membuka toko dan karyawan toko datang.


Ipul tidak membiarkan istrinya menaiki tangga sendiri. dia selalu menenani dan memegang tangan istrinya itu saat naik turun tangga.

__ADS_1


"Ayo sayang". ajak ipul.


Setelah selesai membuka toko dan karyawan toko datang.


Ipul memegang tangan istrinya untuk berdiri dari duduknya. Perut lely sudah sangat besar. hpl lely sudah dalam hitungan hari.


"Adiva jalan di depan ya sayang!". ucap ipul menyuruh putrinya terlebih dahulu menaiki tangga.


"Iya ayah!". ucap adiva mendahului berjalan menuju tangga.


Ipul membantu lely menaiki tangga dengan pelan.


"Apa sudah mulai sakit sayang?!". tanya ipul melihat istrinya sedikit meringis.


Ipul menyuruh berhenti sebentar untuk beristirahat saat menaiki tangga.


"Ada rasa ngilu-ngilu sedap bang. tapi hanya saat berjalan". ucap lely meringis.


"Apa sudah waktunya melahirkan sayang?!". tanya ipul memijit pinggang dan punggung istrinya.


"Hpl nya masih tiga hari lagi bang sshh...". ucap lely memagang pinggangnya.


"Mana tahu maju waktunya dari hpl. kita kerumah sakit ya!". ajak ipul.


"Tunggu sampai sore bang, atau sampai siang. Kalau ada tanda akan melahirkan baru kita ke rumah sakit.


Ipul memapah istrinya menaiki tangga hingga sampai keatas.


Lely di biarkan duduk selonjoran bersandar di atas kasur santai. Lalu ipul mengambilkan air putih hangat untuk istrinya. juga membawa untuk putrinya yang sedang duduk di samping lely.


"Minum dulu sayang!". ucap ipul.


Lely meminum habis air yang di berikan ipul dan memberikan gelas kosong pada suaminya itu.


Lalu ipul memijit kaki istrinya. Mulai dari ujung jari, betis lutut dan paha ipul.


"Pasti kakinya kecapek an, menahan tiga orang sekaligus!". ucap ipul memijit betis lely.


"Kaki bunda sakit?!". tanya Adiva. melihat ayahnya memijit kaki bundanya.


Dia ikut memijit kaki lely yang sebelahnya.


"Kaki bunda kecapek an sayang". ucap ipul terus memijit kaki istrinya.

__ADS_1


Adiva pun ikut memijit kaki bundanya.


Tidak lama setelah di pijit, dan perut lely sudah tidak ngilu lagi. dan sudah mulai rileks.


"Sudah bang. sudah tidak ngilu lagi, aku mau kekamar kecil". ucap lely.


"Abang bantu!". ucap ipul. "Adiva nonton televisi sebentar ya. ayah mau bantu bunda sebentar!". ucap ipul.


"Iya ayah!". ucap adiva menuju tempat duduk di arah dinding. untuk menonton.


Ipul membantu istrinya ke kamar mandi, ipul tidak ingin istrinya kenapa-napa.


"Abang keluar saja". ucap lely menyuruh suaminya keluar.


"Tidak. abang mau bantu. Kamu mau buang air kecil atau buang air besar?". tanya ipul membantu mengangkat rok gamis lely.


"Buang air kecil bang!". ucap lely.


"Dilantai saja, jangan di kloset. ingat kata dokter dulu. Takutnya kamu sudah ada tanda untuk melahirkan". ucap ipul.


"Baik bang". jawab lely.


"Abang bantu buka dalaman sekalian ya!". ucap ipul menurunkan rok dalaman dan cd lely.


"Iya bang. ini susah untuk jongkok". ucap lely.


"Berdiri saja pi* nya. pegang bahu abang". ucap ipul.


Lely pun buang air kecil agak menekuk lututnya. tapi tidak jongkok. karena perutnya terasa kram lagi.


Selesai buang air kecil. ipul membantu membersihkan paha dan cebok, dengan menyiramkan air dengan gayung.


Lalu melap paha dan kaki istrinya yang basah dengan handuk. Dan mendudukan istrinya di kloset tertutup sebentar.


Ipul melihat dalaman lely. apa ada tanda akan melahirkan.


"Bagaimana bang?!". tanya lely.


"Belum!". jawab ipul, memasukan kekeranjang kain kotor.


"Ayok. istirahat saja, jangan banyak fikiran". ucap ipul membimbing istrinya kekamar.


Dan ipul mengambil ganti baju dan dalaman istrinya. lalu membantu mengantinya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2