Istriku Lely

Istriku Lely
Ipul


__ADS_3

Setiap pukul sembilan toko ditutup. Ada tidak ada pelangan yang datang, toko tetap tutup pukul sembilan.


Tapi biasanya toko tempat fotocopy ipul ramai dari magrib sampai pukul sembilan.


Sebab banyak pelangan mengerjakan tugas di tempat ipul. selain karyawan ipul ramah, tempat mengerjakan tugasnya sangat nyaman.


Beberapa bulan yang lalu, tempat komputer yang dipakai pelangan membuat tugas. beberapa dibuat lesehan dan pengguna bersandar didinding.


Sebagian lagi menggunakan kursi empuk seperti di kantor. Dan saling berhadapan dengan yang lesehan tanpa batas.


hingga bisa saling diskusi. Hingga pelangan betah mengerjakan tugas di tempat ipul.


"Sudah selesai semua bang?". tanya lely saat ipul sampai diruang atas ruko, tempat mereka tinggal.


Lely sedang membuat tugas kuliahnya dan Adiva sedang rebahan di kasur santai depan televisi yang di gantung di dinding.


Ruangan atas hanya lepas, hanya ada satu rak buku belajar lely, meja tempat susu formula Adiva dan televisi didinding.


Sementara menyimpan makanan berada di dapur di lantai tiga.


"Sudah. semua baru pulang". jawab ipul meletakan uang hasil toko hari ini di laci meja kamar mereka. tempat khusus uang penghasilan toko.


Lalu ikut duduk di kasur santai dekat istri dan putrinya.


"Anak ayah kok belum tidur?. sudah lewat pukul sembilan ini". ucap ipul mengacak rambut putrinya.


"Menunggu ayah. Kalau ayah sudah datang kan bunda ada temannya". jawabnya bijak.


"Uh.. anak pintar. ayo ayah antar kekamar mandi dulu, lalu tidur!". ucap ipul membimbing putrinya yang berusia lebih dua tahun.


Ipul nembantu adiva mengosok gigi, memcuci kaki dan buang air kecil. dikamar mandi dekat tangga kelantai tiga.


"Sekarang tidur ya!". ucap ipul.


Adiva tidak mau lagi tidur dalam box bayi. dia tidur dikasur singel yang memakai seprai bunga dan digelar di lantai.


"Selamat tidur sayang". ucap ipul mengecup pipi dan kening putrinya. dan keluar kamar tanpa mematikan lampu dan tidak menutup rapat pintu kamar.

__ADS_1


Adiva sudah biasa tidur sendiri. dan tidak rewel untuk ikut tidur dengan ayah bundanya.


Lely yang tadi membuat tugasnya sedang menyusun bukunya ke rak. karena sudah selesai. lalu lely masuk kekamar putrinya untuk sekedar mencium atau mengucapkan selamat tidur. lalu menutup rapat pintu kamar putrinya.


"Abang belum tidur?". tanya lely melihat suaminya rebahan di depan televisi.


"Iya. menunggu kamu". jawab ipul.


Lely mematikan lampu utama ruangan, meningalkan lampu dekat tangga saja. Lalu Lely ikut rebahan di samping suaminya.


Ipul memberikan lengannya untuk bantal lely. mereka menonton berita sebentar. untuk menunggu mata mengantuk.


Entah siapa yang memulai, mereka sudah saling mengecup dan saling raba. mengeluarkan suara decapan bibir beserta erangan mesra. Ipul pun juga sudah berada di atas tubuh istrinya.


"Abang.....". erang lely saat mulut ipul bermain di puncak dada lely.


"Hhmmm... pindah kekamar yuk!". ajak ipul. lalu membopong tubuh lely yang sudah tanpa atasan.


Mereka melanjutkan olahraga malam mereka di kamar. berguling menikmati setiap jengkal tubuh pasangan halal.


"Sayang...". erang ipul saat lely menservis junior ipul.


Dan...


"Ah.....". erang ipul.


Lely menduduki kaki ipul. dan..


"Balonnya belum dipasang sayangh ". ucap ipul saat lely akan menaiki ipul.


"Oh....". lalu lely mengambil dari bawah kasur dekat pinggang ipul.


Lely yang selalu membantu memasangkan pada junior ipul yang siap perang. kadang beberapa kali ganti, karena sering bersambung di tengah malam atau menjelang subuh.


Beberapa kali erangan dan decapan terdengar.


"abang...."

__ADS_1


"Sayangh..... Lely.... lely sayang". erang ipul setiap istrinya bergerak ganas.


hingga.... Erangan panjang menandakan mereka sama-sama telah berada di satu titik bahagia.


Kedua pasangan halal itu saling beepelukan masih memburu nafasnya.


Ipul membalik tubuhya hingga mengungkung istrinya. tanpa melepas tautan.


"Sayang.. apa kamu tidak capek melayani abang hampir setiap malam berkeringat?!". tanya ipul memeluk tubuh istrinya.


Mereka sama-sama polos berada di bawah selimut.


"Tidak bang. Malah aku senang bisa membuat abang berkali-kali memanggil mesra namaku". ucap lely memainkan jarinya di dagu dan bibir ipul.


"Aku sangat senang memangil namamu di setiap nafasku lely sayang!". ucap ipul menikmati sisa- sisa pelepasan barusan. membuat terus bergerak nakal didalam sarang halalnya.


"Abang...". ucap lely saat merasa sesuatu mengelitik geli dalam tubuh sensitifnya.


"Terima kasih sayang. ah....!". ucap ipul menekan pinggulnya.


Ipul selalu mengucapkan terimakasih pada istrinya setiap selasai pelepasan atau saat meleoaskan tautan yang tertanam.


"Ah.....". erang lely.


Hingga jepitan lely mengendur. dan baru ipul melepas penyatuannya.


Dengan sigap lely membantu membuka balon mainan dari tubuh ipul. Karena lely yang selalu memasang dan membuka balon nainan itu.


"Aku ingin sesekali tidak pakai balon bang!". ucap lely saat selesai memasukan balon mainan ke kantong yang berada di dekat lemari. Besok pagi di buang.


"Apa kamu siap Adiva punya Adik?!". tanya ipul memeluk istrinya.


"Inshaallah siap. kan aku saat ini belum sesibuk akhir kuliah". jawab lely.


"Baik... abang akan giat berusaha. kalau bisa setiap ada kesempatan abang menyebar benih". ucap ipul.


"Itu maunya abang. Tapi kita tinggal di ruko bang. tidak seperti di rumah waktu itu. kapan saja dan dimana saja bisa beraksi.

__ADS_1


Sekarang harus hati-hati. apalagi adiva sangat cerewet. kalau dia melihat pasti banyak tanya. kan malu". ucap lely.


"Iya. dikamar saja saat adiva tidur. akan abang lakukan". ucap ipul mencium kening istrinya.


__ADS_2