
"Terimakasih sayang". ucap ipul memeluk tubuh istrinya dengan nafas masih memburu.
Lely memejamkan matanya. karena kelelahan. Mereka tidur dengan nyenyak di kasur singel yang sudah di letakan di lantai.
Entah pukul berapa lely terbangun, lely merasa ingin buang air kecil. mereka tidur berpelukan drngan tubuh masi polos dibawah selimut tebal.
lely memandang ipul dalam keremangan lampu kamar. terlihat wajah damai ipul tertidur. Membuat lely tidak tega membangunkan ipul.
Tapi lely tidak tahan untuk buang air kecil.
"Abang....". bisik lely.
"Abang...". pangil lely agak keras.
Ipul malah mengeratkan pelukannya pada lely sambil mengosok punggung lely, dan dia tidak terbangun.
"Abang...". pangil lely lagi, sambil meraba dada ipul.
"Hhmmm.....". jawab ipul.
"Aku mau kebelakang". ucap lely. "Temanin bang". Ajak lely.
Ipul membuka matanya. Dan melihat sekitar. ipul melihat jam dinding, yang berada dibawah lampu kecil di sudut ruangan kamar ipul. Pukul dua lewat lima menit.
Lalu dia duduk. lalu dia mengambil sarung untuk lely, ipul memakaikan kelely dengan mengikat sarung di dada lely. lalu memasangkan baju kaus dan jelbab instan.
"Ayo". Ajak ipul membimbing lely keluar kamar.
Ruangan diluar kamar remang- remang, hanya lampu teras depan dan lampu dapur saja yang hidup.
Lely masuk kekamar mandi yang berada di samping dapur. sementara ipul menuju dapur. Dia memanaskan air di dandang.
Tidak berapa lama lely keluar dari kamar mandi.
"Kita mandi saja sekalian. kamu duduk dulu dibangku itu, kita menunggu airnya panas". suruh ipul menarik lely ke kursi kayu yang ada di sudut dapur.
Ipul pergi ketempat menjemur, dia mengambil handuk dan memeriksa dallaman lely yang di jemur sore kemaren. apakah sudah kering, ternyata belum. masih lembab.
sepuluh menit menunggu air yang dimasak ipul panas. Dan mereka mandi bersama. tidak lama mereka mandi, karena air hangatnya hanya satu baskom besar untuk berdua.
Selesai mandi malam menjelang subuh subuh. mereka kembali ke kamar, dan melaksanakan sholat malam. karena tadi sudah berwudhu saat selesai mereka mandi.
Ipul dan lely kembali tidur, karena masih pukul tiga subuh. masih ada satu setengah jam lagi measuk waktu subuh.
Mereka masih tidur di kasut singel yang diletakan di lantai. Tidur berpelukan.
__ADS_1
Pagi hari setelah sholat subuh berdua, ipul keluar kamar. dia ingin membantu ibu menyiapkan dagangan sarapan pagi ibu.
Leli mengiring ipul keluar kamar. melihat ipul menuju warung, lely membuka gorden jendela ruang tamu. juga membuka gorden dekat meja makan.
Lely mau menyapu rumah, tapi diurungkan. karena lely tidak tahu. Apakah menyapu rumah pagi-pagi atau setelah semua keluar untuk kegiatan.
Lely menuju dapur, karena mendengar ada yang memasak. lely ingi membantu.
"Kak lely". dapa fauzi.
Ternyata Fauzi sedang memasak gorengan. Ada tahu isi, goreng pisang, bakwan. Juga Dia sedang mengukus sesuatu, lely tidak tahu apa yang ada di dalam dandang.
"Fauzi. kamu yang mengoreng semua?". tanya lely.
"Iya". jawab fauzi menata gorengannya di beberapa kotak besar. tiap kotak satu jenis gorengan.
"Ada yang bisa saya bantu ngak fauzi?". tawar lely.
"Boleh. Kakak bawa kewarung, dan taro di meja besar depan tata saja sesuka kakak, mungkin beberapa kali bawanya". ucap fauzi.
"Ok". ucap lely, dia mengambil satu kotak besar yang diletakan fauzi di atas meja dapur. dan membawanya kewarung.
Sementara itu Ipul masuk kewarung, ternyata dangangan sarapan pagi ipu sudah tertata di etalase makanan.
Ibu bangun menjelang subuh, dan memanaskan semua masakan yang kemaren sudah masak. saat azan subuh ibu sholat dan juga menganti pakaian untuk menjaga warung.
Warung ibu buka jam enam kurang, dan semua dagangan ibu pukul lima sudah masak dan bisa dibeli. Jika tetangga perlu membeli sarapan sebelum warung buka ibu juga melayani.
Karena sering juga tetangga membeli sebelum roling warung belum buka, karena keluarga yang akan berangkat cepat, sebelum warung ibu di buka.
Ipul membuka roling yang sebelah kehalaman. dan membuka kunci pagar. Lalu membuka roling depan warung.
Ibupun sudah selesai mempersiapkan semua dagangannya dan tinggal menunggu pembeli.
Lely yang membawa gorengan buatan fauzi menatanya di meja warung, dan lely beberapa kali membawa nya. karena ada empat jenis gorengan, dan empat pula kotaknya.
"Ipul. tarok ini di meja makan di dalam". ucap ibu.
Ibu memberikan seteko teh manis kepada ipul.
Ipul membawa kedalam, kemeja makan. Lely yang melihat ipul membawa teko, lely kedapur untuk mengambil gelas. Dan membawanya ke meja makan.
"Kak, ini untuk di meja makan ya". ucap Fauzi memberikan sebuah cake kukus yang masih panas kepada lely.
"Hmmm .. wangi sekali cakenya fauzi. cake apa ini?!". lely menerima cake itu dari fauzi.
__ADS_1
"Hanya cake pisang". jawab fauzi.
"Pasti enak". ucap lely berbinar memandang cake yang dia pegang.
Fauzi tersenyum saja melihat kakak iparnya itu. Istri abangnya.
Fauzi pov
Entah mengapa, waktu abang ipul disuruh ibu menikah. Aku sempat protes pada ibu. Kalau pernikahan itu tidak main-main. Aku sangat kasihan pada abang, yang mana abang masih muda, masih berumur dua puluh tiga tahun.
Apalagi abang tidak mengenal calon istrinya itu. dan aku mendengar juga kalau calon istrinya sakit, amnesia.
Tapi, kemaren saat bertemu yang kedua kalinya, aku melihat abang nya sangat menyayangi istrinya,dan istrinya juga. Aku baru dua kali bertemu dengan kakak iparku.
Yang pertama saat pernikahan mereka, dan yang kedua kemaren. Saat mereka baru keluar kamar mandi. Yang aku tahu dia masih amnesia.
Aku sangat malu saat berpapasan dengan dia, aku tahu itu istri abangku. tapi melihat yang dia pakai, membuat fikiranku traveling.
kenapa tidak, baru keluar kamar mandi dengan badan dibungkus sarung, walaupun sudah memakai baju kaos, tapi baju itu kedodoran.
membuat leher dan sebagian dadanya tersingkap. karena rambutnya diikat handuk. jadi lehernya terbuka lebar. Dan aku yakin tanpa dalaman. karena bahunya terbuka.
Aku ingin rasanya marah pada abangku. Yang membiarkan istrinya terbuka auratnya. tidak ingatkah dia kalau dirumah ini saudaranya laki-laki semua. Harus aku ingatkan secepatnya, pikirku.
Dan tadi malam, telingaku ternoda. mendengar kegiatan mereka yang membuat aku menahan nafasnya. Dan ikut sport jantung.
Kenapa tidak, kamar mereka yang bersebelahan dengan kamar ku. kepala tempat tidur di kamarku bersandar di dinding yang sama dengan kepala tempat tidurnya. Jadi didinding yang sama dan ruangan berbeda kepala tempat tidurnya saling bersandar di satu dinding.
Awalnya aku yang sedang rebahan untuk tidur tidak memperdulikan bunyi ketokan didinding di kepala tidurku. tapi lama kelamaan bunyi ketokan itu iramanya semakin cepat dan di iringi bunyi derit dipan yang juga seirama.
Aku langsung terduduk, jantungku berdetak kencang dan tubuh panas dingin.
Meskipun aku jomblo akut, belum pernah pacaran dan masih buta dengan pelajaran yang hanya untuk orang dewasa. Tapi aku pernah belajar biologi dasar tentang cara berkembang biak.
Apalagi loteng kamar ini hanya triplek, sekecil apapun suara kegiatan mereka. terdengar jelas kekamarku.
Hah... hah....
Nafasku ikut sesak....
.
.
.
__ADS_1
.