
Tepat pukul delapan, terdengar pengumuman dari panitia.
Kalau registrasi sudah tutup. karena waktu yang diberikan untuk registrasi satu jam.
Banyaknya peserta yang ikut tes, diimbangi dengan berdirinya lima meja registrasi, agar peserta tidak menumpuk saat registrasi.
Lagian registrasi hanya menyebutkan nama dan melihat foto. jadi cukup berdiri tidak sampai satu menit di meja registrasi.
"Kepada keluarga peserta, tidak mengeluarkan suara terlalu keras. walaupun aula tempat tes berada di gedung bagian belakang. Tapi ketenangan juga dibutuhkan oleh panitia dan sesama keluarga yang menunggu!!.
Mohon kerjasamanya!. Karena tes akan dilaksanakan lebih kurang lima menit lagi". ucapan panitia di speker.
Semua keluarga mengaggukkan kepala tanda mengerti. Mata mereka fokus pada layar lebar yang ada di sisi kiri dan kanan tenda.
Tidak ketinggalan dengan ipul. ipul juga melihat kearah layar.
Tet....
Bunyi bel tanda tes dimulai. benerapa menit berlalu. nama- nama di layar bargantian berada di layar.
Terdapat dua puluh lima nama yang terpajang di layar. Silih berganti.
Yang ipul tahu, mungkin nama peserta dapat menjawab soal dengan benar.
Ipul mrnarik nafas panjang. sudah hampir sepuluh menit. nama istrinya belum ada di layar utama.
Ipul selalu berdoa agar istrinya bisa menjawab dengan benar. agar bisa lolos saat tes tertulis ini.
tik...
tok
tik..
tok..
tik...
tok...
'Alhamdulillah!". gumam ipul.
Daat menit ke sebelas, nama istrinya berada di nomor urut dua puluh lima.
Hhffff.....
Ipul terus berdo'a dan berzikir dalam hati. sambil terus memoto layar, setiap nama istrinya berlahan naik.
Menit demi menit berlanjut. rasanya waktu begitu lambat berjalan.
Namun... dengan berlahan nama lely berlahan naik pada nomor urut tertinggi di layar.
huf.. Ipul deg-deg an. melihat nama istrinya merangkak naik.
12
11
__ADS_1
10
9
"Pul!!".
"Astaghfirullah!!". ucap ipul kaget saat seseorang memegang bahunya sambil memangil namanya.
Ipul yang duduk di kursi nomor dua paling tepi. Tentu dengan mudah seseorang menemukannya.
"Abang zul, kak Ve!". ucap ipul mrngurut dadanya.
"Segitu konsrntrasi kamu pul, aku pagil saja kagetnya minta ampun!". ucap bang zul tersenyum.
"Lagi fokus bang. lihat itu!". ucap ipul menunjuk layar.
"Hebat. aku bangga!!". ucap bang zul.
"Kak ve, duduk dulu!". ucap ipul menyuruh istri abang iparnya untuk duduk.
"Duduk saja pul. kami duduk di sana!". tunjuk kak ve pada kursi di bagian belakang yang kosong.
"Oh.. pindah kesini saja kak, biar abang zul ambil kursinya!". ucap ipul.
"Iya. biar aku ambil kursinya. kita temani ipul di sini, biar dia tidak tegang. bisa stres dia sendiri terpaku bermenung!. . ucap bang zul.
Dia berlalu mengambil kursi ke tenda bagian belakang.
Ipul merasa senang, karena saat- saat menegangkan ada yang menemani.
Tettt......
Bunyi bel tanda selesai berbunyi. Dua jam semua berusaha ujian untuk mendapat nilai tinggi. Dua jam memutar memori saat menuntut ilmu dulu, dan juga pengetahuan umum.
Semua wajah yang tegang tadi mulai menarik nafas lega. begitu pun dengan ipul.
"Alhamdulillah!!".
Ucap Ipul, bang Zul dan kak Ve.
Semua tersenyum penuh arti. Bang zul dan ipul saling berangkulan, menguatkan wajah yang tadi begitu tegang.
Ipul juga bisa tersenyum lebar, dengan hasil usaha yang di berikan istrinya.
Banyak keluarga yang mengucap syukur. walaupun ada juga yang sedikit kecewa.
Ini adalah tes terbuka. semua bisa melihat sendiri, siapa yang mempunyai nilai tertinggi. jadi tidak ada yang namanya keluarga atau kerabat.
Sebelum peserta keluar dari ruangan tes. terdengar panitia memberi pengumuman.
"Untuk duapuluh lima besar tadi. akan kita saring lagi. Semua bisa melihat di layar di depan. tes akan kita lanjut siang ini pukul setengah dua.
Semua harus tepat waktu. tidak ada konpensasi waktu. harap memahaminya!.
Untuk keluarga yang mengantar, agar tidak mendatangi keluarga yang akan keluar. cukup mereka yang mendatangi keluarganya.
karena mereka akan melihat hasil pengumuman dilayar utama ". seruan panitia.
__ADS_1
Tidak lama keluarlah peserta yang terdiri dari dokter. semua merupakan dokter segala bidang keahlian.
Ipul mencari istrinya di kerumunan para dokter yang baru keluar dari pintu utama kantor gubernur.
Semua peserta ada yang melihat kelayar besar terlebih dahulu, ada juga yang langsung menuju kearah keluarganya.
Karena ingin tahu dari keluarganya terlebih dahulu. Sama dengan lely.
Dia langsung berlari kearah suaminya.
Ipul melihat istrinya berlari mendekat. langsung membentang tangannya menyambut istrinya itu.
"Abang!!". ucap lely mendekap erat suaminya.
Ipul juga mendekap erat istrinya. menciumi pucuk kepala istrinya bertubi-tubi.
Abang zul dan kak ve mengelus punggung lely.
Setelah beberapa saat kely dan ipul berpelukan, dan melepaskan pelukan mereka.
"Abang!". ucap lely memeluk abangnya.
"Kak!". juga memeluk kakak iparnya.
"Kenapa tidak melihat layar di pengumuman dulu?!". tanya bang zul.
"Takut!l kecewa!". ucap lely kembali mandekap istrinya.
Hhff..
"Sangat kecew!". ucap bang zul memberikan ponselnya pada lely.
Ponsel yang tadi memoto hasil akhir dari tes.
"Abang!!!!!". teriak lely menangis memeluk suaminya erat sambil menangis keras.
Hingga semua melihat lely yang histeris. Dan mendekat.
Mereka kaget, dan inhin tahu kenapa lely menagis keras.
"Maaf, kenapa bang?!". tanya salah seorang peserta.
"Ada apa?!"
"kenapa?!".
"Tidak apa-apa. Dia cuma kaget saja. Dia histeris karena namanya ada di nomor urut satu. hingga berteriak kaget!". jawab abang zul.
Sambil tersenyum pada semua yang melihat kearah lely yang memelum ipul sambil menangis.
"dr.Nurlaely Saadah. Sp.B".
ucap mereka bersama.
.
.
__ADS_1