
Lely menganti pakaiannya dengan pakaian rumah. Dia lebih nyaman memakai baju tipis dan longar, selain kota P ini panas, juga karena perut buncitnya lebih lega jika memakai pakaian longgar.
Mereka sholat Zuhur berjamaah di ruang tengah dekat tangga. dan ipul menjadi imam buat istri dan anaknya.
Adiva juga sudah hafal gerakan sholat. Dia sekalu ikut untuk melakukan sholat.
"Sayang, kamu mau nambah lauknya?!". tanya ipul pada istrinya.
"Tidak bang, sudah kenyang". jawab lely. Nafsu makan lely agak kurang semenjak kehamilannya memasuki delapan bulan.
"Masih banyak nasinya. abang suapi ya?!". tanya ipul.
"Tidak usah. nanti abang mual lagi!". jawab lely.
Ipul memang sering mual saat mencium bau nasi putih. Apalagi saat nasi baru masak. Makanya saat ipul bantu di dapur nasinya di masak setelah ipul selesai memasak lauk.
Jika ingin membuat nasi goreng untuknya. ipul sering memakai nadi dingin dan memakai masker. Hanya nasi goreng yang bisa ipul makan. Itupun baru satu bulan belakangan. semenjak kehamilan lely memasuki tujuh bulan
Entah kenapa, padahal lely sudah hampir melahirkan. menururut perkiraan dua minggu paling lama sudah melahirkan.
"Tidak apa-apa. kan bisa tutup hidung sayang!". jawab ipul menyuapi istrinya. walau kadang menahan nafasnya.
Hingga nasi yang ada di piring tadi habis di suapi lely.
Ipul membersihkan piring dan semua peralatan makan. Ipul sudah melarang lely turun naik tangga kedapur. Cukup saat memasak saja, itupun harus berdua dengan ipul.
Semua pekerjaan rumah tangga ipul yang mengerjakan. lely sudah kesusahan untuk bergerak karena perut yang besar membawa dua bayi kembar.
"Bunda. kapan adik Ai di jemput kerumah sakit?!". tanya adiva mengelus perut buncit bundanya.
"Sabar sayang. insya allah akhir bulan ini adik adiva bisa kita jemput kerumah sakit". jawab lely.
Lely dan ipul mengatakan kalau adiknya akan di jemput di rumah sakit, saat adiva bertanya bagaimana cara adiknya keluar dari perut bundanya.
"Adiva tidak sabar bertemu adik?!". tanya lely.
"Iya bunda. ai ingin bermain dengan adik!". jawabnya.
Lely duduk selonjoran sambil menemani putrinya menonton. Sementara ipul membawa peralatan makan kedapur yang berada di lantai tiga. juga mencuci piring kotor.
"Haha...ha.... adiknya bergerak!". teriak Adiva saat tangannya yang mengelus perut bundanya bergerak. karena bayinya mengeliat di dalam perut lely.
"Adiknya mau bermain dengan kaka adiva. he.. he..". jawab lely ikut tertawa melihat putrinya antusias mengelus perutnya.
__ADS_1
"Adiva suka di panggil kakak?!". tanya ipul datang mendekati istri dan putrinya duduk.
"Senang yah. sekarang Ai ingin di panggil kakak!". jawab Adiva.
"Pintar putri ayah.Kakak Adiva jaga bunda dan dedek bayi ya. Ayah mau ke toko!". ucap ipul mencium kepala putrinya.
"Iya ayah!". jawab Adiva.
"Abang ke toko ya sayang. kamu istirahat saja". ucap Ipul pada istrinya. mencium kening istrinya itu.
"Iya bang". jawab lely.
Ipul membantu karyawannya di toko. dan membiarkan istrinya bermain dengan putrinya.
Kesibukan di toko dan tempat fotocopy sangat sibuk. semua karyawan dan ipul tetap semangat melayani pelangan.
Apalagi semua pelangan yang datang sering menanyakan Adiva. Sebab semua senang dan gemes melihat adiva yang ceria dan murah senyum.
.
Selesai menutup toko, ipul membuatkan susu hamil buat istrinya. Kegiatan rutin ipul semenjak istrinya hamil.
"Diminum sayang!". ucap ipul.
"Terima kasih bang!". ucap lely menerima segelas susu dari suaminya, dan meminumnya.
Setelah susunya habis, lely memberikan gelas kosong kepada suaminya.
"Abang pijit ya!". ucap ipul.
Dia memijit kaki istrinya yang bengkak, efek hamil tua.
Sebenarnya ipul sudah menyuruh istrinya cuti saja kuliahmya. tapi lely bilang tanggung. Ujian dan tugasnya tingal tiga atau empat hari kedepan.
Dan setelah itu akan ada beberapa tugas lagi yang di beri dosen yang bisa lely kerjakan saat cuti melahirkan nanti.
"Sudah dulu sayang, dari tadi kamu duduk saja". ucap ipup.
Masih terus memijit jari dan telapak kaki hingga betis istrinya. Karena lutut istrinya berada di bawah meja belajar kecil tempat istrinya belajar.
"Sedikit lagi bang!". jawab lely masih terus menulis.
Ipul tidak membantah lagi, karena istrinya sedang bersemangat menyelesaikan tugasnya.
__ADS_1
"Hffff... selesai!". ucap lely setelah beberaoa saat mengerjakan tugasnya.
"Biar abang yang membereskan bukunya". ucap ipul membereskan buku istrinya dan meja kecil tempat menulis.
"Capek!". tanya ipul memijit lutut dan paha istrinya.
"Hmm..". lely menganggukkan kepalanya.
"Kamu maju sedikit sayang. biar abang pijit punggung dan bahu kamu!". ucap ipul.
Karena istrinya bersandar kedinding saat mengerjakan tugas kuliahnya tadi.
"Nanti dulu bang. mau rileks sebentar. mau posisi merangkak". ucap lely berusaha untuk merubah posisi duduknya.
"Apa tidak bahaya sayang. Nanti kalau tangan kamu capek bisa jatuh!". ucap ipyl cemas.
"Tidak bang. kan merangkak posisi yang di anjurkan untuk ibu hamil yang sudah hamil besar.
biar perutnya mengantung dan membuat lega bayi di dalam.
Kan posisi merangkak tidak lama, cuma sebentar kok, tidak sampai pegal. dan bisa di ulang lagi". jelas lely.
Lely melakukan posisi merangkak. dan sesekali bergerak maju melangkahkan tangan dan lututnya.
Tidak lama, hanya beberapa kali merangkak, dan duduk lagi.
"Ayo istirahat. sudah hampir pukul sepuluh!". ucap ipul menolong istrinya intuk berdiri.
Dan mereka menuju kamarintuk istirahat. Ipul mematikan lampu ruangan, hanya meninggalkan lampu yang berada di tangga.
Adiva sudah dari tadi tidur di kamarnya. adiva sudah biasa tidur sendiri semenjak usia delapan bukan. dan selalu di lihat beberapa jam oleh ipul dan lely.
Lely tidur miring membelakangi suaminya. Dan ipul memeluk isyrinya dari belakang sambil mengelus perut buncit istrinya dan sesekali bayinya bergerak.
"Sayang. sepertinya anak ayah ingin di jenguk nih!". ucap ipul mengelus beberapa tonjolan yang bergerak dari dalam dan mengemaskan.
Mungkin Bayinya bergerak aktif di dalam perut lely.
"Abang...!". erang lely.
Saat tangan nakal ipul mulai bermain di balik baju istrinya.
.
__ADS_1
.