
Ipul was-was, apakah lely melupakan dirinya sebagai suami lely. Apakah lely tidak ingat kalau mereka sudah menikah. dan....
"Abang, abang siapanya lely?!. kalau kakak lely rasanya tidak ya". ucap lely pada ipul.
"Kamu akan mengigatnya nanti. Setelah kamu melihat foto kita dan kebiasaan kita". Ucap ipul galau.
Dia tidak mau memaksa lely untuk berfikir, cukup dia mengingat yang lalu dulu, tentang kuliah, tentang cita-citanya, tentang siapa yang mencelakai dirinya terlebih dahulu.
Ipul akan terus berada di damping lely, sebagai orang yang selalu di butuhkan istrinya, sebagai suami.
Lely yang tadi berdiri, di ajak ipul ke ruang tengah, ipul duduk di sofa yang berada di depan foto pernikahan mereka. Dia tidak bicara apa-apa, cukup lely saja menyadarinya.
Bahkan ipul duduk agak jarak dari lely, dia duduk di karpet, sementara lely di atas sofa.
"Bang, kita tidak bersih- bersih rumah?! biasa kan kita nyapu sampai keluar". ucap lely.
Lah... dia ingat kebiasaan tiap minggu pagi. Padahal ipul ingin santai.
Biasanya minggu pagi ini mereka bersih-bersih rumah tapi sekarang ipul ingin membuat lely nyaman saja. Agar tidak banyak fikiran.
"Kamu mau kita bersih-bersih?!". tanya ipul.
Lely mengangguk senang. Dia kelihatan bersemangat.
"Ayok....". ajak ipul. "Aku ambil sapun dan pelnya dulu ya!".
"Baik bang". jawab lely.
Ipul mengambil perkakas di gudang dekat dapur. Dia memberikan kemoceng dan kain lap pada lely, agar lely membersihkan meja, rak dan segala yang ada di meja dan kemari tanpa kaca.
Ipul mengepel lantai seperti biasa, mereka sibuk dengan kebiasaan mereka tiap minggu.
"Bang, ini foto pernikahan aku ya?! jadi kita sudah menikah?". ucap lely saat melihat foto mereka di figura besar di dinding ruang tamu.
Ipul yang sedang di ruang tengah mempel lantai, mendekat ketempat lely berdiri di depan foto pernikahan mereka.
Ipul merangkul behu lely mendekat ke dadanya. dan sama-sama memandang foto itu. Ipul mencium ubun-ubun lely.
"Iya .. kamu adalah istriku, dan aku suami kamu. Kita sudah menikah lebih kurang dua bulan yang lalu". ucap ipul mendekap lely.
Lely mengeleng pelan, entah apa yang dia fikirkan.
"Apa kamu tidak ingat?!". Tanya ipul menghadapkan lely kearahnya.
Lely menggeleng sambil memandang ipul. Ipul menarik nafas pelan. Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan agar lely ingat dengannya.
"Tidak apa-apa, sekarang kamu harus mengingat masa lalu kamu terlebih dahulu, kuliah kamu, cita- cita kamu. Untuk pernikahan kita kamu akan ingat dengan sendirinya nanti. Seiring kebersamaan kita setiap hari". ucap ipul memeluk lely dengan hati galau.
__ADS_1
"Jangan paksakan untuk berfikir, nanti bertambah pusing. Ok!?. sekarang bersih-bersih lagi ya!". ucap ipul mengelus pipi lely.
Lely mengangguk.
"Pintar istri abang". ucap ipul mencium kedua pipi lely, seperti pintanya waktu itu.
Ipul melanjutkan pekerjaannya, mempel semua ruangan, sampai ke teras. Setelah bersih dia menyapu halaman dan lely menyiram bunga yang tidak seberapa.Mereka berkerja sama.
Sesekali ipul melihat lely yang kadang terdiam, kadang tersenyum. Dia megerjakan semua seperti biasa, tanpa disuruh. Bahkan dengan teliti mencabuti rumput liar di pot bunga besar.
Ipul membiarkan saja, mungkin lely sedang menikmati kegiatannya untuk bersih-bersih. ipul yang sudah selesai menyapu halaman dia kedapur untuk mengambil minuman dan cemilan.
Sudah lebih dari satu jam bereka bersih-bersih, dari dapur, ruang nonton, ruang tamu teras dan halaman. Sudah kinclong semua.
Ipul meletakan minuman dan cemilan di meja kecil yang ada teras, hanya ada satu kursi di sana. tapi ipul tidak memangil lely, dia ingin lely menyadari saja, kalau dia sedang duduk menunggunya untuk minum.
Ipul duduk di tangga yang berundak di antara teras dan halaman depan. Dia duduk di lantai yang sudah bersih dan kering.
lely yang dari tadi di perhatikan melihat ke arah ipul, ipul tersenyum.
"Istirahat dulu, ini ada minuman dingin dan kue kesukaan kamu ada kek tape dan biskuit coklat". ucap ipul mengajak lely duduk.
Lely duduk di samping ipul sambil tersenyum.
"Suapi bang, tangan lely kotor". ucapnya minta disuapi, dan memperlihatkan tangan yang kotor.
selesai bersih-bersih ruangan bawah dan halaman ipul mengajak lely ke kamar mereka, ipul akan mengajak lely untuk berganti pakaian, dia mau mengajak istrinya kerumah mertuanya, membicarakan tentang ingatan lely yang telah mengingat, walaupun sedikit.
Tapi lely tidak mau, dia ingin istirahat saja. katanya dia mau lihat lemari yang penuh buku pelajaran dia saat kuliah. Ipul hanya menuruti. Dia akan mengajak sore saja atau selepas magrib saja.
Lely membuka dan membaca buku yang dia lihat tersebut. Ipul hanya duduk di karpet tebal di tengah kamar, memperhatikan lely yang sibuk.
Sesekali lely memijit keningnya, dan kepalanya. Ipul melihat lely yang kepanasan, keringat di keningnya bercucuran, bahkan jelbabnya yang di pipi sudah terlihat basah. Ipul mendekati lely, dia berdiri di belakang lely. Dan....
Hap....
"Sayang...".tangkap ipul.
Lely pingsan dan pas disambut ipul di belakang. Ipul membopong lely ke tempat tidur..Dia membuka jelbab lely dan menghapus keringat yang membasahi wajah dan lehernya.
Ipul memberikan minyak angin di perut, punggung, leher, talapak kaki, dan telapak tangan. Juga meletakan botol minyak angin dekat hidung lely.
Dia terus memijat kepala dan telapak tangan lely sambil memanggil nama istrinya itu.
"Sayang.... bangun.. kamu kenapa?!". ucap ipul panik. karena lely tiba-tiba pingsan.
Dia terus memijiti lely, panik.
__ADS_1
Lama lely pingsan, ipul terus berada dekat istrinya itu, dia tidak tahu harus berbuat apa.
"Sayang... bangun dong, Abang takut kamu kenapa- napa". ucap ipul mengipasi wajah lely yang berkeringat.
Tidak berapa lama lely sadar, dia memijit keningnya sambil melihat kesekeliling ruangan kamar. Dan..
"Kamu siapa?!". ucapnya melihat kearah ipul. "Keluar!!". ucapnya.
Ipul pun turun dari tempat tidur, dia tidak mau lely marah. Pasti amnesianya sudah pulih, bahkan ucapannya tegas sekali terdengar tadi saat membentak ipul.
"Kenapa kamu masuk kamar ku?!". ucapnya nyalang.
"Maaf... membuat kamu terganggu, kamu baru sembuh. jadi belum ingat semuanya". ucap ipul berdiri di dekat tempat tidur.
"Ini, kamu minum dulu, tadi kamu pingsan lama". ucap ipul memberikan minuman yang selalu ada di kamar ini pada lely.
Lely menerima dengan was-was, takut akan di apa-apakan.
"Minum saja, itu minuman yang ada di kamar ini kok". ucap ipul.
Lely meminumnya sampai habis, mungkin dia haus. Karena tadi berkeringat banyak saat pingsan. Ipul mengambil gelas di tangan lely dan meletakan di atas meja di samping tempat tidur.
"Mana ibu dan ayah?!". tanya lely, lely masih merasa di kamar di rumah orang tuanya, karena semua funiture yang ada di sini sama dengan yan dikamar rumah orang tuanya.
"Kamu tidur saja dulu, aku akan telfon ibu dan ayah untuk kemari". Ucap ipul.
Dia membantu merebahkan tubuh lely. Tapi lely menepis tangan ipul.
"Jangan pegang!". marah lely.
Ipul tersenyum, ternyata istrinya aslinya galak dan pemarah. Beda dengan yang dia kenal selama ini. Manja dan lembut.
"Maaf. kamu tidur saja, aku akan menelfon ibu dan ayah". ucap ipul. "Aku mau keluar, apa kamu tidak apa-apa sendiri?! Aku ada di luar, kamu pangil saja kalau ada perlu". ucap ipul.
"Pergi saja, memangnya aku anak kecil". Ucap lely melotot.
"Bukan Anak kecil, tapi istriku yang kecil". jawab ipul menuju pintu kamar.
"Apa??!"....
.
.
.
.
__ADS_1
like dan koment ya 🙏🙏