
Ipul kembali mengendarai motornya kerumah orang tuanya. Tidak begitu jauh dari sma ini, lima belas menit pakai motor.
"Abang sering kerumah ibu?". tanya lely.
"Sering, paling tidak dua kali seminggu". jawab ipul.
"Aku pernah di ajak ngak?". tanya lely lagi.
"Aku pernah ajak kamu saat pesta saja. setelah itu kamu tidak mau keluar rumah.
Kerumah ibu saja yang masih satu komplek kamu tidak mau". jelas ipul.
"Maaf". ucap lely.
"Tidak apa-apa". ucap ipul meremas jari lely yang tangannya memegang perut ipul.
"Rumah ibu jauh tidak dari sini. dan kalau dari rumah kita berapa jauh?" .tanya lely.
"Kalau dari tempat kerja dan rumah, lebih kurang empat puluh menit lah". jawab ipul.
"Terus kapan abang datang kerumah ibu... eh bang kita beli buah tangan dulu yuk". ajak Lely.
"Mau beli apa?!". tanya ipul.
"Kue boleh, buah juga". ucap lely.
"Ok!". ucap ipul yang tau dimana membelinya.
Karena ini sudah dekat dengan rumah ibu. tinggal beberapa rumah lagi simpang rumah ibunya.
Di persimpangan rumah ibu itu ada toko buah dan kue. ipul tahu kue yang disukai keluarganya, karena sering disuruh ibu membelinya ketoko ini.
Setelah membeli buah dan kue, mereka melanjutkan perjalanan mereka, yang hanya di tempuh tidak sampai tiga menit.
Ipul membelokan motornya kedalam pagar rumahnya yang terbuka sedikit. Halaman rumah ibu ipul tidaklah luas, karena separo halaman dibangun warung tempat ibu berjualan.
Warung ibu ipul dibangun ketika akan menjual barang kelontong. Dulunya saat ipul masih sd ibunya hanya berjualan sarapan pagi di teras rumah, dan halaman di beri canopi untuk duduk yang ingin makan di tempat.
Karena banyak yang sering menanya kan sabun,sampo,odol, micin, dan barang kelontong lainnya, maka menjelang ipul lulus sd ayah dan kakek membuatkan ibu warung. Makanya teras samping sampai halaman depannya dibagun kedai. yang memanjang dari pagar depan sampai depan rumah.
karena juga akan menjual sarapan pagi dan warung kelontong, maka di bagian depan di taroh etalase kaca pajangan masakan sarapan pagi. Dan bagian dalam menghadap halaman samping etalase dan rak pajangan barang kelontong.
Jadi warung ibu ipul bisa di bilang dua pintu leter L. menghadap jalan raya dan menghadap halaman.
Rumah ibu ipul pun tidak lah luas, tapi punya empat kamar meskipun kecil-kecil. Agar setiap anak punya kamar sendiri-sendiri.
Tapi di halaman belakang ada kolam ikan empat kali delapan meter dan kebun sayur sedikit.
Sebenarnya halaman belakang ini juga tidak bisa di bilang daerah belakang. karena ada jalan tanah yang bisa dilewati mobil. dan hamparan sawah di seberang jalan pagar kolam ikan.
Ipul dan lely turun dari motornya, dan membuka helm dan sarung tangannya.
kemudian ipul membantu membuka helm dan sarung tangan lely. Lalu ipul membuka masker kain yang lely pakai, dan merapikan jelbab lely hingga rapi.
__ADS_1
"Sudah rapi. Ayo!". ajak ipul tersenyum, membimbing tangan lely menuju warung ibu yang menghadap halaman, dimana motor ipul parkir.
Lely membalas senyum ipul dan mengikuti ipul berjalan.
"Assalamualaikum...". ucap ipul saat masuk warung ibu.
"Waalaikumsalam... "
"ipul!!. kamu datang nak". jawab ibu mendekat kearah ipul. dan ipul menyalami ibu lalu mencium tangan ibu.
"Ibu.. aku datang dengan istriku. Lely, ini ibu". ucap ipul pada istrinya.
"Ibu". ucap lely menyalami ibu ipul dan mencium tangannya.
"Ayo masuk, ibu senang kalian datang. ayo nak". ucap ibu membimbing lely kedalam rumah melalui pintu dalam warung.
"Pul, bantu kembalikan uang ibu itu ya!". ucap ibu ipul kepada ipul.
Karena tadi ibunya sedang melayani seorang pembeli.
"Baik bu". jawab ipul. "Berapa tadi belanjanya bu?". tanya ipul.
"Tiga puluh enam ribu. ini uangnya pul". ucap ibu itu memberikan uang limapuluh ribu.
"Begitulah orang tua pul. anak dan menantu datang. yang di sambut, dibimbing dan di layani itu menantu eeh anak malah di tinggal saja.. hahaha.... ". ucap ibu itu sambil tertawa.
"sudah biasa itu. Yang sabar ya pul, berarti ibumu menyayangi menantunya". ucap ibu itu lagi.
"Iya bu.. terima kasih, ini kembaliannya bu". ucap ipul tersenyum.
"Aaminn.. ". jawab ipul.
Setelah melayani ibu itu, ipulpun memasuki rumah melalui pintu dalam warung. melepas sepatunya dan meletakandirak sepatu disamping pintu warung. lalu duduk di sofa dekat istri dan ibunya duduk.
Terlihat ibu memegang dan mengelus tangan menantunya.
"Lely, ibu senang kamu mau datang kerumah ibu. kata ipul kamu tidak mau keluar rumah. makanya kemaren-kemaren hanya ipul yang berkunjung kemari.
apa ipul memperlakukanmu dengan baik?". tanya ibu pada lely.
Lely memandang ibu tersenyum.
"Bu, lely sudah sembuh dan tidak amnesia lagi". ucap ipul pada ibunya.
"Beneran sayang?! ibu sangat senang mendengarnya". ucap ibu memeluk lely erat. lely membalas pelukan mertuanya.
"Ibu, jangan erat peluknya. sesak nafas lely jadinya". ucap ipul pada ibunya.
"Ah kamu pul. ibu kan sedang senang meluk menantu ibu. bukan hanya kamu saja yang boleh meluk mantu ibu. ibu juga mau". ucap ibu merengut.
"Ibu boleh kok meluk lely". ucap lely memeluk ibu mertuanya.
"Terimakasih sayang". ucap ibu ipul kambali memeluk menantunya.
__ADS_1
"Buk.... belanja..."
Seseorang memangil di warung ibu untuk berbelanja.
"Iya... sebentar..". ucap ibu.
"Pul, kamu bantu sana". ucap ibu ipul.
Ipul bangkit dan berjalan kewarung. Ipul sudah biasa menjaga warung. semenjak dulu jika ibunya sedang memasak atau kepasar ipul yang membatu ibunya di warung.
Kadang juga membantu ayah di sawah dan ladang.
Dan ada beberapa pembeli yang berbelanja, bergantian datangnya.
Tidak lama setelah melayani pembeli, terdengar azan zuhur dari mesjid sekitar. ipul menutup pintu roling warung arah ke jalan. dan menutup pagar depan.
Warung ibu akan tutup selama sholat. dan pelangan juga tahu, jadi tidak akan datang selama waktu sholat.
Saat masuk, ipul tidak melihat istri dan ibunya. dia mencari kedapur, juga tidak ada. Ipul berjalan keluar ke halaman belakang, dilihatnya ibu dan istrinya sedang berada dibawah pohon mangga dekat kolam ikan.
Ipul hanya melihat saja, lalu dia masuk kembali menuju kamarnya. ipul dan adik-adiknya punya kamar sendiri-sendiri, semenjak mereka smp.
Kamar ipul dan adiknya berderet tiga, Biar adil ucap ayah dulu.
Kamar ipul berada paling belakang, karena ipul anak tertua dan yang bungsu kamar paling depan.
Sedang kamar ibu berada tepat di belakang warung
Ipul memasuki kamarnya yang tidak luas. Terdapat tempat tidur singel, lemari dua pintu dan satu meja kayu.
Ipul membuka kain pintu kamarnya dan membuka jendela. Semenjak ipul menikah, kamar ipul hanya dibuka kainnya saja oleh ibu atau adiknya sani. kalau jendela jarang dibuka.
Ipul membuka kemeja dan celananya, dan menganti dengan baju kaus dan celana pendek rumahan.
"Abang". pangil lely mengetuk pintu kamar ipul.
"Masuk saja sayang!". ucap ipul.
Lely membuka pintu dan memasuki kamar ipul.
"Aku juga mau ganti baju, gerah. tapi baju gantiku tidak ada". ucap lely.
"Pakai trening dan baju kaos abang saja kamu mau?". tanya ipul.
lely menganggukan kepala. Ipul mengambilnya di lemari dan memberikan pada lely.
Ipul membantu lely membuka jilbab yang di pakai lely. Lely menganti bajunya dengan baju ipul. Sebenarnya ipul mau tertawa, karena lely tenggelam saat memakai baju ipul.
Padahal ipul tidaklah bertubuh besar dan kekar badannya. cuma ipul cukup tinggi, dan lely hanya sedada ipul. makanya celana trening ipul menelan tubuh lely.
.
.
__ADS_1
.