
Semenjak perutnya ngilu pagi tadi, lely lebih banyak duduk dan merangkak di ruang menonton, di atas kasur santai.
Sebab dokter pernah bilang, kalau kaki terasa capek berjalan, bisa merangkak seperti mempel lantai.
Itulah mungkin orang tua sering bilang 'kalau hamil besar lebih bagus mempel lantai jongkok pakai tangan, agar lahiran lancar'.
Tapi karena lely susah jongkok, makanya dianjurkan merangkak ringan saja.
Ipul sang suami siaga selalu berada di samping istrinya. Membantu memijit kaki, pinggang, punggung juga tangan istrinya.
Dia ketoko hanya untuk sekedar melihat karyawan dan survey saja. sebentar, lalu kembali lagi keatas.
"Sepertinya akan melahirkan hari ini sayang!". ucap ipul.
"Tapi belum ada tanda bang!". jawab lely.
"Sebaiknya kita ke rumah sakit untuk periksa, takut ada apa-apa. Abang siapkan bawaan ya!. coba telfon ayah dan ibu, juga abang Zul ". ucap ipul.
Lely mengangguk. Ipul mengambil perlengkapan melahirkan. Semua perlengkapan bayi dan pakaian lely sudah di kemas ke koper sedang beberapa hari yang lalu.
Juga ada beberapa pakaian adiva dan pakaian ipul jika mereka ikut menginap di rumah sakit, tempat abang Zul bekerja.
Padahal ibu dan bang zul bilang, kalau lely lahiran, adiva menginap di rumahnya saja, atau di toko bersama ibu.
Ipul membawa koper keatas mobil. Dan semua keperluan lain yang mungkin di butuhkan nanti di rumah sakit.
"Sudah telfon ibu dan abang zul?!". tanya ipul kembali duduk sambil memijat kaki istrinya.
"kata abang dia akan kesini sebentar lagi. karena sekarang abang sedang istirahat siang.
Kata abang jika sakitnya masih belum teratur, siap makan siang saja nanti kerumah sakit.
Ayah dan ibu sore ini akan kesini, sepulang ayah bekerja". jawab lely.
Ipul mengangguk paham, mertua nya akan datang akhir pekan ini. Karena hplnya iga hari lagi.
"Hm.. abang siapkan untuk makan siang dulu!. Adiva bantu pijitin kaki bunda ya!". ucap ipul.
"Iya ayah!". jawab adiva memijit kaki bundanya.
Masih pukul setengah dua belas. ipul bersiap untuk menyiapkan makan siang dan sholat zuhur.
Dari tadi ipul dan adiva selalu berada di dekat lely, membantu memijit, mengambil minum, juga menemani jalan atau merangkak.
Tadi juga ipul sudah memasak di sela-sela menemani istrinya. dan sudah meletakan di meja kecil dekat tangga ke dapur.
"Abang suapi ya!". ucap ipul.
Dia sudah mengambilkan nasi lengkap buat istrinya, dan juga buat Adiva.
Lely hanya mengangguk, tanda setuju.
"Adiva makan dulu ya sayang!". ucap ipul juga meletakan dekat putrinya duduk.
__ADS_1
"Baik yah!". ucap Adiva patuh.
Dan adiva makan dengan lahap. Ipulpun menyuapi istrinya.
"Abang makan juga sekalian". uvao lely.
"Iya, ini kan porsinya jumbo. untuk berempat!". ucap ipul.
Puk..
Lely memukul paha ipul, yang duduk di sampingnya.
"Kan benar sayang, kamu kan harus lebih makannya, karena ada dua bayi yang kamu beri nutrisi". ucap ipul menyuapi nasi kemulut istrinya.
Lely tidak bisa bicara, karena mulutnya penuh nakanan. dan hanya meberima suapan demi suapan yang di berikan suaminya.
Tidak berapa lama, abang zul dan istrinya datang.
"Assalamualaikum!". ucap mereka.
"Waalaikumussalam..". jawab ipyl dan lely.
"Bagaimana sekarang lely?!. apa sudah ada tanda?!". tanya kakak ipar lely.
"Tadi belum kak. sekarang belum lihat!". jawab lely.
"Apa sudah sering buang air kecil?". tanya abang Zul.
"Tidak terlalu sering bang, dari pagi cuma dua kali buang air kecil". jawab lely.
"apa kamu sudah selesai makan? kalau sudah, biar abang periksa dulu, kamu rebahan!". perintahnya.
"Baik bang!". ucap lely.
Istri bang zul membantu lely rebahan, Ipul membantu meletakan bantal dan mengambil selimut tipis untuk menutupi kaki lely.
Ipul menutupi kaki sampai perut dengan selimut dan membantu menaikan gamis istrinya, agar di periksa.
Abang Zul memeriksa perut lely yang besar, mengelus beberapa kali di bagian bawah. juga memakai alat detak jantung bayi.
"Keadaan merrka sehat, dengarkan bunyi detak jantung mereka!!". ucap bang zul.
"Aktif anak kalian, lihat nih, mereka bermain di dalam. menonjol kesana kemari!". ucap bang Zul tersenyum saat melihat perut lely yang bergerak dan menonjol.
"Iya bang, mereka sepertinya tidak sabar bermain dengan kakaknya!". ucap istri bang Zul yang memeluk Adiva.
"Iya. ai tidak sabar main dengan adik bayi!". ucap adiva.
"Apa sudah waktunya lahiran bang? walau tidak ada tanda?!". tanya ipul mengelus kepala istrinya.
"Kita ke tempat praktek abang dulu, kita usg dulu. periksa keadaan mereka. Apa sudah waktunya lahiran atau belum.
Kalau abang periksa sih belum tanda melahirkan. tapi bisa jadi mereka tidak sabar untuk keluar. Ingin bertemu ayahnya secara langsung. apa kamu masih sering mengunjungi mereka?!". tanya bang zul.
__ADS_1
"Hmm... masih bang, kan di anjurkan biar lancar". jawab ipul.
"Semangat kamu. tapi tidak apa juga, asal lely tidak kecapek an". jawab bang zul.
"Tidak capek kok bang, tinggal gerak sedikit saja. iya kan sayang!". ucap ipul.
"Ish....". lely mencubit tangan ipul yang sedang mengelus lengannya.
"Sedah, bersihkan dulu perut istrimu pul pakai tisu!.
Menurut abang kram perut lely mungkin semalam kalian terlalu bersemangat olah raga. membuat kram perut bawah". jelas bang zul.
Ipulpun membersihkan perut istrinya dengan tisu. dan menutupi kembali.
"Apa kalian menelfon ibu?!". tanya bang zul lagi.
"Iya, kata ibu sore ini kesini, pulang ayah bekerja". jawab lely.
"Sebaiknya jangan buru-buru. nanti ayah ngebut bawa mobil, belum waktu lahiran kok.
biar abang telfon ibu mengabarkan belum ada tanda. sebaiknya santai saja nanti ayah bawa mobil". ucap bang zul.
"Ayah bawa supir kata ibu, agar nanti ayah bisa istirahat saat di mobil!. jelas lely.
"Itu lebih baik!". ucap bang Zul.
"Abang balik kerumah sakit dulu. kalian datang saja ke tempat praktek abang pukul tiga. biar abang periksa". ucap bang zul.
"Baik bang!". ucap ipul dan lely.
"Apa perlu Adiva kakak bawa, biar ipul fokus menjaga lely!". tawar istri bang zul.
"Tidak usah kak, nanti merepotkan. kakak kan sedang bekerja!". tolak lely.
karena lely tahu, kakak iparnya juga bekerja sebagai asn di kota ini.
"Kakak sedang libur dua hari ini. karena baru pulang seminar. Hari senin baru mulai kerja". jawabnya.
"Hm.. tanya adiva kak, kalau aku boleh-boleh saja". jawab lely.
"Adiva ingin ikut tante tidak?!". tanya ipul. karena dia takut menganggu istirahat istri abang iparnya itu.
"Ai ingin jaga bunda dan dedek bayi saja. nanti bunda sakit kaki lagi. Ai ingin pijit kaki bunda!". jawabnya.
"Ok sayang, nanti kalau kamu ingi ikut tante kabarkan ya!". ucap istri bang zul.
Adiva memang sering diajak bang zul dan istrinya kerumahnya, atau sekedar jalan. Abang zul belum punya anak.
Mereka menikah belum dua tahun. mungkin saja menunda punya anak atau memang belum di karuniai anak. .
.
.
__ADS_1