
Lely terjaga saat mendengar suara tawa semua keluarga, yang sedang kumpul.
"Eh, aku ketiduran ya". ucap lely berusaha bangun.
Ipul membantu istrinya bangun dan duduk di kasur sampingnya duduk.
"Kamu istirahat saja sebentar. nanti tidak bisa istirahat jika mendekati lahiran". ucap ibu mertua.
"Apa sakitnya sudah teratur sayang?. apa belum di periksa lagi dari tadi?!". tanya ibu lely.
"Belum teratur sih bu kontraksinya. dari tadi cuma sekali periksa. aku ingin periksanya saat benar-benar hampir lahiran saja. Risih di pegang dokter". jawab Lely.
"Kalau begitu kamu harus banyak jalan, biar bukaanya cepat". ucap ibu.
"Iya bu". ucap lely meringis.
Ipul dengan sigap mengusap punggung istrinya.
Mereka berbincang, sambil bercengkrama. dan tertawa jika ada yang lucu.
Lely ikut tertawa dan sesekali meringis menahan ngilu kontraksi. Ipul dengan siaga siap nengusap pinggang dan perut istrinya.
Dia sudah mulai kelihatan panik dan cemas. tapi dia tidak menampakkan dengan jelas kepanikannya.
Saat waktu magrib semua pergi sholat ke mesjid rumah sakit. hanya tinggal ipul dan lely di kamar.
Ipul sholat dikamar saja. sementara lely berjalan pelan di sisi dinding, sambil berpegangan pada dinding, saat kontraksi.
Selesai ipul sholat ipul mengiringi istrinya berjalan dalam kamar, sambil memegang tangan lely.
Tidak lama kedua pasang orang tua mereka datang dari mesjid.
"Sebaiknya kita makan dulu, biar bumilnya bertenaga". ucap ibu lely.
"Iya, ibu juga bawa makanan banyak". ucap ibu ipul.
Para ibu mengelar tikar di tengah ruangan. untung kamar rawat lely besar. hingga bisa menunggui ramai.
Semua makan malam tanpa canggung, walau dalam ruangan rawat inap di rumah sakit, tapi tidak mengurangi kenikmatan makan malam.
"Abang suapi ya". ucap ipul menyuapi istrinya makan.
Lely duduk selonjoran bersandar ke dinding.
Lely menerima suapan suaminya. Dia menikmati makan, dan beberapa kali meringis karena kontrasi.
Ipul mengusap punggung istrinya sambil terus menyuapi istrinya.
"Iya". jawab ipul juga menyuapi untuknya sendiri.
"Kalian harus makan banyak. terutama ipul. akan bergadang sampai pagi. Ini lely belum tahu waktu melahirkan. mungkin tengah malam, atau menjelang pagi. jadi harus jaga stamina". ucap ayah mertua sambil makan.
"Iya pul". ucap ucap ayahnya.
"Ini tambah lagi". ucap ibu mertua munyerahkan rantang yang berisi nasi, lauk dan sayur.
__ADS_1
"Kamu mau nambah?!". tanya ipul.
"Tambah saja pul. kamu tadi baru sedikit makan". ucap ibunya.
Ipul sebenarnya kurang berselera untuk makan. Tapi demi menjaga istrinya yang akan berjuang melahirkan anaknya.
Makanya ipul terus makan sambil terus menyuapi istrinya dan dirinya.
Selesai makan mereka mengobrol santai, masih kesehan di tengah ruangan rawat.
Sementara lely berjalan-jalan di dalam kamar. sesekali keteras luar rawat inap, dengan terus diiringi ipul.
Tadi lely ingin jalan di luar kamar di lorong, tapi dilarang ibu.
Kata ibu biasanya sehabis magrib ini banyak orang yang lalu lalang untuk membezuk keluarga atau teman.
Nanti lely tidak nyaman berjalan, dan juga pasti akan ditanya-tanya. Bisa jadi kita sedang kontraksi, kan tidak enak dilihat dan risih juga.
Sudah hampir setengah sebelas, kontraksi yang lely rasakan semakin teratur. sekali lima belas menit.
Para ayah duduk di teras ruang rawat inap sambil mengobrol. mereka duduk lesehan diatas kasur santai yang dibawa ibu mertua ipul.
Sementara para ibu sudah rebahan di tikar tempat makan tadi. yang digeser kearah tepi dinding. mungkin para ibu mengantuk, mereka tidur dengan berselimut seprai batik.
Mertua ipul tadi membawa karpet kecil, bantal guling. dan selimut sedang.
Sedang ibu ipul juga membawa karpet kecil, bantal dan juga dua buah seprai batik untuk selimut.
Padahal disini juga ada selimut dan bantal.
Lely hanya nengangguk. ipul membimbing istrinya kearah kasur. dan membantu istrinya rebahan. Ipul menyelimuti istrinya dengan selimut yang ada di atas kasur.
Setelah menyelimuti istrinya, ipul berjalan kearah kasur sebelah.
"Abang kemana?!".tanya lely pelan.
"mau kasih selimut buat ayah. mungkin ayah juga mengantuk. biar meteka istirahat sebentar". ucap ipul mengambil selimut dan seprai yang dibawa mertua dan ibu nya tadi. juga bantal.
Lely mengangguk saja. melihat suaminya berjalan.
"Ayah. istitahatlah sebentar, lely juga mau istirahat sebentar, mungkin capek berjalan dari tadi". ucap ipul meletakan bawaan tadi di karpet.
"Iya pul. kamu juga istirahat juga. saat istrimu tiduran". ucap ayah mertua.
"Iya yah. aku kedalam dulu yah". ucapnya.
Ipul duduk di kursi dekat tempat tidur istrinya. Ipul terus mengusap pinggang dan punggung istrinya yang sesekali merasa kontraksi, atau meringis menahan ngilunya kontraksi.
Ipul sedikit mengantuk merebahkan kepalanya di kasur tempat istrinya tidur, sambil duduk di kursi.
Entah berapa lama ipul tertidur, dia di kejutkan saat istrinya mengusap rambutnya.
"Sayang.. maaf aku ketiduran". ucap ipul melihat istrinya yang sudah menghadapnya.
Lalu mengusap perut istrinya dan menciuminya beberapa kali.
__ADS_1
"Anak ayah sehat ya". ucap ipul mengusap perut istrinya.
"Abang.. sakit..". ucap lely meringis menahan sakit.
"Apa kita keruang bersalin sekarang?!". ucap ipul sambil mengusap pinggang istrinya.
"shh.. sakit...". erang lely.
"Apa sudah ingin lahir anak ayah??". ucap ipul mengelus perut istrinya.
Ipul melihat jam didinding ruang rawat inap. pukul dua. berarti dia tertidur dua jam.
Terasa perut istrinya menonjol. Bayi dalam perut istrinya bergerak.
"Anak ayah sudah tidak sabar ya ingin bertemu ayah!". ucap ipul pelan.
"Shh.. sakit bang". erang lely lagi.
"Ayo bangun, kita periksa ke ruang bersalin". ucap ipul mengalungkan tangan lely kelehernya.
Setelah duduk ipul merapikan jilbab instan yang lely pakai, dan memasangkan sandal jepit kekedua kaki istrinya.
Ipul memapah istrinya pelan berjalan.
"Abang bangunin ibu dulu ya". ucapnya menyuruh istrinya berdiri di samping tempat tidur sambil berpegangan ke tempat tidur.
"Bu... bu... Aku mau mengantar lely keruang bersalin". ucap ipul mengusap lengan ibunya.
Ibu ipul langsung terjaga, juga ibu mertuanya ikut terjaga.
"Bagaimana sayang, sudah terasa sering kontraksinya?!". tanya ibu lely bangkit dari duduknya.
"Sudah sering sakitnya bu.. sshh". ucap lely.
"Kamu duluan jalan kesana dulu. ibu bangunin ayah dulu, nanti ibu menyusul". ucap ibu ipul.
"Minum dulu sayang, biar lega". ucap ibu lely memberikan minum hangat yang diambil dari termos kepada ipul dan lely.
Tidak sampai setengah jam lely di ruang bersalin, terdengar tangisan bayi dari dalam ruangan itu.
"Alhamdulillah..". ucap para kakek dan nenek yang menunggu di luar ruangan.
Hanya ipul yang menemani istrinya di dalam ruang bersalin itu.
Sekitar lima belas menit kemudian ipul keluar untuk menemui orang tua dan mertuanya.
"Alhamduliilah yah.. bu.. anakku perempuan". ucap ipul
"Alhamdulillah..". ucap mereka memeluk ipul bergantian.
Ipul menangis haru, karena sekarang sudah menjadi ayah buat putri cantiknya.
.
.
__ADS_1