Istriku Lely

Istriku Lely
Di Periksa Abang Zul


__ADS_3

Sesuai rencana, Ipul membawa lely periksa di tempat praktek abang zul.


Abang Zul membuka praktek di rumahnya. Rumah bang zul dekat dengan rumah sakit daerah. tempat dia bekerja.


Rumah sakit daerah ini terletak agak di pinggir kota. tidak jauh dari batas kota.


Rumah bang zul ini sudah dibeli semenjak dia dapat bekerja di rumah sakit daerah di kota provinsi ini. Jauh sebelum menikah. karena bang Zul membeli dengan uang impus dari kakek dan ayahnya.


Rumahnya tidak terlalu besar. tapi berlantai dua. Rumah yang di beli bang zul tidak terletak di jalan utama. tapi jalan ini merupakan jalan penghubung dari pusat kota ke beberapa perumahan dan kampung.


Lantai satu rumahnya dijadikan tempat praktek. dan lantai dua untuk rumah tinggal.


Juga jalan alternatif menuju daerah perkantoran dan pasar bagian utara kota.


"Alhamdulillah bayinya sehat, tidak kurang air ketubannya!". ucap bang zul saat melakukan usg.


Mereka sampai di tempat bang zul menjelang pukul empat. karena tadi pukul tiga baru bersiap untuk jalan. dan melaksakan sholat ashar terlebih dahulu.


"Ibu dan ayah katanya besok selepas sholat jum'at kesini". ucap lely saat selesai di periksa bang zul.


"Itu lebih baik. besok ayah masih bisa bekerja setengah hari. Lagian kamu juga tidak apa, belum akan lahiran juga sepertinya". jawab bang zul.


"Iya bang, aku juga bilang begitu sama ibu tadi!". jawab lely.


"Kamu menginap disini saja malam ini, biar rileks sejenak. besok pagi kita jalan pagi ke jalan depan. ada warung sarapan enak!". ucap istri bang Zul, yang ikut melihat lely di periksa.


Bang zul belum punya anak, mereka belum satu tahun menikah.


"Iya. kamu menginap disini saja sampai lahiran!". tambah bang zul.


"Bagaimana bang?!". tanya lely pada suaminya.


"Menurut abang kita menginap saja. nanti kalau perut kamu kram lagi lebih aman, ada bang zul dan dekat ke rumah sakit!. ucap ipul jujur.


Karena ipul merasa istrinya itu hampir melahirkan. bisa saja malam ini, entah firasat atau apa. ipul merasa bayi yang ada dalam kandungan istrinya sangat aktif bergerak.


Bukan karena aktifitas ranjang yang rutin. tapi gerak mereka saat diajak berbicara sambil memegang perut istrinya sangat aktif. Hibgga ipul setuju diajak abang iparnya menginap.


Dia tadi juga sudah ada rasa, kalau ditawarkan bang zul untuk menginap. lagian koper persiapan untuk melahirkan dan menginap di rumah sakit juga masih ada di atas mobil.


juga sudah berpesan pada jefri tadi sebelum berangkat.

__ADS_1


"Hmm baik bang. kami menginap di sini!". jawab lely.


"Kalian tidur di kamar bawah saja, agar lely tidak turun naik tangga!". ucap bang zul.


"Baik bang!". ucap lely dan ipul.


"Ayo, kakak antar kekamar. biar istirahat!". ajak kakak iparnya.


Lely dan ipul mengiringi kakak iparnya keluar dari kamar depan, tempat praktek abangnya. dengan adiva yang dibimbing ipul.


Kamar kedua yang dijadikan bang zul tempat ruang periksa, dan ruang tamu di jadikan ruang tunggu. dan kamar depan dijadikan musholla, karena di dalam sudah tersedia kamar mandi. jika para pasien akan sholat dan istirahat.


Antara ruang tamu dan ruang tengah di batasi kaca buram, dan memakai gorden tile, untuk membatasi tempat umum dan tempat keluarga.


Di ruang tengah ini kamar yang lely dan ipul tempati. Tangga menuju keatas juga berada di ruang ini.


Ipul dan lely tidak langsung ke kamar, mereka duduk santai di ruang keluarga. Menikmati cemilan buah dan keripik.


"Bang, jalan ke taman depan yuk!. badanku pegal, seharian tiduran saja!". ucap lely pada suaminya.


Di ujung perumahan sebelum kerumah bang Zul ada lapangan sepak bola dan juga beberapa lapangan olah raga lainnya.


Ramai warga kota berolah raga atau santai sore di tempat ini. Selain taman bermain Juga banyak jajanan, hingga bisa di jadikan tempat wisata kuliner.


"kak, ikut ke taman jalan sore yuk!". ajak lely.


"Kalian saja. Mau jalan kaki atau pakai mobil?!". tanya kakak ipar.


"Kalau jalan kejauhan ya kak?!". jawab ipul.


"Kejauhan sih tidak, tapi buat ibu hamil itu jauh. apalagi jalan sore lebih terik panas matahari sore dari pada matahari pagi.


Nanti bumilnya cepat lelah. bisa melahirkan ditengah jalan nanti!". ucap kakak ipar.


"Bagaimana sayang, mau pakai mobil atau jalan di sekitar sini saja?!". tanya ipul.


"Sekitar sini saj bang, jalan perumahan ke belakang!". jawab lely.


"Ok!". ucap ipul.


"Jalan saja ke arah kiri, sebelum mesjid ada taman yang bisa untuk jalan santai.

__ADS_1


Lebih dekat dari sini. juga tidak menyebrang jalan". tambah kakak ipar.


"Baik kak. kita jalan sebentar!". ucap ipul.


"Hati-hati!. kalau ada apa-apa langsung kabari ke rumah". pasan kakak ipar.


"Baik kak!". jawab mereka.


.


"Abang... bangun bang!". ucap lely pada suaminya.


Ipul segera terbangun, karena pangilan istrinya di tengah malam.


"Kenapa sayang?!". tanya ipul duduk di samping istrinya.


Lely dan adiva tidur tidur di atas kasur. sementara dia tidur di kasur yang digelar di lantai.


Mereka takut Adiva kesempitan tidurnya. karena tempat tidur di kamar ini ukuran sedang.


"Sakit bang, sepertinya aku mau lahiran bang!" ucap lely meringis.


Ipul membantu istrinya duduk dan menjuntaikan kakinya. lalu ipul mengosok punggung istrinya.


"Sayang.. apa kita segera kerumah sakit?!". tanya ipul.


"Sepertinya iya bang, ssh... sakit bang". erang Lely.


"Apa tidak menganggu kalau kita bangunkan abang. baru setengah empat pagi!". ucap ipul.


"Abang telfon saja abang Zul". ucap lely.


Ipulpun mengambil ponsel istrinya. dan mengirim pesan saja kepada abang iparnya. setelah pesan terkirim, ipul me misscall sekali.


Dia takut menganggu abangnya. jadi dia mengirim pesan agar nanti melihat pesan saat melihat pangilan tidak terjawab.


Dalam pesan ipul mengatakan kalau lely sepertinya mau melahirkan.


Setelah mematikan pangilan, ipul membantu istrinya.


Agar saat abangnya datang, mereka sudah siap-siap.

__ADS_1


.


.


__ADS_2