
Subuh-subuh ipul bangun seperti biasa, dia melihat lely sudah bangun. Tapi hanya diam saja tidur telentang.
"Sayang, kamu sudah bangun ya?!". ucap ipul mendekat ke lely, lalu mengecup kening lely. " Selamat pagi sayang". ucap ipul.
Lely hanya memandang ipul, diam. Ipul mengerti, mungkin lely sedang mengingat-ingat, Seperti semalam.
"kamu mau sholat dulu atau mau mandi sekalian?!". tanya ipul.
Biasa lely mandi dulu, baru sholat subuh. Tapi sekarang lely diam saja.
"Sayang.. ada apa?! kamu kenapa?!" tanya ipul mendekati lely.
Lalu duduk di samping lely. Dia mengusap rambut lely kebelakang. Dan memeluk lely yang masih terdiam. Mengosok punggung lely, mengangkat dan memeluk lely.
"Sayang... kamu bicara sama abang. Ada apa?! apa kamu ada yang ingat?!". tanya ipul memandang lely yang kelihatan bingung.
Ipul masih menunggu jawaban yang akan lely ucapkan, tapi lely masih diam.
"Ya sudah, kamu mandi dulu yuk?!. Nanti telat subuhnya". ucap Ipul membopong lely ke kamar mandi.
Dan mendudukan di kursi plastik seperti biasa. Ipul menghidupkan mesin air panas, lalu memberikan sikat gigi untuk lely biar lely mengosok giginya, sementara dia mengambil handuk.
setelah mengosok giginya lely di mandikan oleh ipul dengan air panas. keramas seperti biasa.
Selesai mandi dan memakai baju handuk ipul mengulung rambut lely dengan handuk. ipul menyuruh lely berwudhu, dan kembali membopong lely ke kamar. Memasangkan baju lely. Baju panjang dan celana panjang.
lely hanya diam memandang ipul, ipul yang terus dipandang lely, selalu tersenyum pada lely. Agar lely tidak takut. Karena lely masih diam dan seperti bingung.
"Kamu duduk disini sebentar ya. Abang mau mandi dulu. setelah itu kita sholat subuh berjamaah". ucap ipul tersenyum memperbaiki handuk lely yang mengulung rambut lely.
Ipulpun buru-buru mandi dan berwudhu, dia tidak mau lely bosan menunggunya. Setelah mandi dan berpakaian ipul segera membentangkan sajadah buat sholat subuh berdua.
ipul melepas handuk yang di kepala lely, Lely di suruh ipul memasang mukenanya. Mereka sholat subuh berjamaah seperti biasa, yang berbeda hanya lely yang diam saja saat melakukan kebiasaan salam cium tangan dan kecup kening.
Selesai sholat ipul membantu lely menyisirkan rambutnya sampai rapi. Kemudian mengikat lemas di tengkuk lely.
"Abang mau bikin sarapan, kamu mau ikut kebawah atau menunggu di sini?!". tanya ipul.
"Ikut". jawab lely.
"Ayo!". jawab ipul " Digendong atau jalan?!". Tanya ipul. Lely merentangkan tangannya. Ipul membopong lely menuju kebawah, ke dapur.
Dia meletakan lely di kursi makan, dan memulai memasak sarapan. Ipul mengeluarkan nasi dari mejik com, dia akan memasak nasi goreng bawang, sedikit cabe. karena lely tidak suka pedas. Dan membuat telor ceplok dan telur dadar tipis. Juga mengoreng naget kesukaan lely. Sesekali dia melihat lely yang diam memperhatikannya.
__ADS_1
Selesai memasak nasi goreng ipul membuat kopi untuknya dan susu putih untuk istrinya. sambil menunggu nasi matang ipul membersihkan dapur, dan memeriksa kulkas. melihat balanjaannya kemaren apa sudah semua ditaro di kulkas dan masuk lemari.
Selesai memasak sarapan ipul membawa semuanya ke meja makan. lalu duduk di samping lely. Ipul makan sepiring berdua dengan lely, dia menyuapi lely dan untuknya sendiri. Ipul tidak bertanya makan sendiri atau di suapi. Sesekali memberikan minum putih. ipul melakukan agar lely nyaman saja seperti biasanya.
Selesai makan Ipul memberikan susu putih untuk lely, dan dia meminum kopi. Dia hanya tersenyum memandang lely yang masih diam membisu, tapi terus memandang ipul.
Selesai sarapan dan minum kopi, ipul membawa piring kotor ke tempat mencuci piring, dan mencucinya. Setelah selesai dia mengajak lely berjalan keruang menonton dan menghidupkan televisi.
Ipul mematikan lampu luar yang agak telat, karena sudah pukul setengah tujuh. Gordenpun baru akan di buka ipul. Dan mematikan semua lampu yang di hidupkan semalam.
Lalu dia duduk di samping lely dan merankulnya, mengecup kening lely sekilas sambil tersenyum, mengusap pipi lely dengan telapak tangannya.
Ipul tidak pergi bekerja, karena hari ini hari minggu. Dia libur tiap hari minggu. dan biasanya dia akan menemani lely seharian dirumah setiap hari minggu.
"Mau nonton apa kita?!". Tanya ipul memegang bahu lely yang bersandar di sofa, dan menariknya merapat kedadanya.
Lely masih diam dan terus melihat ke arah ipul. Ipul mengecup kening lely, lely yang menghadap kearahnya, dekat dengan wajahnya, karena ipul menarik lely mendekat ke tubuhnya.
Ipul tersenyum terus memandang lely yang diam dan bengong saja.
"Kepala kamu masih sakit tidak!?". tanya ipul mengusap kening lely dan memijit pelipis lely. Lely mengeleng kan kepalanya.
"Kalau kepalanya tidak sakit, kita jalan yuk, motoran, keliling- keliling saja. Cari angin". ajal Ipul.
Ipulpun merangkul lely kembali kepelukannya. Ada apa gerangan yang terjadi dengan istrinya ini. Kenapa dari bangun seperti bingung dan diam saja. Ipul mengosok pungung istrinya itu sambil berbisik.
"Sayang.. kamu mau cerita sama abang?! abang akan mendengarnya semua yang kamu ucapkan dan kamu rasakan. kamu jangan takut ya. Abang akan selalu ada di sampingmu". ucap ipul mengusap punggung lely dan menecup ubun- ubun istrinya itu.
Lely memeluk Ipul erat, dia terisak dan menangis. Ipul mengangkat istrinya ka atas pangkuannya. dan menyandarkan istrinya kedadanya. Dan mengosok punggung lely terus.
Ipul membiarkan istrinya itu nenangis sebentar, untuk melapas semua emosi yang terpendam. Biar nanti lega dan sesak didadanya lepas.
Lama Lely menangis di pelukan Ipul, ipul terus mengosok pungung lely agar nyaman, dan tenang.
"Kamu bisa cerita sama abang, mungkin abang bisa bantu kamu". ucap Ipul setelah lely berhenti menangis.
"Abang, aku.. aku ada mengingat sedikit tentang sekolah, aku pernah belajar, pernah kuliah. Aku juga ingat kalau aku jatuh dari motor, motorku sepertinya sengaja di tabrak. Karena aku sudah berhenti di tepi, tapi mobil itu malah menyerempet motorku. Hingga aku terpental ke trotoar.
Padahal mobil itu datang dari arah depan, berlawanan arah dari ku". ucap lely memeluk Ipul, seperti ketakutan.
Ipul terkejut, ternyata ustrinya sengaja di celakai seseorang. Apa dendam orang yang telah mencelakai istrinya itu. Dia akan mencari tahu, akan memawa masalah ini kejalur hukum.
"Abang akan diskusikan dengan Ayah dan ibu, kita akan mencari tahu. Apa tujuannya mencelakai kamu. siapa mereka?". ucap ipul memeluk istrinya itu.
__ADS_1
Lely hanya diam memeluk suaminya, dia sangat ketakutan. Mengapa ada orang yang ingin mencelakai dirinya. padahal dia merasa tidak punya musuh.
"Sayang... kamu sudah ingat semuanya?!". tanya ipul.
Lely mengeleng.
"Cuma tadi pagi saat bangun, aku merasa kepalaku sakit. Aku ingat sakitnya sama seperti aku jatuh dari motor, saat kepalaku terbentur di trotoar, sakit sekali..Dan kemudian gelap". jawab lely.
"Kamu ingat itu terjadi kapan?!" Tanya ipul.
"Saat aku pulang koas... Eh bang ini sudah jam berapa?!. aku koas masuk siang hari ini". Jawab lely bangun dari pelukan ipul.
Ipul juga berdiri memegang tangan istrinya.
"Sayang, kamu ingat sekarang ya, kejadian itu sudah lama. Mungkin hampir dua tahun yang lalu". ucap ipul memegang kedua tangan lely.
Lely terisak, dia menangis dan memeluk ipul. Ipul memeluk dan mengusap punggung lely.
"Terus kuliah lely bagai mana bang, kan lely ingin jadi dokter. Padahal lely hampir selesai koasnya. hampir lulus kuliah". ucap Lely terisak.
Ipul tahu, lely sedih karena kecelakaan itu membuat cita- citanya terhalang.
"Sayang... kalau kamu sudah ingat, kamu bisa melanjutkan kuliah kamu dan menamatkan kuliah kamu, dan mencapai cita-cita kamu". ucap ipul membujuk lely.
"Bisa ya bang?!".
"Kita bicarakan dengan ayah, ayah pasti bisa memyelesaikannya. Kita akan kerumah ayah siang ini. Agar ayah tahu semuanya". bujuk ipul.
"Oh ya ... kamu tahu? Aku siapa kamu?!". tanya ipul, dia was- was. dengan kembalinya ingatan lely, apa lely melupakannya.
Lely mengelengkan kepalanya.
Deg.... Apa lely lupa dengan dia, suaminya sendiri?.
.
.
.
Like dan koment nya ottor tunggu ya...
🙏🙏
__ADS_1