Istriku Lely

Istriku Lely
Ini Istriku


__ADS_3

"Pul...". Pangil bu bet kepada ipul yang masih merangkul istrinya.


Ipul dan lely yang masih saling rangkul menjarakkan tubuh mereka. dan melihat kearah ibu Bet yang melotot kearah ipul dan lely.


"Ibu, kenalkan ini istriku. Namanya lely". ucap ipul menghadap kearah bu bet.


"Jadi karena menikahi dia kamu meninggalkan Mey!". ucap bu bet menunjuk lely dengan marah.


Lely memandang ibu bet itu lekat, dan kemudian memandang ipul.


"Sayang, ini ibunya Mey. Mey yang kemaren kita bertemu di kota provinsi. kamu ingatkan?!".


Lely mengangukkan kepalanya. karena dia sudah tahu cerita antara Ipul dan Mey.


"Ibu salah, aku telah lebih dahulu putus dari mey, Baru aku menikah dengan istriku". ucap ipul tegas.


"Bakhkan aku juga sudah memberi tahukan mey kalau aku menikah. dan mey juga sudah bertemu dengan Lely, istriku". jawab ipul sambil merangkul pundak lely.


"Aku tidak percaya, kamu yang telah selingkuh dari mey. kamu yang menduakan mey". ucap ibu bet marah. "Aku akan melaporkan kamu pada Mey dan ayahnya mey. biar kamu rasa". ucap ibu bet berlalu sambil marah.


Ipul dan lely menarik nafas, dan saling pandang.


"Jangan dimasukan hati ucapan ibu bet itu. Dia belum tahu yang sebenarnya terjadi". ucap ipul menarik lely dan merangkulnya, dan mengosok punggung lely.


Lely mengangguk sambil tersenyum.


"Apa sudah selesai urusannya?". tanya ipul memandang lely.


"Sudah, aku mulai koas hari senin, dan jadwal juga sudah dapat". ucap lely yang juga memandang ipul.


Mereka saling tersenyum, dan ipul mengusap puncak kepala lely yang memakai jelbab.


"Sekarang kita kemana lagi?!". tanya ipul mengambil tas yang lely bawa dan menyandang di pundaknya. Ipul tidak malu menyandang tas ransel lely, yang pasti adalah ransel cewek.


Dia mengajak lely berjalan di koridor taman menuju parkiran motor mereka. Ipul berjalan merangkul pundak lely.


"Kita keliling motoran yuk bang, cari makan, atau sekedar keliling. Aku sudah lama tidak jalan- jalan". ucap lely.


Ipul melihat jam di pegelangan tangannya.


"Ayok, masih jam sebelas". ajak ipul.


Sesampai di parkiran ipul mengambil jaket lely dari dalam jok motor maticnya. lalu ipul juga memasangkan jaket pada lely.


Tidak lupa ipul memberikan sarung tangan rajutan berwarna pink pada jari tangan lely. sarung tangan itu masih baru.


"Dapat dari mana sarung tangannya bang?". tanya lely saat ipul memasangkan di tangan lely.


"Abang beli". jawab ipul yang juga memasangkan masker kain pada wajah lely.


"Kapan? apa Waktu masih sama mey?! jangan-jangan ini buat mey, tapi tidak jadi". lely menatap ipul menyelidiki.


"Jangan curiga. Ini abang beli kemaren saat kita di mall. sepulang dari kampus kamu. dan abang belinya empat buat kamu, beda warna". jawab ipul.

__ADS_1


dan memasangkan helm lely dan mengunci tali helm biar erat.


"Kok aku tidak tahu?". tanya lely.


"Kan kamu jalan duluan sama temanmu ke foodcourt. pas bayar dikasir aku lihat ada sarung tangan cantik, ya aku beli saja.


Sebab kita pasti akan sering naik motor. Saat mengantar kamu atau menjemput kamu koas. baik pagi atau malam. jadi aku kepikiran saja untuk belinya". balas ipul sambil memasang masker dan helmnya.


Lalu Mereka menaiki motor, dan keluar dari parkiran rumah sakit. Lely melingkarkan tangannya di perut ipul, tas ransel lely ipul sandang didepan tubuhnya.


Tidak jauh dari parkiran itu, bu bet tadi masih memperhatikan ipul dan istrinya, yang terlihat mesra.


Ibu bet sangat sedih dan marah bercampur aduk. kenapa tidak mey yang menjadi istrinya ipul. Bu bet sangat menyukai ipul, karena ipul sangat sopan dan sangat menyayangi orang tuanya.


Bu bet kenal ipul karena ada beberapa kali kerumah, untuk berkunjung saat mey masih kuliah, atau saat mereka dekat. Dia sangat senang saat tahu mey dekat dengan ipul.


Tapi kenapa ipul menikah duluan, tanpa dia tahu. bahkan mey pun tidak pernah cerita padanya. Apa yang terjadi sebenarnya pikir bu bet.


Ipul melajukan motornya kearah taman kota, yang tidak jauh dari rumah sakit.


"Makan dulu atau kemana?!". tanya ipul pada lely.


"Belum lapar bang, keliling kota saja, nanti kalau lapar kita berhenti dimana saja". ucap lely yang meletakan dagunya di bahu ipul.


"Ok!". jawab ipul.


Mengajak lely keliling motoran, kemana saja arah yang dia suka. Ipul membawa lely kearah pinggir kota saja, biar tidak ada macet.


Lalu ipul memberhentikan motornya di dekat sekolah itu. Dia memperhatikan selkelilingnya. Mana tahu dia bertemu adiknya, yang sudah tiga minggu tidak bertemu.


Semenjak ipul menikah, dia jarang bertemu adiknya, meskipun ipul sering mampir kerumah ibunya, tapi sering tidak bertemu dengan adiknya itu.


"Lihat siapa bang?!". tanya lely, ikut melihat kearah rumah sekolah itu.


"Sani, Adik abang, abang sudah tiga minggu tidak bertemu dengannya". jawab ipul masih melihat kearah sekolah.


"Mungkin masih dalam kelas bang, kan baru pukul setengah dua belas". ucap lely.


"Mungkin". jawab ipul.


"Ah ya bang, bagai mana kalau kita ketempat orang tua abang saja. Aku kan belum pernah bertemu ibu abang dan keluarga abang". ucap lely.


"Boleh, abang juga kangen ibu, sudah empat hari tidak mampir kerumah ibu". ucap ipul. " tapi abang WA Sani dulu, mana tahu dia sedang tidak belajar". ucap ipul mengeluarkan ponselnya.


Tidak lama seorang murid mendekati mereka. Ipul dan lely turun dari motor. membuka helem dan masker.


"Bang". ucapnya sambil menyalami ipul dan juga lely.


"Tidak belajar kamu". ucap ipul mengacak rambut adek bungsunya itu.


"Abang". ucap Sani memukul tangan ipul.


"Hahaha.. , rambutmu itu, bikin geli". ucap ipul kembali mengacak rambut adiknya yang di sisir rapi.

__ADS_1


"Kan rapi bang, pakai pamade, dari pada abang. pomadenya oli motor". ejek Sani.


"Ih, malah di ejek. kamu tidak belajar?!". tanya ipul.


"sedang belajar, tapi izin keluar sebentar. Abang ada apa cari aku?". tanya sani sambil melihat lely.


Sani tahu, kalau istri abangnya sakit, sedang amnesia. makanya dia hanya melihat saja tanpa berani menyapanya.


"Ooh kebetulan lewat saja, salamin lah kakak iparmu Lely". ucap ipul.


"Aku Sani kak, salam kenal". ucap sani menyodorkan tangannya.


"Kak lely". ucap lely menyambut salam adik iparnya.


"Lely sudah sembuh, tidak amnesia lagi dan sudah ingat semua". jelas ipul.


"Terus, dengan abang apa kak lely ingat tidak, kalau abang suaminya?. kan abang menikah saat kak lely amnesia. biasanya setiap yang amnesia akan melupakan kejadian saat dia amnesia". ucap Sani.


Puk...


Aduh...


Ipul memukul lengan Sani, sani pun mengaduh sakit dan kaget.


"Kamu menginginkan lely melupakan abang, sebagai suaminya?. jahat kamu San!". ucap ipul.


"Bukan begitu bang, tapi biasanya kan.... . Apa kak lely benar-benar melupakan abang suaminya?!". selidik Sani. "kasihan abangku". ucap sani tertawa


Lely ikut tertawa melihat perdebatan adik kakak itu.


"Sudah-sudah, tapi kita mau kerumah ibu". potong lely.


"Abang mau kerumah ibu, ibu pasti senang kalau abang datang bawa kak lely". ucap Sani semangat.


"Iya, kamu nanti pukul berapa pulangnya. nanti abang tunggu". ucap ipul.


"Pukul dua insha allah sudah di rumah". jawab Sani.


"Ok, abang tunggu. kamu belajar lagi sana". usir Ipul.


"Baik bang, mari kak lely, senang bertemu kakak. Kakak harus sabar menghadapi bang ipul ya. dia itu usil". ucap sani berlari masuk ke gerbang sekolah menuju ke kelasnya.


Lely hanya tersenyum saja mendengar ucapan Sani, adik suaminya Ipul.


.


.


.


.


Ipul

__ADS_1


__ADS_2