Istriku Lely

Istriku Lely
Kedatangan Orang Tua Mey


__ADS_3

"Sani yang belanja sayurnya bu?!". tanya lely pada mertuanya saat membersihkan buncis.


Sedangkan mertuanya sedang mengupas nangka muda, bahan untuk kuah lontong sayur untuk dagangan sarapan pagi besok.


"Tinggal jemput saja ke tempat langganan ibu dua hari sekali. semua sudah di siapkan oleh yang menjual.


Biasa ibu telfon apa saja yang ibu butuhkan pada mereka, mereka yang membelikan, dan Sani tinggal bayar ambil satu di tempat sayur, dan satu ke tempat daging. mengambil daging dan tulang buat sup". jawab ibu.


Lely mengangukan kepala tanda paham.


"Terus yang belanja isi warung ini siapa yang belanja bu?!". tanya lely.


"Semua kebutuhan warung yang sudah ada sales yang datang. tinggal ambil yang dibutuhkan.


Semua keperluan ada, banyak sales-sales yang datang. bahkan toko kelontong di pasar juga ada yang berjualan keliling, mengisi warung-warung". jawab ibu.


"Hanya mambeli sayur segar, bumbu dapur dan rempah dapur yang perlu di beli kepasar. Karena sayur dan bumbu dapur harus selalu segar". tambah ibu.


"Beras dan kelapa apa beli di pasar juga bu?!". tanya lely. karena dia melihat banyak kelapa di dapur belakang.


Diwarung ibu tidak menjual kalapa, dan hanya susunan karung beras yang terlihat dekat pintu masuk kedalam rumah.


"Kelapa dan beras juga ada yang mengantar. beras itu dari kampung yang terkenal dengan beras kwalitas baik. dan kelapa dari kabupaten pesisir pantai". jelas ibu mertua.


Sambil bekerja membersihkan sayur ibu tetap melayani pembeli. Bahjan Lely juga ikut membantu karena ibu sedang mengupas dan memotong nangka muda.


"Buk... beli sabun... . dan..". ucap salah seorang. sepertinya seorang mahasiswi, anak kos.


"Lely, kamu bantu ambil ya. di rak belakang. harganya ada di bagian bawah rak". ucap ibu mertua.


"Baik bu". ucap lely berdiri dan mengambilkan pesanan pembeli.


"Tambah beras nya satu kilo dan telur ayam tiga". ucap pembeli.


Lely membantu mangambilkan, menjumlahkan sambil sesekali bertanya harga yang dia tidak tahu ke ibu.


"Ibu kenapa tidak menjual bahan dapur bu?!. kan banyak yang butuh". tanya lely.


"Di depan sana ada warung khusus bahan dapur dan sayur. Dari cabe, bawang, ikan, ayam, santan dan lainnya. kalau ibu jualan bahan dapur dan sayur akan tambah sibuk.


Jualan sayur ramai belanja tiap pagi, sedangkan sarapan pagi juga ramai. tidak akan bisa melayani berbarengan. jadi ibu menjual yang kering saja". jelas ibu.


Lely paham, kan ibu sendiri yang jaga warung. anak-anak ibu akan membantu kalau sedang tidak pergi kuliah atau kesekolah.


Menjelang Ashar, pekerjaan mempersiapkan sayur untuk jualan sarapan pagi sudah beres.


Lontongnya pun sudah hampir masak. Karena tadi saat ibu membuka nangka muda langsung memasaknya.


"Lely. lihatlah suamimu ke kolam belakang, kamu belum menengoknya dari tadi. dia tidak akan berhenti jika tidak akan diingatkan". ucap ibu.


"Baik bu, lely lihat abang ke kolam". ucap lely.

__ADS_1


"Bawa minuman dingin dan....".


"Assalamualaikum...." ucap seseorang dari depan warung.


"Waalaikummsalam". jawab ibu dan lely bersamaan.


Ibu memandang lely, setelah tahu siapa yang datang. Lely yang tahu siapa wanita yang datang hanya tersenyum saja. Mereka hanya memandang lely.


"Bu, aku kebelakang dulu ya, mau melihat abang". ucap lely.


"Iya, jangan lupa bawa minum!". ucap ibu.


"Baik bu". jawab lely sambil mengambil gelas, dan membuat teh es buat suaminya di etalase makanan di warung Dan mengambil sebuah roti.


Lely mengangukkan kepalanya dan tersenyum sedikit kepada tamu ibu. Lalu dia pergi ke dalam rumah menuju ke kolam yang berada di halaman belakang.


Ada apa ya, orang tua si mey datang?. pikir lely. Ah mungkin mereka mau berbelanja. jaeab lely sendiri.


Lely sampai di halaman belakang, ternyata suaminya sudah selesai memancing ikan. malah suaminya sedang membersihkan ikan yang baru di pancingnya. Sambil duduk di balai-balai tempat duduk santai dihalaman belakang.


"Minum dulu bang". ucap lely memberikan gelas teh es pada ipul.


"Pegangin yang, tanganku belepotan darah ikan". ucap ipul.


lalu menyesap minuman yang gelasnya di pegang lely. Setelah ipul minum, lely meletakan gelas di tepi tempat duduk.


Ipul menyelesaikan mencuci ikannya, dan juga membersihkan tangannya.


"Lumayanlah". ucap ipul selesai mencuci ikan, dan menaronya di baskom.


"Sayang, kamu ambil buah jeruk lemon di ujung kolam itu dua!". ucap ipul.


"Ok..". ucap lely, melangkah kesudut kolam. mengambil buah jeruk lemon, yang berbuah lebat.


"Bang... aku ambil lebih jeruk lemonnya ya?!". teriak lely pada ipul yang berada di balai-balai seberang kolam.


"Ambil saja!". jawab ipul.


lely mengambil beberapa buah jeruk lemon. ada sekitar tujuh atau delapan buah jeruk lemon yang lely ambil.


Sehingga kedua tangan lely penuh, bahkan sampai kepegelangan tangan yang di kepit ke dada.


Ipul senyum saja melihatnya. kely meletakannya di atas balai-balai. Lalu ipul memberi ikan yang sudah di bersihkan tadi dengan perasan air jeruk lemon. dan garam yang sudah dia sediakan.


"Mau bikin apa bang?!". tanya lely melihat ipul.


"Sebagian di gulai, dan sebagian di goreng". jawab ipul. "ayok". ajak ipul setelah memberi ikan tadi asam dan garam.


Ipul membimbing lely menuju dapur. Lely mengiringi ipul. sambil berpegangan tangan.


Didapur ipul mengambil satu buah kelapa, dan membelahnya. Dia akan memarut kelapa dengan parutan mesin. karena di dapur ada tersedia parutan mesin, karena ibu tiap hari nemarut kelapa untuk gulai lontong sayur untuk dagangan sarapan pagi.

__ADS_1


"Sayang, kamu minta bumbu untuk gulai ikan pada ibu di warung!". suruh ipul pada lely.


"Hhm.. bang, di depan tadi ada orang tuanya mey datang. Aku tidak tahu, apa sekarang mereka masih ada". ucap lely.


"Oo.. biar saja, mungkin hanya berkunjung". ucap ipul.


Karena dia juga tidak tahu mengapa orang tua mey datang. tidak biasanya mereka datang ke warung ibu.


"Kita ambil sama-sama. yuk". ajak ipul setelah meletakan kelapa yang baru dia belah.


"Abang saja, aku kurang nyaman rasanya. mereka tadi ...".


"Ayo...". potong ipul menarik tangan lely menuju kedepan, kewarung ibu.


"Rahma.. aku kan tidak melarang anakmu dengan anakku dekat. Aku cuma minta ipul mencari kerja yang lebih baik jika mau jadi menantuku. Kamu tahukan, anakku yang sarjana tidak mungkin punya suami yang hanya pekerja bengkel.


Tapi kenapa malah anakmu itu menikah tanpa mau tahu perasaan anakku?!". terdengar ucapan ayah mey pada ibu ipul.


"Bang... aku tahu anakku cuma montir, pekerja bengkel. karena hanya itu keahliannya yang cuma lulusan stm. tapi kalau anakku menikah lebih dahulu dari mey. itu karena mey dan ipul tidak berjodoh.


Dan setahu saya ya bang, sebelum ipul menikah mereka itu sudah selesai. sudah putus. seperti yang abang katakan waktu itu. agar anakku meninggalkan mey.


makanya kami dan keluarga istri ipul sepakat untuk menjodohlan anak kami. dan mereka telah menikah". jelas ibu ipul.


"Tunggu... aku tidak mengerti ucapan kamu rahma. Apa maksud dari perkataan kamu kalau abang yang....".


Ipul dan lely masuk kewarung tanpa ingin menganggu ibunya berbicara.


Sesampai di warung ibu, ipul yang masih membimbing lely menuju tempat bumbu dapur, yang berada di dapur warung.


Ibu dan orang tua mey memandang kedatangan ipul dan lely yang berpegangan tangan. ipul hanya tersenyum dan menganggukkan kepala sebagai sapaan.


Ipul mengambilnya bumbu yang tersusun di rak dapur warung.


"Sayang, ambilkan mangkok untuk tempat bumbunya!". ucap ipul pelan pada lely.


Lely mengambil di rak dekat cuci piring di sebelah belakang.


"Cari apa pul?!". tanya ibu, melihat ipul yang sibuk mengambil sesuatu.


"Bumbu untuk gulai ikan bu". jawab ipul.


"Oo.. kamu mau bikin gulai. itu ada kacang panjang di kulkas, kalau kamu mau masuk kan kegulai". ucap ibu memberitahu.


"Hmm.. boleh. Sayang, Kamu ambil kacang panjangnya". ucap ipul pada lely.


"Pul..sebelum kamu masak. kita harus bicara dulu. biar tidak ada kesalah pahaman. ajak istrimu sekalian". ucap ibu "Ayo sini duduk sebentar!". perintah ibu lagi.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2