
Sudah hampir sebulan semenjak pulang seminar. Kegiatanku koas masih berjalan lancar.
Selain di ugd aku sering ikut di membantu dokter senior ahli bedah saat operasi.
Aku yang pulang koas malam tadi. Sepulang suamiku menjemput, pukul setengah dua belas aku mandi air hangat yang disiapkan suamiku, agar capekku hilang dan tidurku nyenyak.
Nyenyak memang tidurku beberapa jam. Saat suamiku selesai sholat malam pukul setengah empat.
Suamiku minta dikelonin.Hingga kami bermandi keringat menjelang waktu subuh.
Dan selesai mandi wajib kami subuh berjamaah, disambung mengaji sebentar.
Tapi saat mengaji, perutku seperti diaduk-aduk. Beberapa kali aku mencoba menutup mulutku. karena seperti mau muntah.
"Ada apa sayang?!". tanya suamiku. Saat melihat aku mengosok perutku dan menutup mulutku.
"Tidak tahu bang, mual rasanya. Mungkin aku masuk angin, karena sudah dua kali mandi dari tadi malam". jawabku masih terus mengosok perutku.
"Oo.. abang ambil minyak angin. Kamu tiduran dulu". ucapnya.
Sambil mengendongku ke tempat tidur, dan merebahkanku.
Suamiku mengosok minyak angin di perut, leher dan punggungku. Aku merasa nyaman, seperti mau tertidur saja.
"Apa sudah mendingan?!". tanya suamiku.
"Sudah bang". jawabku.
"Kamu tiduran saja, istirahat. Abang bikin sarapan dulu biar perutmu berisi". jawabnya masih menggosok perutku.
"Sayang, apa disini sudah ada ipul junior tidak?!. karena rasanya semenjak di provinsi S waktu seminar tiap hari abang nyicil membuat junior". ucap absurtnya.
Deg...
Iya ya.. bisa dikatakan tiap hari kami berhubungan, apalagi kalau hari aku libur koas. saat pulang makan siang dia selalu minta.
__ADS_1
Dan tamu bulananku rasanya belum datang. dan aku haid terakhir sebelum pergi seminar.
"Abang.. tamu bulananku rasanya terakhir datang sebelum aku pergi seminar bulan lalu!". ucapku.
"Berarti.....". Ucapnya tersenyum, masih mengelus terus perutku yang masih datar.
"Kita coba tes yuk bang". ucapku mau bangun.
Tapi dia menahannya.
"Abang gendong kekamar mandi ya!". ucapnya membopongku ke kamar mandi.
Suamiku mendudukan di bangku yang berada di kamar mandi. Dan mengambil beberapa tespack yang berada di laci meja yang berada di kamar.
"Banyaknya alat tes yang abang pakai?". tanyaku. karena membuka empat merek tespeck.
Dan masih ada satu alat lagi. yang capa pakainya langsung di letakan saat p****.
Dia hanya tersenyum saja, sambil menyingkap rokku. aku yang tidak pakai dalaman langsung menampung air s***ku di wadah yang diberikan suamiku.
"Coba kita tes". ucapnya membuka beberapa alat, dan meletakan tespeck itu pada wadah.
Setelah meletakan alat tes jewadag, Suamiku mennyuruh aku ceb***. dan mengeringkan pakai tisu. karena aku tidak pakai dalaman.
Kalu dia mengangkat tubuhku untuk duduk di meja keramik tempat wastafel berada.
Kami sama melihat empat alat yang berada dalam wadah. sudah mulai menampakkan garis yang nyata.
Suamiku mengeluarkan semua alat itu dari wadahnya, dan menyusun di atas meja. dan membuang wadah ke tempat sampah.
lalu memelukku yang duduk di atas meja keramik dengan erat.
"Alhamdulillah sayang. terimakasih sudah menampung bibit unggul abang. Ipul junior akan berkembang disini". ucapnya mengelus perutku. lalu menciumi perutku berurai air mata bahagia.
"Alhamdulillah..". jawabku juga menangis bahagia.
__ADS_1
Lely pov end.
"Sayang, sudah siap belum". pangil ipul pada istrinya. yang lama berada di kamar mandi.
"Sudah selesai bang!". ucap Lely.
Dan tidak lama lely keluar kamar mandi. Pagi ini lely akan berangkat koas. Kehamilan lely sudah memasuki enam bulan.
Ipul membimbing istrinya untuk bersiap-siap. Karena akan diantar ke rumah sakit daerah untuk koas.
Koas lely baru berjalan satu tahun. dan tinggal satu tahun lagi.
Sebenarnya ipul ingin istrinya cuti koas, dan dilanjutkan saat sudah melahirkan. tapi istrinya lekas lulus dan ingin segera mengambil spesialis.
Ipulpun akhirnya menyetujui, tapi jangan sampai kelelahan.
Padahal ipul yang harus dikasihani. karena dialah yang mengalami masa mengidam.
Mulai dari mual dan muntah setiap pagi, sampai menginginkan makanan yang aneh-aneh.
Istrinya tidak merasakan apa-apa, nafsu makannya yang bertambah. hingga tubun lely lebih berisi.
Selama istrinya hamil, ipul lebih sering tinggal dirumah orang tua ipul. Mereka menginap dirumahnya hanya ketika hari minggu saja.
Entah kenapa. lely ingin selalu menikmati masakan mertuanya. Hingga Ayah ipul membuatkan kamar mandi dikamar ipul. beberapa hari ipul dan istrinya menginap.
Ayah kasihan melihat menantunya yang hamil muda bolak-balik kekamar mandi belakang tengah malam. Dia tahu, dirumah menantunya kamar mandinya ada di dalam kamar.
Kamar ipul yang berada paling belakang, dan langsung menghadap kehalaman belakang. memudahkan untuk manambah ruang untuk kamar mandi.
Bahkan kamar mandi dibuatkan bagus dari kamar mandi rumah ini.
Ayah ipul ingin menantunya nyaman tinggal di rumahnya. Beliau ingin anak menantu hingga calon cucunya lebih sering tinggal bersama. walau ayah ipul tahu rumah menantunya bagus.
Fauzi dan Sani juga sangat senang dengan kehamilan kakak iparnya. mereka tidak sabar menanti kelahiran keponakan mereka.
__ADS_1